
Gael manggut-manggut paham apa maksud dari sang kekasih. Percakapan keduanya masih berlanjut. Sementara di dunia lain. Sebuah berita terkini menggemparkan beredar menjadi perbincangan para makhluk gaib. Bisik-bisik seakan menjadi virus yang langsung mencapai telinga Romo.
"Kumpulkan semua rakyatku!" titah Romo dengan kepalan tangan menahan emosinya.
Sekejap mata aula kerajaan dipenuhi makhluk karena satu persatu dari setiap makhluk bermunculan untuk memenuhi undangan kilat sang leluhur penguasa kerajaan iblis. Pria yang duduk di samping tahta kosong masih menggenggam kedua tangannya dengan erat. Aura merah darah begitu pekat menjadi awan menutupi seluruh atap di atas sana. Suasana begitu mencekam, hingga hembusan angin menggerakkan pintu dan jendela yang langsung tertutup dengan bantingan keras.
Tidak ada yang berani bersuara, bahkan untuk menghirup udara pun. Mereka harus berpikir ribuan kali. Sosok raja yang selalu di segani. Kali ini nampak begitu murka. Sebagai sesama makhluk gaib. Sudah pasti dua puluh persen memahami apa yang tengah di rasakan pria di atas sana.
"Rakyatku tercinta. Apa kalian sudah bosan hidup damai di dalam istanaku? Apa begini cara kalian menjatuhkan kehormatan leluhur bangsa kita?" Romo bertanya dengan tatapan mata memindai seluruh rakyat makhluk gaib, "Majulah! Siapapun diantara kalian yang berniat menghancurkan kebanggaan ku."
Hening....
Tatapan mata saling memandang dengan menahan nafas dan suara. Kabut merah semakin menyebar ke seluruh penjuru aula. Amarah yang terpancar dari penguasa bukan lagi hanya menggerakkan raga tak berjiwa para makhluk gaib. Rasa takut kian melanda menyusup masuk ke pikiran seluruh rakyat. Namun, tiba-tiba saja sebuah cahaya melesat dari pintu utama dan berhenti tepat di depan kursi tahta raja.
Suara jentikan terdengar begitu jelas dan seketika kabur merah memudar menghilang tanpa meninggalkan jejak. Di saat bersamaan. Sosok dengan wujud tampan mulai menampakan diri. Sontak para rakyat langsung bersujud memberikan penghormatan pada pemilik tahta yang sah. Pangeran mahkota yaitu Pangeran Lucifer Bramasta.
"Lucifer, kamu pulang?" tanya Romo dengan bahagia langsung menghampiri putranya, pelukan seorang ayah yang menyimpan banyak kerinduan.
__ADS_1
Lucifer membalas pelukan ayahnya seraya memberikan usapan punggung agar pria paruh baya itu kembali tenang. Amarah yang luar biasa dari seorang Romo. Bisa saja mengubah keseimbangan alam gaib. Aura darah yang ia rasakan menarik ketidaknyamanannya di alam manusia.
"Romo, kendalikan amarahmu. Kemarahan tidak akan membuahkan hasil apapun," kata Lucifer dengan bisikan lembut, lalu melepaskan pelukan.
Pangeran yang selama ini selalu sibuk di dunia manusia. Hari ini muncul tanpa diminta, dan itu karena kemurkaan sang ayah. Sebagai pangeran mahkota tentu ia tahu semua yang terjadi di dunia alam lain. Perbedaan dimensi bukanlah alasan untuk menjadi buta tentang kehidupan dua dunia.
"Nak, Romo serahkan masalah ini padamu. Hukum siapapun yang bersalah! Jangan pernah berikan ampunan. Apapun alasannya, kehormatan leluhur kita sudah menjadi taruhan," kata Romo menggebu-gebu, membuat Lucifer menerbitkan smirk menakutkan.
"Romo, duduk saja. Cukup saksikan hukuman para makhluk pembangkang yang berani menyebarkan berita tidak benar di istana kita," Lucifer membimbing sang ayah kembali duduk di tempat semula, di saat bersamaan hanya dengan satu kedipan mata sulur hitam muncul dari atap aula.
"Saksikan hukuman untuk para pembangkang. Siapapun yang membantu mereka. Nasib kalian jauh lebih menyakitkan," seru Lucifer menatap sulur yang langsung menarik paksa tiga makhluk gaib dengan wujud berbeda-beda.
Satu makhluk berpenampilan serba putih dengan rambut panjang terikat sulur di sisi utara. Satu makhluk berpenampilan tinggi besar dengan kepala botak terikat sulur di sisi tengah dan satu makhluk terakhir adalah spesies langka. Dimana makhluk itu berwujud manusia normal, hanya telinga panjangnya yang seperti kelelawar terikat sulur di sisi selatan.
Ketiga makhluk terikat dengan posisi hampir menyentuh atap aula, membuat semua penghuni aula mendongak ke atas. Menyaksikan apa yang akan pangeran mereka lakukan. Apapun yang terjadi nanti. Bisa dipastikan tidak akan pernah terbayangkan.
"Seorang wanita dihargai dengan tutur manis yang mereka miliki. Hukuman untuk nyi lembut putih adalah lidahmu akan dipotong! Sebanyak apapun lidahmu kembali tumbuh, maka sebanyak itu pula kamu kehilangan lidahmu. Kutukan ku akan tetap berlangsung selama tujuh keturunan ku."
__ADS_1
Jduuaar!
Suara petir menggelegar diiringi kilatan cahaya dengan sekelebat pisau tajam. Benar saja benda hitam terbang, lalu terjatuh ke lantai. Sepotong lidah menjadi bukti kutukan pangeran iblis dimulai. Suara erangan kesakitan nyi lembut putih tak lagi terdengar jelas.
"Hukuman untuk genderuwo hutan yang selalu menyebarkan berita demi sesajen. Maka mulai detik ini, jiwamu akan dijadikan sesajen para makhluk gaib. Kamu akan hidup lagi dan lagi, tapi jiwamu akan tersiksa tanpa ada ampunan."
Jduuaar!
Suara petir, namun tidak ada kilatan. Justru cahaya biru keluar dari raga genderuwo hutan. Dimana aura makhluk itu terhisap secara brutal oleh beberapa makhluk gaib di bawahnya. Sehingga tubuh yang awalnya tinggi besar seketika menjadi tulang belulang.
"Tuan, ampuni hamba....,"
Cicit pelaku terakhir dengan rasa sakit serta ngilu melihat hasil kutukan pangeran iblis. Bagaimana tidak gemetar. Jika di depan mata kepala sendiri. Dua makhluk yang tergantung sejajar dengannya menerima hukuman begitu luar biasa.
Lucifer berbalik, lalu menduduki tahta kerajaan dengan ekspresi wajah tegas. Tatapan mata merah tanpa senyuman yang menenangkan. Satu kedipan mata menurunkan sulur terakhir. Dimana tersangka yang meminta pengampunan, kini berdiri di depannya.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Lucifer.
__ADS_1