
"PERGI!" Bella tak mau kalah dari teriakan ibu yang gagal menjadi mertuanya.
Semua orang akhirnya pergi keluar dari rumah Bella. Namun, ibu Sulastri benar-benar tidak lagi memiliki sisa harapan. Penolakan putrinya, sekali lagi meruntuhkan semua mimpi yang ia rajut. Harapan untuk kebebasan masa depan gadis itu kandas.
"Ndu, duduk!"
"Bu, Bella ndak mau....,"
Ibu Sulastri menarik nafas seraya membimbing putrinya agar duduk. "Ibu tidak akan memarahimu. Kita duduk bersama selesaikan masalah ini dari hati ke hati."
Mendengar itu, Bella menurut dengan perasaan lebih baik. Yah, setidaknya sang ibu tidak akan lagi membicarakan tentang perjodohan. Kini kedua wanita beda usia duduk bersebelahan, ditemani Abil yang masih diam dengan kedua tangan saling bertaut.
"Apa Bella tahu? Kenapa ibu melakukan semua ini." tanya Ibu Sulastri menatap putrinya.
Bella menganggukkan kepala, membuat ibunya tersenyum kecut. "Bisa katakan! Apa Bella menolak karena....,"
__ADS_1
"Tidak! Bella melakukan semua ini demi ibu dan Abil." Jawab Bella menyela pernyataan sang ibu.
"Demi ibu, dan Abil? Ndu, lihatlah kami baik-baik saja. Apa yang kamu khawatirkan?" Ibu Sulastri mengusap kepala Bella agar putrinya mau membuka hati.
"Apa ibu melupakan kamar atas? Ibu, aku tidak akan membiarkan kalian terluka. Apapun itu syaratnya, aku siap berkorban." Bella menggenggam tangan ibunya yang ada di atas kepala. "Berjanjilah demi Bella, Ibu akan berhenti membuat DIA murka. Kumohon....,"
Ibu Sulastri menarik tangannya dari genggaman sang putri. Bagaimana bisa Bella meminta janji yang seberat itu? Jika menyetujui. Maka semua mimpi akan masa depan dan kebebasan sang putri pupus. Tidak! Semua itu tidak boleh terjadi, tapi sekarang bagaimana? Jika tetap melanjutkan, kemungkinan seluruh keluarga menanggung akibatnya.
"Bu! Bella mohon," pinta Bella menatap ibunya memelas dengan mata yang berkaca.
"Ndu, apa kamu tahu situasi saat ini? Penolakan yang berulang kali darimu, membuat orang-orang membicarakan keluarga kita." Ibu Sulastri berdiri menatap pintu yang masih terbuka lebar. "Ibu hanya ingin kamu menikah, memiliki keluarga normal dan bahagia."
"Ndu? Kamu dengar ibu 'kan?" panggil Ibu Sulastri menatap putrinya yang terdiam memikirkan sesuatu. "Ndu?"
"Eh, kenapa, Bu?" tanya balik gadis itu, membuat Ibu Sulastri kembali duduk di sebelah putrinya.
__ADS_1
"Kamu yang kenapa? Ibu bicara jelasin permasalahan, dan kamu justru melamun. Apa yang kamu pikirkan?" Ibu Sulastri menatap putrinya serius.
"Bella tidak mengerti. Kenapa ibu bilang *Penolakan berulang kali?*, bisa jelaskan apa maksudnya?" Ucap Bella yang bingung bagaimana mengutarakan isi pikirannya.
Pertanyaan Bella menyatukan kedua alis ibu Sulastri. Apa putrinya amnesia? Kenapa cepat sekali melupakan sebuah kejadian dalam hidup keluarganya. "Ndu, apa kamu lupa telah menolak lima pelamar dalam waktu kurang dari dua bulan terakhir?"
"Ibu pasti bercanda? Bella bahkan baru bertemu dengan rombongan hari ini. Lima lamaran? Apa ibu serius? Siapa keempat pelamar itu? Kenapa aku tidak pernah tahu." tanya Bella dengan santainya karena ia masih blum menyadari apapun.
"Jadi siapa yang menolak lamaran...,"
Abil melirik kesana kemari untuk memastikan keadaan aman. "Suami goib kakak."
Deg!
Kedua wanita beda usia saling pandang, lalu beralih menatap Abil secara bersamaan. Sebuah anggukan kepala dari anak kecil itu, benar-benar menghilangkan akal sehat Bella dan Ibu Sulastri.
__ADS_1
"Dee, bisa jelasin ke kakak?" pinta Bella dengan sisa keberaniannya.
"Semua pelamar sebelum hari ini, bukan Ka Bella yang menolak. Tetapi suami kakak." Jawab Abil.