
Perjalanan yang harusnya singkat. Justru terasa begitu lama, hingga lantunan syair berganti ayat suci Al-Quran. Azzam tak membiarkan semua gangguan yang ia dapat, menjadi penghalang. Akhirnya setelah berjuang, dari kejauhan nampak deretan bambu kuning yang menjadi pagar sebuah rumah.
"Alhamdulillah, sampai juga."
Tanpa menunda, ia lekas turun dari motor. Lalu berjalan memasuki halaman rumah Simbah, tentu melangkahkan kaki kanan seraya mengucapkan basmalah. Ternyata di depan pintu sudah ada Diana yang menunggunya. Entah sejak kapan, satu yang pasti adalah wajah gadis itu begitu kelelahan. Seperti sudah berhari-hari tidak tidur.
"Assalamu'alaikum." Laungan salam dari Azzam seketika menyegarkan senyuman yang tersungging di bibir Diana.
Diana melebarkan pintu masuk, "Wa'alaikumsalam, Ka. Simbah dan yang lain sudah menunggu, mari masuk."
Azzam mengangguk paham, kemudian berjalan mengikuti langkah Diana yang ada di depannya. Rumah sederhana, tetapi rapi dan bersih. Sudah pasti semua telah dipersiapkan. Benar dugaan pria itu. Ketika masuk ke sebuah ruangan. Di dalam sana ada beberapa ustadz lain, meski ustadz yang usianya seumur Abi.
Simbah mengkode Diana agar membawa Bella ke ruangan ruqyah agar proses peruqyah-an segera bisa dilakukan. Tak menunggu lama, dua gadis memasuki ruangan. Tatapan mata istrinya terus tertuju padanya. Ia bisa melihat sorot mata rindu dan rasa sakit yang pasti begitu menyiksa batin.
"Nak, tolong dimulai. Sebelum matahari terbit, kita harus selesai dengan ruqyah agar bisa sholat berjamaah." ucap Simbah, mengembalikan fokus utama Azzam.
Dibantu Diana, Azzam memulai dengan basmalah. Alhamdulillah, ia adalah suami Bella sehingga tidak memerlukan perantara ketika melakukan proses ruqyah. Hembusan angin yang semribit, tak mengalihkan niat hatinya. Doa pertama mulai terdengar...,
AUDZU BILLAHI MINASY SYAITHONIR ROJIIM
Artinya: Aku berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dari setan yang terkutuk
"AUDZUBILLAHIS SAMI IL ALIM MINASY SYAITHONIRROJIM"
Artinya: Aku berlindung pada Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengetahui dari godaan Syetan yang terkutuk
ALLAHUMMA INNI AUDZUBIKA MINASYSYAITHA NIRRAJIMI MIN HAMZIHI WANAFKHIHI WANAFATSIH.
__ADS_1
Artinya: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya aku berlindung dengan Engkau dari syetan yang terkutuk dari gurisan-gurisannya, dari tiupan-tiupannya dan dari hembusan-hembusannya
Perlahan, tapi pasti Azzam terus melantunkan doa seraya menekan beberapa titik syaraf yang disukai para makhluk gaib. Ruqyah terus dilakukan, hingga bacaan doa memohon perlindungan dari gangguan para makhluk gaib terdengar lebih keras dari doa sebelumnya.
ALLAHUMMA INNAKA SALATTA ALAINA BIDZUNUBINA ADUWWAN BASHIRAN BI UYUBINA. YARAANAA HUWA WA QABIILUHU MIN HAITSU LAA NARAAHUM. FA AYYISHU MINNAA KAMAA AYYASTAHU MIN RAHMATIKA. WAQONNIT-HU MINNAA KAMAA QANATHTAHU MIN AFWIKA. WA BAAID BAINAKA WA BAINAHU KAMA BA'ADTA BAINAHU WA BAINA JANNATIKA. INNA ALA KULLI SYAIIN QADIIR.
Artinya : Ya Allah Engkau telah menguasakan kepada kami, seorang musuh yang jelas atas dosa yang telah kami lakukan. Mereka dan golongannya bisa melihat kami, sedangkan kami tidak bisa melihatnya. Pupuskanlah harapan mereka sebagaimana Engkau memutuskannya dari rahmat-Mu. Putuskanlah sebagaimana mereka menetapkan Anda memutuskannya dari ampunan-Mu. Jauhkanlah mereka dari kami sebagaimana Engkau menjauhkannya dari surga-Mu. Alhamdulillah Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Doa itu, ia panjatkan bukan tanpa alasan. Sejauh mata batinnya terbuka, begitu banyak para makhluk yang menginginkan sisa energi dari tubuh istrinya Bella. Maka, mereka memasrahkan diri dalam perlindungan yang Maha Esa. Ketika seseorang melakukan ruqyah, bukan berarti kemasukan jin. Terkadang ruqyah dilakukan, demi mendapatkan kesembuhan.
Satu jam lima belas menit kemudian.
Setelah proses ruqyah berakhir, dan Bella mandi keringat, bahkan mukena yang dikenakan gadis itu berantakan. Alhamdulillah, wajah bak mayat hidup. Kini kembali memiliki rona merah di pipi. Mata cekung, kembali terlihat normal. Perubahan itu memang sangat signifikan, namun semua itu karena proses ruqyah berhasil.
Tanpa permisi. Direngkuhnya tubuh Azzam. Perpisahan yang tidak diharapkan, justru memupuk rasa kerinduan. Hatinya hampa, meski suaminya selalu mencoba untuk adil memberi waktu pada ia dan sang putri. Usapan lembut di kepala dengan balasan tangan yang melingkar, membuat wanita itu bersyukur.
Sinar mentari pagi menghangatkan tubuh yang tengah sibuk bersiap untuk berjemur seraya bersenandung syair islami. Namun, samar-samar terdengar bisikan yang terus saja memanggil namanya. Ntah siapa, tapi suara itu semakin mendekat seakan ada disekitarnya. Sekali ia mencoba untuk menoleh ke sumber suara. Sayangnya suara itu lenyap tertelan hembusan angin.
"Najwa, Ndu kenapa disini sendirian? Mana Pak Kyai." Tegur Ibu Wiji menghampiri pewaris tunggal pondok pesantren yang duduk di ayunan taman tanpa ditemani orang dewasa. Padahal waktu masih begitu pagi, matahari saja baru menampakkan sinar keemasannya.
Najwa tersenyum meraih tangan Ibu Wiji. Menyalaminya sebagaimana mestinya, "Kakek masih di ruang buku, Bu. Wawa mau nunggu Bunda."
Jawaban Najwa begitu polos. Namun sebagai orang tua, hatinya ikut berdenyut. Bagaimana tidak? Usia gadis itu baru menginjak dua tahun lebih beberapa bulan, tapi sudah harus terpisah dengan sang Bunda yang mengalami penderitaan dunia. Semua penghuni pondok diminta untuk menyembunyikan kebenaran tentang Bella dari sang putri.
Harapan sederhana seorang anak hanya ingin kembali melihat wajah wanita yang telah melahirkannya. Apa boleh buat, takdir memberikan ujian yang tak mampu ditolak. Tiba-tiba terdengar suara deru motor memasuki halaman pondok pesantren. Suara yang familiar, membuat Najwa berlari menuju rumah utama.
Gadis itu mengabaikan panggilan Bu Wiji yang ikut berlari mengikutinya. Tatapan mata terus menatap ke depan. Benar saja, suara motor itu memang motor sang Abi. Apalagi melihat seseorang duduk di belakang ayahnya. Najwa bersorak gembira seraya melompat-lompat seperti kelinci kecil.
__ADS_1
"Bunda!" Panggilnya penuh semangat bersambut senyuman hangat yang dilontarkan Azzam, dihentikannya motor ditempat biasa. Lalu, ia membantu Bella untuk turun dari motor dengan menjadi sandaran tangan sang istri yang ada di pundaknya.
Suara Najwa yang dipenuhi kebahagiaan, membuat semua orang yang mendengar berlarian memenuhi halaman rumah utama pemilik pondok pesantren. Tatapan mata terharu, ketika melihat Najwa yang terus saja menciumi wajah Bella meluapkan rasa rindunya.
"Wawa kangen ama Bunda." Ucap Najwa sesekali hingga Bella tak bisa berbuat apa-apa karena putrinya memberikan begitu banyak cinta. Selain membalas pelukan menatap manik mata sang putri penuh sayang.
Ya Allah. BERKAHILAH keluarga kami, dan jauh kan dari mara bahaya. Semoga semua tetap menyebarkan cinta kasih kepada sesama manusia. ~kata batin Bella mendoakan yang terbaik untuk seluruh keluarga besarnya.
Akhirnya, keluarga kecil yang berselimut cinta islami menuju kebahagiaan sejati. Azzam kembali berkumpul bersama istri dan putrinya, sedangkan Abil dikirim ke Kairo untuk belajar menimba ilmu demi masa depan yang lebih baik. Walau begitu, kehidupan akan selalu memiliki suka duka.
Ketika satu rahasia terungkap, lalu berakhir. Maka kisah lain, dengan rahasia baru tengah berproses menuju pertemuan takdir. Bagaimana kehidupan Najwa Humaira selanjutnya? Apakah pernikahan Azzam dan Bella bahagia hingga maut memisahkan? Siapa dia, yang memiliki tangan bermandikan darah?
Kisah itu akan terbentuk sebagaimana mestinya, hingga takdir mempertemukan setiap cabang tak berujung.
Apa arti dari harta, dan kekuasaan? Ketika hati dan pikiran tak memiliki rasa damai, walau hanya sesaat.
Manusia boleh berharap, melambungkan asa setinggi langit. Namun ingatlah, takdir selalu menjadi garis kehidupan setiap hamba. Ketetapan yang tidak tertulis, tetapi nyata adanya.
Manusia boleh mengeluh, tapi bukan menyerah. Kepasrahan itu, ketika kita sudah berusaha yang terbaik dan semaksimal mungkin. Berdo'a, dan percaya pada ketetapan Allah. InsyaAllah, semua akan indah pada waktunya. Amiin.
.
.
.
.
__ADS_1
...🍃🍃💕🔚🙏🔚💕🍃🍃...