Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 54: JANJI MANIS SI MBA KUN MERAH


__ADS_3

Penjelasan Gael masih berlanjut, sedangkan di dunia alam gaib. Sebuah pertemuan rahasia tengah berlangsung. Tatapan mata tajam, licik dan ambisius jelas terpancar dari para makhluk gaib yang ada di tempat tersembunyi itu, hingga sekelebat bayangan merah datang menghampiri. Kemudian duduk di sisa kursi yang tersedia.


"Jadi, apa keputusan kalian?"


Sesosok makhluk dengan wujud yang cukup mengerikan yang memiliki taring panjang berdiri, seraya menghempaskan batu yang ia duduki dan menatap wanita yang kini duduk di kursi pemimpin, "Arum, apa kamu tidak takut dengan Pangeran Lucifer?"


Sekelebat bayangan merah itu adalah Arum si kunti merah. Wanita itu, tak ingin mengabaikan permintaan para makhluk yang ingin menjadikannya sebagai salah satu ratu di kerajaan alam gaib. Sebenarnya, semua yang terjadi di dalam istana akhir-akhir ini adalah karena perbuatan yang ia rencanakan. Namun, tidak ada yang berani bertindak.


Semua sudah terencana dengan rapi dan tidak ada satu makhluk pun yang tahu. Jika dalang kerusuhan adalah dirinya semua itu dimainkan secara baik dan cantik, agar tak ada yang menuduh dirinya berbuat tidak baik.


"Jika, kalian memang tidak ingin membantuku. Tidak masalah, aku bisa melakukannya sendiri, tapi aku punya satu pertanyaan untuk kalian semua. Apakah kalian ingin, Pangeran pertama selalu di dunia manusia? Tidak. Pasti itu jawaban kalian. Jika iya, itu artinya, kita harus memiliki pemimpin baru. Pemimpin yang bisa tinggal di istana setiap waktu dan tentunya hanya akan terwujud. Setelah, aku menikah dengan pangeran kedua."


Para makhluk mengangguk setuju karena perkataan Arum benar juga. Apa yang dikatakan oleh wanita itu, memang ada bukti nyata. Dimana selama bertahun-tahun, bahkan hampir puluhan tahun. Sang pangeran pertama meninggalkan dunia alam gaib untuk menetap di dunia manusia. Hal itu, membuat Pangeran pertama seperti telah mengabaikan tanggung jawabnya.

__ADS_1


Jika kita telisik lagi. Sebenarnya Pangeran pertama tidak meninggalkan tanggung jawab karena ketika ada masalah apapun di dalam istana. Pangeran akan selalu setia, senantiasa datang dan menyelesaikan masalah para rakyatnya. Kini, apapun yang pernah dilakukan Sang pangeran pertama berubah seperti sebuah tirai. Tirai itu memang sengaja Arum tutupi, agar semua kebaikan Pangeran Lucifer tidak lagi dilihat.


Kini, tekad seorang Arum sudah sangat bulat. Makhluk itu ingin menguasai istana dan juga kerajaan makhluk gaib. Tidak ada lagi yang bisa menjadi penghalang karena sebentar lagi, akan tiba malam bulan purnama. Sementara pernikahannya akan segera dilangsungkan tepat di malam bulan purnama itu sendiri.


"Aku berjanji, setelah menikah dengan pangeran kedua. Aku dan Gael, akan berusaha menjadi pemimpin yang baik untuk melindungi kalian semua. Aku juga akan memberikan apapun yang kalian inginkan. Kalian bisa mengganggu para manusia atau keluar masuk dari kedua alam ini, tapi dengan catatan. Pastikan, kalian mendapatkan energi yang jauh lebih besar dari sebelumnya."


"Di sisi lain, aku juga akan memastikan, bahwa kerajaan kita akan semakin luas dan akan menjalin kerjasama dengan kerajaan dari alam lain. Kerajaan yang tidak bisa kita jangkau selama ini," Arum benar-benar memberikan pidato yang sangat luar biasa untuk membujuk rakyat, yang notabene rapat tersembunyi itu adalah dihadiri pemimpin setiap klan makhluk gaib.


"Apakah itu benar? Jika benar, apakah kita, juga akan bekerja sama dengan para makhluk gaib wilayah Sisi Barat?" tanya sesosok makhluk dengan kepala manusia dan tubuh ular pada Arum dengan nada yang cukup mengejek membuat si mba kun merah hanya tersenyum sinis.


Apa yang dilakukan Arum sudah direncanakan sedemikian rupa. Bahkan, ia tak memberikan kesempatan pada makhluk lain untuk menghinanya ataupun merendahkan dirinya. Rapat rahasia itu berakhir dengan persetujuan pemimpin setiap klan makhluk gaib. Di mana mereka akan memilih Arum dan mendukung apapun yang dilakukan si mba kun merah.


Satu persatu makhluk pergi meninggalkan tempat rahasia itu dan kini hanya tertinggal Arum seorang, "Pangeran Lucifer, kamu tidak akan pernah menang dariku. Jika kamu tidak bisa menerimaku, maka tidak seorangpun bisa memilikimu. Termasuk istri manusiamu, kerajaanmu ataupun adikmu dan juga Romo mu. Semua akan menjadi milikku, termasuk seluruh alam kerajaan makhluk gaib ini."

__ADS_1


Semua sumpah serapah yang Arum ucapkan mengalir melewati element dimensi waktu. Tanpa wanita itu sadari. Sosok yang ia sebut menyadari semua tipu muslihatnya. Hanya saja, Pangeran pertama sengaja diam, dan tidak bertindak apapun karena Pangeran tengah merancang sesuatu. Rencana yang jauh lebih besar. Serta tak ingin memberikan sebuah celah untuk Arum mengulangi apa yang tidak seharusnya, si kunti itu lakukan.


Kembali ke dunia manusia.


Diana kembali masuk ke kamar. Setelah kepergian Bella yang pulang kerumah. Gadis itu menatap keluar rumah melalui jendela kamarnya seraya berpikir. Apa yang akan ia lakukan setelah hari ini. Tiba-tiba saja, kakaknya menyusul dan membawa nampan air serta obat yang memang harus ia minum.


"Diana, kemarilah! Apa yang kamu lihat dari jendela?" tanya kak Ela dengan pelan seraya meletakkan nampan ke atas nakas.


"Tidak ada, Ka. Aku hanya sedikit berpikir. Apakah pertemanan kami, baik untuk Bella? Apakah aku bisa membantunya," Diana meninggalkan depan jendela, lalu berjalan menghampiri sang kakak yang ada di sisi kiri tempat tidur. "Kak, izinkan aku menolong temanku. Jika tidak bisa, apakah kakak tidak punya seorang teman yang bisa menolong Bella?"


Ella melihat adiknya begitu lekat. Iya tahu adiknya diambang dilema, "Kakak punya kenalan dan kenalan Kakak itu, seingatku memiliki seseorang yang bisa untuk dimintai tolong, tapi untuk itu... Kakak harus pergi ke luar kota dan saat ini, kakak tidak bisa meninggalkan kamu dan nenek seorang diri."


"Jika, Kakak tidak bisa meninggalkan aku dan nenek. Kita, bertiga, bisa pergi bersama. Bukankah, kakak sudah mengizinkan aku untuk tidak berangkat kuliah selama setengah bulan. Jadi, tidak ada salahnya, kita bepergian bersama. Bagaimana?" Diana memberikan saran yang cukup masuk akal.

__ADS_1


Jika menyetujui saran Diana. Maka tidak ada yang perlu dicemaskan lagi, begitu juga dengan gadis itu. Ia tidak membiarkan kakaknya cemas dan juga apa yang diinginkan bisa terwujud untuk membantu Bella temannya.


"Sekarang, minum obatmu dan kakak akan pikirkan. Apa keputusannya, nanti kakak beritahu. Kakak tidak mau karena masalah ini, kamu menjadi tambah sakit. Jika memang, kita harus menolong Bella. Kakak akan pikirkan apa yang terbaik," Jelas Ella, lalu memberikan obat dan juga segelas air putih pada adiknya.


__ADS_2