
"Abil bisa melihat mereka bukan?"
Abil hanya mengangguk. Kini, Diana memiliki solusi yang bisa membuat keduanya bekerja. Apakah akan berhasil atau tidak. Setidaknya sudah mencoba meski begitu, dia tak akan bertindak gegabah. Langkah awal yang harus dilakukan adalah menjadikan adik Bella sebagai bagian dari para makhluk. Bagaimana itu mungkin? Ketika raga anak itu masih bernyawa.
"Abil pegang bambu ini dulu," Diana menyerahkan bambu, lalu mengambil sisa kain yang tersimpan di saku celananya, kemudian merobek menjadi dua bagian. Tidak ada kata, sebagian dari kain digunakan untuk mengikat pergelangan tangan kanan Abil, "Sekarang, aroma manusia tersamarkan. Kain yang kakak ikat di tangan, tolong jangan sampai terlepas."
"Sekarang Abil bisa keluar dari ruangan ini, tapi tenang. Ka Diana, tidak akan membuat adik kakak sendiri dalam bahaya. Jadi, Abil bisa bawa bambu kuning di saat nanti melakukan permintaan kakak," jelas Diana tanpa menyembunyikan apapun dan Abil mengangguk, meski sebenarnya tidak begitu paham.
Mari kita tinggalkan sejenak diskusi yang dilakukan Diana dan Abil. Kita beralih ke alam gaib. Ibu Sulastri harus menahan nafas di saat perjalanan menuju istana menyusuri rumah para makhluk. Dimana di depan rumah-rumah memiliki pemandangan yang bercampur aduk. Sementara Simbah berjalan di depan sebagai pemandu agar tidak tersesat, dan Ela di belakang sebagai penjaga.
Ketika langkah demi langkah semakin meninggalkan rumah para makhluk. Tiba-tiba, hembusan angin dengan suara melengking menusuk gendang telinga berseliweran. Simbah mengangkat tangan kanannya memberikan isyarat agar mereka berhenti dan diam ditempat. Tak lupa isyarat jari telunjuk agar semua diam.
__ADS_1
Suara itu semakin riuh dan menusuk, bahkan sesuatu yang hangat mengalir dari dalam telinga KaCan. Jilbab yang dia kenakan menjadi basah, tapi wanita itu tidak bergeming atau merasa terganggu. Niat hatinya sudah bulat, hingga isyarat lima jari Simbah yang terangkat menuju angka tiga, dua dan satu. Seketika senyap tanpa hembusan angin.
"Langkahkan kaki ke samping kiri, sebanyak lima langkah dan tahan pandangan mata ke bawah! Pastikan, apapun yang menjadi rasa penasaran kalian. Jangan tergoda," Tegas Simbah menjelaskan.
Semua yang dijelaskan Simbah langsung dilakukan tanpa menunda waktu. Ketiga wanita itu, kini berdiri diatas rumput hijau dengan bercak hitam. Tidak peduli rasa jijik yang menyelimuti pikiran. Apapun akan dilakukan agar bisa bertahan hidup. Belum juga menundukkan mata. Suara gemuruh dari arah depan terdengar semakin mendekat.
Ntah angin, atau hal lain yang datang menuju mereka, tapi pandangan harus dijaga. Ibu Sulastri merasakan hawa dingin, tapi kali ini hanya tangan dan leher yang terasa seperti berendam di air es. Sangat dingin, sedangkan KaCan merasakan panas di sekujur tubuhnya. Simbah merapalkan mantra hanya untuk mengurangi efek dari gangguan para makhluk.
Beberapa waktu, membiarkan para makhluk melewati mereka. Namun, di saat melihat lebih jauh lagi. Ada yang bersembunyi di balik sebuah pohon dengan tangan menjepit hidung. Melihat itu, Simbah berniat untuk menghampirinya. Hanya saja, pawai masih belum berakhir dan tidak mungkin untuk meninggalkan Ela serta Ibu Sulastri.
Aku akan tanya, kenapa dia disini? Seharusnya bukan dia. Apakah sesuatu terjadi pada saudariku? Jika iya, kenapa aku tidak tahu? Sabar, tunggu kereta para makhluk berakhir. ~batin Simbah, wanita itu memejamkan mata dengan rapalan mantra lebih cepat dari sebelumnya.
__ADS_1
Suara yang berdentum seperti kembang api menghilang begitu saja. Ntah siapa yang membantu, tapi ada lantunan ayat suci Al-Quran bergema dari atas langit. Siapapun yang menghilangkan gangguan ketiga wanita itu. Dia pasti dikirim sebagai penyelamat. Simbah berbalik, lalu menatap Ibu Sulastri dan Ela secara bergantian.
"Kalian boleh buka mata," Ucap Simbah, membuat sang cucu dan Ibu Sulastri mendongakkan wajah, lalu pandangan mereka bertemu dengan netra sayu sang nenek, "Ela, kamu dengar suara lantunan ayat suci Al-Quran? Sekarang bawa Ibu Sulastri kembali ke rumah dengan mengikuti arahan suara itu, tapi ingat. Jangan menoleh kebelakang. Apapun yang terjadi, kalian hanya boleh berjalan ke depan dan jangan berhenti."
"Bagaimana dengan Simbah? Bagaimana juga dengan Bella putriku? Tidak mau, aku ingin menyelamatkan Bella." Ibu Sulastri menolak mentah-mentah.
KaCan semakin merasa geram karena meski usia Ibu Sulastri sudah berumur. Wanita itu, sangat susah dinasehati. Sekarang, dia tahu, darimana sifat keras kepala Bella. Ingin sekali memberikan ceramah, tapi takut durhaka. Apalagi sikap Simbah masih tetap sabar, dan semua itu hanya untuk memberikan contoh kesabaran pada sang cucu.
"Anakmu, bukan hanya Bella. Di sana ada Abil yang harus berjuang untuk bertahan hidup. Seorang ibu tidak akan membedakan kasih sayang. Disini, ibu hanya akan menjadi mangsa para makhluk dan Bella bisa tertekan. Jadi, pikirkan. Apa ibu mau menolong Abil di alam manusia atau menjadi salah satu penyebab. Seorang putri mengorbankan hidupnya, sekali lagi?"
Panjang kali lebar yang Simbah katakan menjadi cambukan tanpa wujud. Ntah kenapa, tapi memang benar. Jika dia hanya selalu menjadi alasan Bella berkorban. Jika keras kepalanya tidak mau berhenti. Apa yang akan terjadi nanti? Tidak mungkin hidupnya bisa tenang. Jika terjadi sesuatu pada putri tercintanya.
__ADS_1
"Aku memilih...,"