
Secara cepat, tubuh Wagio Supardi kembali menjadi seonggok daging yang melepuh dengan banyaknya hewan menggeliat hitam. Akhirnya, Lucifer mengembalikan wujud Bella kembali seperti semula. Namun, di saat bersamaa. Di kamar tirai hitam siluet cahaya putih menembus hingga keluar.
"Aura ini, miliknya. Tidak. Dia tidak boleh disini." ucap Lucifer seraya mengepalkan tangan menahan rasa yang sudah lama tidak pernah hadir.
Hembusan angin menyebarkan aura yang kuat, tetapi aura itu sangat bertentangan dengan aura milik Pangeran iblis. Aura energi positif yang memiliki kekuatan besar semakin meningkat, membuat Lucifer berbalik kembali mendekati Bella. Dimana kini, tubuh istri manusianya sudah kembali normal.
Gadis itu mulai membuka kelopak matanya, namun tiba-tiba ada tangan yang menutup matanya kembali. Aroma ini, aroma bunga melati yang sangat ia kenal. Ingatannya seakan kembali ketika tangan besar kekar itu bersentuhan dengan kulitnya.
Seketika seluruh tubuhnya terasa begitu kaku, namun ingatan masa lalu kembali hadir sekilas demi sekilas mulai tergambar begitu jelas. Seakan semua itu, terjadi baru saja. Bella berusaha untuk menggerakkan jemarinya, tetapi gagal. Ia tak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.
Kenapa aku tidak bisa bergerak? Apakah aku lumpuh. ~batin Bella berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan seluruh tubuhnya. Namun, rasanya sangat berat seperti seluruh tubuhnya terikat pada tempat ia berada.
Lucifer yang bisa membaca isi hati sang istri. Mulai mensejajarkan posisinya, lalu membisikkan sesuatu, "Ikuti setiap ucapanku. Jika kamu ingin kembali seperti sedia kala. Tetap pejamkan matamu, dan rasakan energi yang mengalir di dalam tubuhmu."
Gadis itu, tidak paham dengan apa maksud sang suami iblisnya, tetapi dia juga ingin kembali bisa bergerak. Maka ia mencoba kembali memejamkan mata tanpa harus dipaksa oleh Lucifer. Sayup-sayup terdengar suara gendang dari telinga. Suara itu semakin terdengar begitu jelas dengan nyanyian jawa yang sepertinya pernah ia dengar, meski ia lupa di mana dulu mendengar itu.
__ADS_1
Senandung itu semakin terdengar begitu merdu. Entah kenapa, ia merasa tertarik dengan suara itu hingga terdengar suara bisikan dari Lucifer. Bisikan beberapa mantra yang ia sendiri tak tahu apa artinya. Namun, bibirnya ikut bergerak mengikuti setiap kata demi kata yang perlahan mulai memberikan rasa panas dari ujung kakinya.
Seperti aliran listrik saja. Hawa panas itu semakin menjalar menyebar ke seluruh pori-pori tubuhnya. Bella bisa merasakan hawa dingin yang awalnya menyelimuti tubuh menghilang begitu saja, berganti rasa panas yang menyiksa. Hawa panas membara yang ia rasakan, seakan ada seseorang yang membakar tubuhnya.
Sungguh rasanya begitu menyiksa, hingga ia spontan berteriak. Namun, suaranya sama sekali tidak keluar. Entah apa yang terjadi karena ia bisa melihat, tapi tak bisa berbicara. Ia bisa mendengar, tapi tak bisa untuk menggerakkan apalagi mengendalikan tubuhnya. Apakah benar-benar semua yang terjadi ini nyata. Jika ia lumpuh?
Tidak peduli betapa tersiksanya sang istri. Lucifer terus-menerus membacakan mantra agar permata merah delima miliknya kembali meninggalkan raga itu. Raga manusia yang seharusnya tidak diizinkan untuk mendapatkan kekuatan sebesar itu. Iya memang hanya menjadikan Bella sebagai wadah sementara.
Mantra itu semakin terdengar begitu jelas, hingga menggema ke seluruh rumah. Di saat bersamaan, langkah kaki seseorang yang menaiki anak tangga mulai terdengar semakin mendekat. Aura keduanya mulai menampakkan ketidakseimbangan. Lucifer semakin tak sabar, ingin segera mendapatkan permata miliknya karena waktu yang ia miliki hanya tersisa hitungan detik.
Apapun yang ada di sekelilingnya termasuk suara seorang pria yang berdehem dari arah belakang Lucifer. "Sampai Kapan kamu akan melakukan semua ini? Pulanglah! Ini bukan alammu lagi, lalu untuk apa kamu kembali? Pulanglah ke alammu. Aku tahu, kamu bukan makhluk sejahat ini."
"Apakah dengan menjadikan manusia sebagai persembahan. Kamu bisa kembali untuk menjadi manusia seperti dulu? Jika semua ini, kamu lakukan karena masih memiliki urusan di dunia ini yang belum usai. Apakah ini akan menjadi jalan terbaik untuk masa depan dan juga masa lalumu? Aku rasa tidak, Lucifer." sambung orang itu berusaha menyadarkan pangeran iblis.
Lucifer sama sekali tidak peduli dengan apapun yang dibicarakan oleh orang di belakangnya. Ia hanya ingin permata merah delima itu kembali padanya. Dia tidak ingin mendengarkan, apalagi menerima nasihat itu. Bukankah selama ini, dia sudah menjadi makhluk tak kasat mata dan apapun yang ia lakukan, mungkin tidak akan mendapatkan penerimaan bagi para manusia.
__ADS_1
Namun, ia ingin menyelesaikan apa yang menjadi miliknya. Akhirnya mantra berakhir, sontak saja membuat Bella terjatuh tak sadarkan diri dengan sinar kemerahan yang tersorot dari kening gadis itu. Kilauan merah semerah darah dengan aura yang begitu kuat, tetapi aura itu sangatlah tidak baik karena memiliki aura negatif. Lucifer langsung mengambil batu merah delima. Lalu membenamkan tepat ke dalam jantungnya.
"Aku atau kamu, kita berdua sama. Kita memiliki masa lalu yang sama, tapi nasib kita lah yang tidak sama. Pernahkah kamu bertanya padaku sekali saja, kenapa aku kembali? Tidak." Lucifer berpaling, lalu menatap pria yang kini menatapnya dengan tatapan kasih sayang. Tidak, dia tidak terkecoh dengan tatapan itu karena dulu ia sangat membenci tatapan kasihan itu.
"Rupanya kebencianmu masih begitu dalam padaku. Apakah dengan menghadirkan orang lain, maka kamu bisa mendapatkan apa yang bukan menjadi milikmu? Lucifer, seandainya dunia berkata itu adalah milikmu. Maka, tak seorangpun akan menjadi milik orang lain termasuk itu aku." Balas pria itu berusaha untuk menjelaskan sebuah kesalahpahaman yang kini menjadi akar sebuah kebencian dan dendam.
Lucifer justru tertawa terbahak-bahak. Pangeran iblis sama sekali tak bisa merasakan apapun. Kasih sayang ataupun sebuah cinta, ia tak pernah berfikir akan mendapatkan itu. Baik selama hidup menjadi manusia ataupun ketika ia menjadi iblis. Kenyataannya, tidak satupun memberikan dia cinta selain tipu muslihat.
Pada saat waktu tidak menjadi apa yang diharapkan. Bagaimana ia akan mengambil yang seharusnya memang menjadi miliknya. Meskipun semua ini berawal dari Romo yang menginginkan dia untuk menjadi wadah batu permata merah delima. Tetap saja, satu tindakan itu merenggut segala yang dimiliki seorang Lucifer, di saat dulu masih menjadi manusia biasa.
"Apakah kamu pernah berada di posisiku? Sayangnya tidak karena kamu selalu mendapatkan semua yang kamu inginkan. Jangankan untuk mendapatkan cinta. Aku bahkan tidak bisa untuk mendapatkan perhatian dari ayahku sendiri." Lucifer membantah apa yang dikatakan oleh orang di depannya, bukan karena ia tak menyadari segalanya.
Akan tetapi, semua baginya tidak akan pernah bisa sama. Kisah ini bermula beberapa tahun silam. Dimana ia masih menjadi manusia. Suara panggilan yang terdengar begitu familiar dari seorang pemuda dengan lambaian tangan yang membuatnya berlari kecil menaiki anak tangga.
"Lucifer. Cepatlah. Kita terlambat."
__ADS_1