
Lucifer mencoba menajamkan pendengaran nya. Namun, apapun yang dia dengar beberapa detik lalu. Tiba-tiba sudah menghilang tanpa jejak. Pangeran iblis mencoba menggunakan kekuatannya untuk menemukan aura yang menarik perhatiannya. Akan tetapi, pelindung yang diberikan Azam jauh lebih kuat.
"Wagio Supardi bangkit kembali? Pria serakah dengan ambisi berdarah. Aku harus segera mengurungnya, lagi."
Betapa tidak diharapkan. Sang pelopor perjanjian yang memulai rangkaian persembahan. Hari ini kembali bangkit. Jika itu benar. Maka sudah jelas, Bella istrinya kembali ke dunia manusia dengan permata merah delima miliknya.
Lucifer menghilang dari kamar tirai hitam, membuat Diana menghela nafas begitu panjang seraya meminta maaf atas sikap kasarnya karena membungkam Abil tanpa permisi. Meskipun dia bertanggung jawab untuk melakukan tindakan spontan itu, demi eselamatan mereka berdua. Tetap saja, hati nuraninya berkata. Dia telah melukai seorang anak kecil.
Sementara itu, di bawah sana. Tepatnya di kamar Ibu Sulastri. Wagio Supardi mengais dinding tebal dengan kedua tangan yang memiliki kuku panjang nan tajam. Suara tawa yang terus menggema memberikan kekuatan tambahan, pria dengan tubuh polosnya itu dengan cepat bisa membuat lubang, hingga sekali sundulan kepala. Dinding yang baru itu terhempas menjadi jalan keluar.
Di depan matanya. Begitu banyak sisa persembahan yang jauh lebih baru. Kamar itu adalah tempat yang sejajar dengan ruang bawah tanah. Dimana Bella berada saat ini, tetapi rasa lapar yang terus mendera. Justru membuat Wagio Supardi melupakan kenyataan. Jika dia tak mengenakan apapun seperti bayi yang baru lahir.
__ADS_1
Jangan berimajinasi Wagio Supardi sebagai seorang manusia normal. Tubuh pria itu, seperti mayat hidup dengan gumpalan daging yang menumpuk di belakang punggung. Di sisi lain matanya selalu berputar kesana kemari seakan berlomba melawan arah.
Sedangkan Lucifer yang menghilang dari satu tempat ke tempat lain. Pangeran itu berusaha untuk menemukan sang dalang dari pelopor perjanjian, tetapi seperti hembusan angin dengan haluan berbeda. Aura keduanya sebelas dua belas, membuat makhluk tak kasat mata itu kebingungan sendiri. Namun, tidak dengan Ibu Sulastri.
Wanita paruh baya itu, akhirnya menemukan Bella yang tergeletak di lantai dengan tubuh diselimuti energi negatif. Bukan hanya itu saja karena suhu tubuh gadis itu justru sedingin es batu yang disimpan selama berbulan-bulan. Sontak saja, ditepuknya pipi yang terlihat begitu kurus tanpa daging.
"Tuan, Bella dalam keadaan tak sadarkan diri. Lihatlah. Gadis ini memiliki denyut jantung begitu lemah." Lapor Ibu Sulastri melalui telepati, tak perlu menunggu balasan karena pangeran iblis langsung merenggut tubuh gadis itu hingga menghilang dari hadapannya. "Grrrr, aku lupa dia siapa ….,"
Tubuh lemah dengan wajah pucat basi. Kulit yang berubah menjadi keriput, membuat Lucifer hampir tidak mengenali wajah istri manusianya. Bella yang imut dan cantik. Kini berubah menjadi wanita tua beruban, tubuh kurus kering kerontang. Sudah pasti, seluruh energinya terhisap oleh leluhurnya sendiri.
Tubuh gadisnya tidak akan pernah kembali. Jika tidak melakukan persembahan. Meski itu terjadi, dia tahu, jika Bella tidak akan melukai keluarganya sendiri hanya demi mengembalikan kecantikannya. Namun, resiko lain juga menjadi pertimbangan. Bisa saja, gadis itu menjadi incaran para makhluk dan juga para cenayang ilmu Hitam.
__ADS_1
Serba salah dan tidak memiliki keuntungan sedikitpun. Lucifer menyalurkan energi darinya sebanyak mungkin. Energi kematian yang mulai menyebar merasuk ke nadi sang istri, hingga tubuh Bella kejang-kejang. Pangeran itu teramat fokus, hingga tidak menyadari suara langkah kaki yang berjalan dengan suara kaki diseret dari belakang sana.
Senyuman menyeramkan dengan seringai gigi yang runcing dan tajam. Langkahnya terus ditarik secara paksa, gemeretak gigi dengan air liur yang menetes ke lantai. Tetap saja terabaikan, hingga jarak semakin terkikis. Di saat itulah, Lucifer mengedipkan mata, membuat makhluk malang yang menganggapnya sebagai mangsa terdiam membeku.
"Wagio Supardi. Kehidupanmu yang kedua. Pasti hati yang mati kembali bersorak gembira, tetapi kamu lupa. Disini hanya aku yang berkuasa. Tidak ada tempat, apalagi ruang yang tersisa bagimu. Kamu menghisap energi keturunanmu demi kembali menjadi manusia. Iya 'kan?"
Lucifer berbalik, lalu melesat. Kemudian berhenti tepat di depan Wagio Supardi. Tatapan mata begitu nyalang penuh amarah. Tanpa aba-aba, dihisapnya energi yang baru saja dikumpulkan sang makhluk tak bernama. Dimana pangeran iblis meregangkan telapak tangannya tepat di wajah si pria serakah.
Kabut putih dengan kilatan cahaya biru merangsek keluar. Suara tawa yang menggelegar berganti suara jeritan yang menusuk gendang telinga, bahkan lengkingannya bergema hingga keluar rumah. Suara itu, bersahutan dengan suara burung gagak yang terbang mengitari rumah itu.
Cahaya biru yang menembus telapak tangan Lucifer jatuh tepat ke atas tubuh Bella. Tubuh kering kerontang perlahan kembali berisi. Wajah yang pucat kembali memiliki rona kehidupan. Energi itu kembali ke raga yang seharusnya, membuat Wagio Supardi hanya bisa melolong kesakitan dengan tubuh yang panas membara. Tubuh itu seperti lilin yang menyala.
__ADS_1
Secara cepat, tubuh Wagio Supardi kembali menjadi seonggok daging yang melepuh dengan banyaknya hewan menggeliat hitam. Akhirnya, Lucifer mengembalikan wujud Bella kembali seperti semula. Namun, di saat bersamaa. Di kamar tirai hitam siluet cahaya putih menembus hingga keluar.
"Aura ini, miliknya. Tidak. Dia tidak boleh disini." ucap Lucifer seraya mengepalkan tangan menahan rasa yang sudah lama tidak pernah hadir.