
Sholat isya berakhir dengan ucapan salam. Dilanjutkan doa keselamatan. Barulah, Azzam berbalik untuk melihat wajah istrinya yang terbalut mukena. Aura gadis itu semakin terpancar cerah. "Bella, apa kamu siap untuk melakukannya?"
Gadis itu menundukkan wajahnya, kedua tangan saling bertautan. Cantik, tetapi pucat. Melihat itu, Azzam tidak buru-buru. Tangannya terangkat mengusap kepala sang istri. Sejenak membiarkan perkenalan agar menetralisir perasaan yang berkecamuk di dalam hati keduanya.
Perlahan, tapi pasti do'a keselamatan dan dzikir terus dilantunkan dari dalam hatinya. Direngkuhnya dagu gadis itu hingga tatapan mereka saling bertemu. "Istriku adalah mahram untuk disentuh. Namun, tanpa izinmu. Aku tidak akan memulai apapun, Bella."
"Maafin, Bella, Mas. Insya Allah, Aku ridho dan ikhlas melakukan kewajiban seorang istri, tetapi ajarkan aku karena ....,"
Azzam meletakkan jemarinya di bibir Ara. Sebagai seorang pria dewasa, bukan berarti dia tahu tentang banyak hal romantis. Nyatanya selama ini, dia terhindar dari yang namanya pacaran, hingga ijab kabul terucap dari bibirnya.
"Tenang, Bella. Aku akan melakukannya dengan pelan. Pejamkan matamu!" Titah Azzam seraya mengusap tangannya membimbing sang istri memejamkan mata.
Bibirnya berlabuh memberikan kecupan sayang. Bermula dari kening, turun ke bawah. Kelopak mata berbulu lentik, sesaat menahan nafasnya. Mencoba memulai perjalanan panjang untuk mencapai ridho illahi. Peraduan yang semakin mendalam.
Pria itu melepaskan mukena yang menutupi mahkota sang istri. Rambut panjang yang indah dengan harum shampoo buah menyeruak memacu adrenaline. Sisi prianya bangkit, namun ia tetap memperlakukan Bella begitu lembut bahkan tanpa sadar keduanya sudah berpindah ke atas ranjang.
"Mas." Bella menahan tangan Azzam yang hendak melepaskan kancing kebaya nya. "Pelan, ya."
__ADS_1
Tatapan khawatir sang istri hanya dijawabnya dengan senyuman tulus seraya menganggukkan kepala. "Bismillahirrahmanirrahim."
Ketika sentuhan menyusuri jalanan mulus dan meninggalkan jejak merah. Azzam tiada henti terus melantunkan dzikir. Penyatuan itu menjadi pertarungan terakhir hingga menuju puncaknya. Dimana ia akan mempertemukan juniornya kepada rumah barunya.
Tiba-tiba hembusan angin menerpa menghantam, membuat jendela terbuka tutup. Aura negatif mulai memasuki kamar pengantin, tetapi Azzam masih tetap tenang. Direngkuhnya tubuh Bella hingga terbenam ke dalam dekapannya. Gadis itu memejamkan mata.
"Bismillahirrahmanirrahim." Azzam menghentakkan miliknya menerobos pintu rumah yang terasa begitu sempit dengan gerbang yang langsung terkoyak.
Malam yang pekat tanpa bulan dan bintang. Lampu-lampu berkelap-kelip ditemani terpaan badai yang menerjang. Suara pengajian para santri menggema memberikan perlawanan. Sementara Azzam terus melanjutkan malam pertamanya seraya menahan pecutan panas yang terasa membara membakar punggungnya.
Diantara iman, pengorbanan, tanggung jawab dan kepercayaan. Pria itu harus menyelesaikan malam pertamanya dan menerima hukuman alam. Pernikahan di antara Bella dan Lucifer telah menyatukan dua alam, tetapi penyatuan Bella dan Azzam menjadi akhir dari kedua alam.
Tanpa Bella sadari. Di setiap sentuhan lembut Azzam. Suaminya itu menerima banyak pecutan karma. Setiap perjanjian yang telah berlalu, menjadi rasa sakit yang tiada tara hingga penyatuan mencapai puncaknya.
__ADS_1
Terlepasnya benih kehidupan menghilangkan kesadaran pria itu yang langsung terkulai lemas. Bella hanya berpikir, jika Azzam kelelahan. Tetapi keduanya masih dalam posisi menyatu. Niat hati ingin melepaskan. Namun, pergerakan tertahan.
"Biarkan saja. Jika kita tidak menyatu. Dia akan kembali. Kemari, biarkan malam ini, kita menjadi satu raga." Bisikan Azzam menundukkan niat hati Bella.
Benar saja, angin mulai mereda. Penyatuan itu meninggalkan jejak cambuk di punggung Azzam. Pria yang kini merengkuh tubuh sang istri agar tetal dalam perlindungannya. Malam berlalu, berganti pagi hari. Suara satri yang melakukan tadarus berkumandang membangunkan pasutri itu.
"Mas, boleh lepaskan itu?" tanya Bella lirih menahan rasa malunya.
Azzam bangkit, tetapi pergerakannya salah hingga tak sengaja menerjang rumah baru sekali lagi, membuat Bella menggigit bibirnya sendiri. "Maaf, Aku akan melepaskan pelan-pelan."
Setengah jam kemudian. Bella keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah, tetapi cara jalannya aneh. Melihat itu, Azzam bergegas menggendong sang istri tanpa permisi. Tak lupa, dipakaikannya mukena bordir yang tersedia di kamar.
Keduanya melakukan sholat berjamaah. Sholat yang begitu khusyuk hingga tanpa sadar lantunan doa terakhir menjadi tangisan air mata haru. Siapa sangka. Kehidupan masa lalu dipenuhi rasa takut, tapi kehidupan saat ini dipenuhi keberkahan. Rasa syukur alhamdulillah terus terucap dari keduanya.
"Bella, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Azzam seraya berbalik menghadap istrinya, membuat netra gadis itu menatapnya dengan sorot mata kebahagiaan atau lebih tepatnya bersyukur.
__ADS_1
"InsyaAllah ini yang terbaik, Mas." Jawab Bella menyunggingkan senyuman terbaiknya yang langsung disambut usapan kepala sang suami.