
Akan tetapi, semua baginya tidak akan pernah bisa sama. Kisah ini bermula beberapa tahun silam. Dimana ia masih menjadi manusia. Suara panggilan yang terdengar begitu familiar dari seorang pemuda dengan lambaian tangan yang membuatnya berlari kecil menaiki anak tangga.
"Lucifer. Cepatlah. Kita terlambat."
Lucifer berlari menaiki tangga. Ia menghampiri pemuda yang menjadi sahabatnya. Lalu keduanya berjalan menuju sebuah rumah yang akan menjadi tempat penelitian mereka berdua. Rumah itu cukup begitu tua, hingga terlihat hampir roboh, meski seperti itu. Mereka tak akan pernah mundur karena ini memang akan menjadi tugas terakhir.
"Azzam, apa ini benar rumahnya, tapi kenapa terlihat begitu sangat menyeramkan. Kamu tidak salah alamat 'kan?" tanya Lucifer dengan menatap setiap sudut dari sisi rumah yang memang sangat terlalu tua dan reyot.
Azzam mengambil secarik kertas yang tersimpan di saku kemejanya. Kemudian, membaca sekali lagi alamat yang tertera dan memang benar itu alamat yang ia cari. "Tidak, kok. Lihatlah ini memang alamatnya. Mungkin rumahnya memang tidak bisa dianggap layak, tapi coba kita datangi saja."
Ajakan pemuda itu hanya dijawab sebuah angkutan kepala, lalu keduanya berjalan menghampiri pintu rumah kayu dengan atap rumbai dari daun kelapa. Ketika ingin mengetuk pintu. Rasanya tak tega takut-takut, jika rumah itu malah justru roboh.
"Assalamualaikum, permisi apa ada orang?" Azzam berusaha untuk mencari cara lain, setidaknya ini mengantisipasi supaya tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, tapi seperti biasa.
Lucifer tidak akan pernah sabaran dan benar saja, pemuda itu memilih untuk mengetuk pintu. Akan tetapi, ia tak menggunakan perasaan. Pintu yang terlihat begitu rapuh terbuka dengan sendirinya setelah tangan Lucifer mengetuk empat kali. Mungkin pemilik rumah ada di dalam, tapi tidak bisa mendengar karena pintunya saja langsung terbuka.
__ADS_1
Azzam menahan pergerakan Lucifer untuk tidak bertindak gegabah, namun laki-laki itu selalu keras kepala. Sang teman sungguh sangat membuatnya kerepotan. "Kamu, tuh, mau apa? Ini rumah orang. Jangan bersikap seperti ini, kita harus menunggu pemilik rumahnya datang. Baru kita masuk, jika sudah dipersilahkan."
"Haduh, Kamu itu terlalu alim sekali, Zam.Ini memang rumah, tapi lihatlah rumahnya sekecil apa dan juga pintunya terbuka otomatis. Sudah pasti ada orang di dalam. Kenapa kamu begitu sangat khawatir? Buruan, kita masuk aja."
Mendengar semua itu, Azam hanya bisa menghela nafas seraya berdzikir di dalam hati. Dia tak pernah bisa untuk menangani sikap keras kepala dari Lucifer. Bagaimanapun ia mencoba. Nyatanya, pemuda itu akan selalu bersikap sesuka hati.
Untungnya ketika perdebatan keduanya masih belum mencapai final dan terhenti sesaat. Tiba-tiba ada seorang pria tua yang keluar dari rumah dengan senyuman tipis tetapi memiliki kumis yang lebat. "Maaf, siapa kalian dan ada perlu apa datang kemari?"
"Sebelumnya, saya minta maaf atas kelakuan teman saya. Kami datang kemari untuk melakukan riset dari kebun milik Bapak. Apakah kami bisa untuk melakukan itu, tentu jika bapak mengizinkan." Azzam berterus terang untuk meminta izin agar ia bisa melanjutkan tugas dari kampus.
Bapak itu manggut-manggut paham, lalu menutup pintu rumahnya. Kemudian berjalan melewati Azam dan juga Lucifer. "Ayo! Bapak akan antar kalian ke kebun. Bapak ingin kalian menjauhi beberapa tempat yang tidak bisa kalian kunjungi. Jangan salah paham, tapi ini sudah merupakan tradisi dari warisan leluhur."
Ketika ketiga orang itu sampai di persimpangan jalan yang ternyata adalah perbatasan antara rumah dan juga kebun. Tiba-tiba, si bapak yang berdiri di depan menghentikan langkahnya. Entah apa yang dilakukannya, tetapi samar-samar terdengar suara seperti lantunan atau senandung lagu.
Beberapa detik setelah menunggu. Si bapak kembali melanjutkan jalannya, lalu menjelaskan apa saja yang boleh dan tidak boleh kedua pemuda itu lakukan. Azzam mendengar dengan seksama dan juga mencatat poin-poin penting dari apa yang dijelaskan oleh pemilik kebun. Sementara Lucifer justru mengalihkan perhatiannya, ketika pemuda itu melihat sekelebat bayangan menuju ke arah lain dari sisi kebun.
__ADS_1
Sejenak Lucifer melupakan rasa penasaran dan melakukan tugasnya bersama Azzam, tapi ketika pemilik kebun pamitan untuk meninggalkan mereka berdua. Azzam fokus dengan tugasnya untuk meneliti kandungan tanah yang ada di kebun itu. Namun Lucifer mengatakan ingin pergi ke kamar kecil. Sayangnya pemuda itu hanya membuat alasan saja.
Pada akhirnya, sebuah peristiwa tak terduga menggemparkan seluruh desa. Ketika Lucifer mendekati arah sekelebat bayangan yang selalu menarik perhatiannya. Azzam sama sekali tak mengetahui apa yang terjadi, tetapi ketika suara petir menggelegar di atas langit, bahkan langit yang cerah tiba-tiba saja mendung.
Bukan hanya itu saja karena pemilik dari kebun itu berlari terbirit-birit menuju kebunnya. Satu pertanyaan yang membuat Azzam sungguh tercengang. Ketika bapak itu bertanya tentang keberadaan teman satunya. Azzam mengatakan dengan jujur, jika Lucifer tengah pergi ke kamar kecil, tapi si pemilik kebun sama sekali tidak percaya.
Apa yang terjadi di dalam kebun itu, membuat tubuh Azzam bergetar. Imannya masih belum cukup kuat ketika melihat Lucifer mengalami kerasukan. Ada satu hal yang membuatnya aneh. Yaitu tatapan mata sang teman terlihat begitu tajam dengan warna mata merah darah.
Semua ingatan masa lalu. Tepat di hari dia akhirnya kehilangan Lucifer yang ternyata menjadi pengikut setia sekte tertentu. Azzam kehilangan temannya ketika melakukan tugas kuliah. Hari itu, dia menyadari satu hal. Jika semua itu, akibat dari rasa penasaran Lucifer yang sungguh sangat terlalu besar.
Di hari yang sama. Setelah Lucifer tak bisa diselamatkan. Sang pemilik kebun memberikan ia sebuah kitab. Dimana kitab itu menjelaskan apa saja yang akan terjadi dan bagaimana cara mengatasinya. Sejak saat itulah, Azzam memilih untuk kembali ke pesantren dan tetap melanjutkan kuliah. Meski hanya mengikuti ujian terakhir saja dan sisa waktu digunakan untuk belajar begitu banyak ilmu.
Ilmu tentang makhluk gaib, sekte dan juga menambahkan keimanan agar bisa melewati gerbang cahaya. Azzam hanya ingin, dia bisa menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Apapun yang terjadi saat ini dan apa yang akan terjadi esok. Itu semua memang sudah takdir.
Sekali lagi, waktu membiarkan kedua teman itu saling berhadapan. Namun kali ini, keduanya memiliki raga yang berbeda dengan jiwa yang berbeda. Sebenarnya, hanya batu permata merah delima lah yang memiliki usia ratusan tahun.
__ADS_1
Akan tetapi, wadah dari pangeran iblis sendiri masih dalam hitungan beberapa tahun. Semua itu karena memang setiap beberapa ratus tahun wadah harus selalu berganti dan untuk melakukan semua itu adalah tugas dari Romo.
Azzam menuruni anak tangga terakhir. Lalu, ia mengulurkan tangannya menunjukkan sesuatu pada Lucifer, "Apa kamu ingat gelang ini? Aku tidak pernah melupakan janjiku dan hari ini aku ingin memenuhi janjiku. Apakah sekarang, kamu bisa melepaskan semua rasa dendammu itu? Lucifer temanku."