Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 99: Lantunan Merdu, Pengorbanan


__ADS_3

Tiba-tiba, satu sambaran menghentikan lantunannya membuat Lucifer kembali sadar. Pangeran iblis merasa dipermainkan. Sontak saja, ia menerjang tubuh Azzam hingga keduanya berguling secara bersamaan. Berulang kali terkena benturan, membuat dua raga beda jiwa saling menyakiti.


"Ggggrrrrrhhhhh....,"


Kilatan cahaya merah darah yang keluar dari tubuh pangeran iblis membelenggu tubuh Azzam, hingga pria itu mulai merasakan cengkraman yang meremukkan seluruh tulangnya. Suara gemeretak tulang yang bergeser membuat Lucifer tersenyum puas, tetapi Azzam masih berusaha untuk melakukan perlawanan.


Posisi tubuhnya yang dibawah, seketika ditariknya tubuh Pangeran Iblis hingga mengubah posisi keduanya. Lalu, benang yang masih ia genggam diikatkan tepat ke salah satu lengan Lucifer. Benang yang menjadi pengingat kekuatan. Meskipun harus berulang kali terguling kembali. Akhirnya benang itu bisa mengurangi kebebasan yang dimiliki sang pangeran Iblis.



Suara jeritan memekakkan telinga menggema, pertarungan yang masih berlanjut itu membuat rumah ikut berguncang. Di saat keduanya sibuk saling menyerang dan bertahan. Bella kembali sadar, gadis itu mengerjapkan mata perlahan. Tubuhnya terasa seperti basah dengan hawa dingin menusuk.



Entah apa yang terjadi, tetapi rasanya begitu berat. Meski hanya ingin berusaha untuk bangun. Tubuhnya begitu kaku, apa yang terjadi padanya? Kenapa seperti patung yang hidup kembali. Di saat hawa dingin mulai menghilang, kesadarannya kembali lagi. Kini ia melihat pertarungan dua pria di depan sana.



Suami iblisnya yang terus-terusan melepaskan kilatan, hingga cambuk yang pernah ia lihat. Sekali lagi menampakkan wujudnya, sedangkan seorang pria yang pasti manusia. Terus saja melantunkan do'a, suaranya begitu merdu merasuk ke dalam kalbu.

__ADS_1



Perlahan, namun pasti. Bibirnya ikut bergerak melantunkan doa yang sama. Ayat suci Al-Quran yang selama ini jarang ia amalkan. Seketika hembusan angin berubah haluan. Suara Azzam mulai tenggelam berganti suara Bella yang mengaji. Sungguh sesaat, rasanya seperti berada di dalam pesantren.



"MasyaAllah," gumam Azzam di tengah pertempuran, pria itu tidak menunda mensyukuri ketika diberikan kesempatan untuk mendengar suara yang ternyata jauh lebih merdu darinya. Suara yang memberikan energi positif hingga ia bisa kembali merasakan tubuhnya baik-baik saja.



Perjuangan Azzam mengalah Pangeran Iblis mendapatkan dukungan Bella. Meski gadis itu masih tidak menyadari perbuatannya, sedangkan di alam gaib. Simbah kembali bertemu dengan Delisa serta Gael. Namun, mereka tidak tahu. Jika saat ini, Bella sudah kembali di dunia manusia.




Simbah tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya karena ini memang sudah menjadi tugasnya. Ada sesuatu yang harus dia lakukan. Kegagalan bukan hal biasa karena ini bisa menjadi bencana. "Aku tidak bisa pergi. Batu permata yang Delisa miliki. Bukan sebuah kebetulan. Sebenarnya ....,"


__ADS_1


"Sebenarnya apa?" tanya Delisa tidak sabar, jujur saja sejak dia tahu memiliki batu permata. Justru merasa menjadi incaran para makhluk dan yang tidak terpengaruh hanyalah kekasihnya Gael.



Aneh, tapi kenapa seperti itu? Jadi, ada apa dibalik permata itu? Apakah ada kisah yang tidak dia tahu selama ini? Gael mengusap lengan Delisa. Ia tahu, wanita itu begitu gundah gulana tentang takdir yang menjadi kehidupan rumit.


Simbah terlihat bingung ingin memulai dari mana. Sesuatu yang pasti akan menjadi akhir dari hubungan sepasang kekasih itu. Pengorbanan harus dilakukan, tapi bagaimana caranya menjelaskan semua itu. Namun, semua harus berakhir dan tidak mungkin mengakhiri segalanya, jika dua alam tidak melakukan pengorbanan.


Apa yang menjadi isi hati Simbah, Gael tahu dan hanya bisa tersenyum. Ia yang harus memulai semuanya, ini akan menjadi rasa sakit untuk Delisa, tetapi ini yang terbaik. Ditengah rasa penasaran dan kebingungan sang kekasih. Tiba-tiba saja, pria itu memukul tenguk leher kekasihnya, membuat wanita itu sempoyongan mencoba menoleh kebelakang.


Akan tetapi, Gael kembali melakukan serangan yang membuat tubuh Delisa ambruk menyentuh tanah yang tertutup rumput hijau. Tangannya terangkat mencoba untuk meminta bantuan, sungguh hatinya masih tidak percaya. Jika pria yang ia cintai bisa melukainya. "Sayaang ....,''


"Maafkan aku, tapi kamu harus tetap hidup. Demi masa depan mu, aku harus menjadi pengkhianat." Gael merunduk berjongkok di hadapan Delisa yang mulai menutup kelopak matanya. "Dia kembali karena permata, maka aku akan datang untuk mengambil hak ku."


Di sisa kesadarannya, Delisa merasakan sebuah hentakan. Dimana Gael yang menarik paksa kalungnya, jika sebelumnya sang kekasih tidak bisa mendekati permata itu. Namun, kali ini, ia bisa mengambil meskipun secara paksa. Di saat bersamaan Simbah melepaskan gelang yang selama ini dikenakannya. Lalu, diberikan pada Gael.


"Pergilah! Aku akan menjaga Delisa. Ini sulit, tapi cuma kamu yang bisa menghentikan Romo. Seluruh tipu muslihat akan mencapai batas pada malam ini. Malam purnama terakhir. Waktumu hanya dua jam, setelah itu. Permata akan berusaha membakar tubuh pemiliknya. Alam akan selalu menunjukkan jalan ketika kamu merasa tersesat. Lihatlah awan yang berubah arah."


Gael memejamkan mata, hatinya memberontak, tetapi ini akan menjadi perang untuk dirinya sendiri. Pertarungan tidak bisa dihindari. Namun, takdir akan tetap mengalir, jika bukan dia. Pasti ada yang lain menggantikan posisinya. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan emosinya saat ini karena yang tersisa hanya pengorbanan.

__ADS_1


"Kembalilah, ketika pintu itu terbuka. Sampaikan salam cinta ku pada Delisa. Aku tulus mencintainya, meskipun kami berbeda alam." pamit Gael, lalu memberikan kecupan kening terakhir sebagai perpisahan, pria itu tak lupa untuk mengusap wajah cantik sang kekasih. "Kehidupan mu harus lebih baik setelah ini, jika mungkin lupakan diriku dan temukan pasangan yang bisa menjadi sandaranmu."


__ADS_2