
Tatapan mata keduanya saling memandang satu sama lain. Tidak ada mantra ataupun kekuatan diantara keduanya. Tatapan mata murni dari manusia dan pangeran iblis.
"Katakan!" titah Lucifer.
"Izinkan aku kuliah."
Lucifer tersenyum. Bukan senyuman seperti biasanya. Ada sesuatu yang berbeda. Aura dingin dengan aroma melati yang semakin pekat, membuat Bella semakin menelan salivanya susah payah. Tatapan mata semakin menenggelamkan rasa yang menekan detak jantung remaja itu.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Bella merasakan rasa sesak yang menghantam dadanya, membuat cairan hangat mengalir dari sudut bibirnya.
Lucifer mengusap cairan merah dari bibir istrinya. Lalu menunjukkan tepat di depan mata Bella. "Lihatlah darah ini! Setiap kali niatmu benar, maka bukti akan terlihat nyata. Darahmu tidak akan berkhianat."
"Kuliah? Apa itu kuliah?" Lucifer bertanya untuk memahami apa yang akan dilakukan oleh istri manusianya.
"Kuliah itu menuntut ilmu, seperti belajar setiap hal baru." Jawab Bella berusaha menetralkan perasaannya.
__ADS_1
Lucifer berpikir sesaat. "Apa seperti disaat aku mencoba menyatukan angin dan api?"
Bella seakan mendapatkan kesempatan untuk meluluhkan hati sang suami goib. Ia melangkah ke samping dua langkah untuk mengambil sebuah buku dari atas meja. Kemudian, menggunakan buku bertuliskan Astrologi sebagai penutup wajahnya. "Ini namanya buku. Kuliah tempat belajar, sama seperti buku ini, tapi di sana ada yang mengajari kami. Apa kamu paham?"
Lucifer menjentikkan jarinya, membuat buku yang menjadi penghalang tersingkirkan begitu saja. Sontak mata Bella membulat sempurna. "Hilang kemana bukuku?"
Satu isyarat tangan Lucifer menghembuskan angin membawa tubuh Bella kembali mendekatinya. Pangeran iblis merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan. "Apa kamu sungguh-sungguh ingin kuliah?"
Bella mengangguk. Setidaknya selama sebulan lebih, ia mulai terbiasa dengan keajaiban atau sihir yang dimiliki suami gaibnya. Rasa heran, takut, tekanan dan cemas perlahan berubah menjadi rasa biasa. Meskipun terkadang masih harus beradaptasi disaat Lucifer datang dan menghilang sesuka hati.
"JADILAH ISTRI KU SEUTUHNYA DI MALAM BULAN PURNAMA KETIGA!" Lucifer menangkup dagu Bella agar mata remaja itu menatapnya. "TUNAIKAN KEWAJIBANMU! BERIKAN HAKKU!"
Secara tidak langsung iblis itu meminta dirinya melakukan malam pertama pernikahan. Bagaimana caranya melakukan itu? Sedetikpun ia tidak berpikir tentang memadu kasih. Apalagi melepaskan kehormatannya. Meskipun status seorang istri sudah melekat. Tetap saja tidak ada niat ke jenjang lebih jauh. Selama pernikahan hanya berusaha adaptasi dengan suami makhluk goib, dan tidak lebih dari itu.
Pemikiran Bella begitu jelas terbaca, membuat Lucifer menyeringai. Perlahan aroma melati memudar berganti aura kematian. Aroma anyir mengubah ekspresi sang istri yang langsung tertegun dengan wajah memucat. "Katakan? SETUJU ATAU TIDAK?!"
__ADS_1
Rasa sesak di dada bukan hanya semakin menyiksa. Seruan akan syarat yang diucapkan Lucifer jelas menjadi cambukan tersendiri. Bukan hanya itu, setiap kali aura kematian menyebar. Ingatan penyiksaan jiwa ibunya yang tertahan menambah rasa takut di hatinya. Namun, sekali lagi suara sendu dengan tatapan memelas penuh harapan sang ibu menjadi alasannya membuat keputusan yang tepat.
"Seee-tuuu-juu....," Jawab Bella terbata-bata.
"Berjanjilah atas nama jiwa ibumu!" pinta Lucifer.
Bella memejamkan matanya, lalu menarik nafas dalam. " Aku berjanji menunaikan kewajiban ku sebagai seorang istri di saat bulan purnama ketiga."
Lucifer mengedipkan mata sekali, membuat seluruh aura kematian hilang begitu saja berganti senyuman manis. Kemudian tangannya dilepaskan dari dagu Bella. Meskipun tatapan mata masih saling beradu. Tetap saja remaja itu dalam keadaan tertekan jiwanya.
"Aku izinkan kamu keluar dari rumah hanya untuk kuliah, tapi ingatlah janjimu! Dua bulan kurang, di malam purnama ketiga. Kamu memiliki tanggung jawab menjalankan kewajiban mu."
Kesepakatan antara suami istri itu, membuat Bella siap menjadi seorang mahasiswa. Tidak peduli dengan kehidupan esok. Apakah ia akan berhasil memenuhi janjinya? Ataukah justru mendapatkan pertolongan. Saat ini kebahagiaan sang ibu lebih utama dari apapun itu, termasuk kehormatan yang dia miliki.
"Pergilah bersihkan dirimu! Darahmu terlalu manis, jangan sampai aku tergoda." Lucifer melepaskan satu tangannya dari pinggang istri manusianya, sontak Bella berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
Selalu saja perubahan drastis terjadi. Setiap kali dalam tekanan, maka raganya tak sanggup melawan. Setelah lepas dari tekanan, raganya terasa ringan tanpa ada gangguan. Sungguh sadar, tidak sadar, percaya, tidak percaya. Kenyataannya suami gaibnya mampu mengendalikan apapun baik melalui pikiran ataupun tatapan mata.
Ibu, Bella siap melakukan apapun agar ibu tersenyum. Tenanglah, Bu. Sekarang semua akan seperti yang ibu inginkan. Aku sayang ibu. ~batin remaja itu dengan tubuh luruh ke bawah memeluk lututnya sendiri.