
"JANGAN BAWA ADIKKU! PERGILAH! DUNIAMU BUKAN DI ALAM KAMI." Ucap wanita bercadar yang langsung membaca Ayat kursi dengan khusyuk.
Saat ia fokus mengusir roh jahat diluar sana, tiba-tiba ada yang menepuk bahu kanannya. Sontak dirinya berbalik, dan menghela nafas lega begitu melihat ternyata neneknya yang datang.
"Ndak perlu di usir, Ndu. Dewe'ne kae bakalan muleh dewe. Pager iku insyaAllah iso njogo awake dewe kabeh." Mbah Karti menasehati cucunya dengan bahasa Jawa.
(Tidak perlu di usir, Nak. Dia itu akan pulang sendiri. Pagar itu, insyaAllah bisa melindungi kita semua)
KaCan paham maksud neneknya. "Nggeh, Mbah. Ela berharap semoga Diana terlindungi dari marabahaya. Ameen."
"Ameen. Wes lek ndang sholat!" Mbah Karti tersenyum menampilkan deretan giginya yang masih utuh dengan warna sedikit merah karena sering mengunyah daun sirih.
"Ela udah sembahyang di mushola toko tadi. Mbah tunggu di meja makan saja, tak siapin makan siangnya." Ajak wanita bercadar itu menuntut neneknya untuk duduk di kursi meja makan.
Di saat bersamaan Diana menuruni anak tangga dengan penampilan santainya.
"KaCan, mana makan siangnya?" tanya gadis itu terburu-buru.
Ela menatapnya sedikit gemas. "Pelan-pelan kamu tuh turunnya! Jangan bikin merinding, kakak siapkan sebentar. Jaga simbah."
Diana mengacungkan jempol tanda sepakat. Meskipun ia di dalam rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Ntah kenapa perasaan gadis itu sedikit tidak tenang. Ia merasa tengah diawasi, tapi siapa yang mengawasi? Di dalam rumah hanya ada nenek dan kakak yang sibuk di dapur.
"Ndu, istighfar." ucap Mbah Karti menepuk tangan kanan cucunya agar tenang dan berhenti memikirkan semuanya.
Kebersamaan keluarga mbah Karti selalu diiringi pondasi agama yang kuat. Meskipun orang-orang mengira keluarganya keluarga kampungan. Tetap saja banyak orang dari luar daerah yang justru berkonsultasi dengan simbah. Indra keenam serta ilmu agama yang dimiliki simbah terkenal di luar wilayah pemukiman setempat.
Kehidupan masih berlangsung sebagaimana mestinya. Hingga beberapa hari berlalu tanpa ada hal istimewa, tapi tidak dengan hari ini. Kenapa? Setelah melewati hari lelah mengikuti pelajaran. Akhirnya hari libur yang dinanti telah tiba.
Tok!
__ADS_1
Tok!
Tok!
"De, jadi dianterin ke rumah teman gak, nih?" Ela memanggil Diana dari depan pintu kamar gadis yang sejak pagi tidak terdengar suaranya.
Ela melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul enam pagi. "Diana Saputri!"
Ceklek!
"Iya, KaCan. Sabar, aku baru selesai bersiap. Tunggu, ya." Diana kembali masuk ke kamar hanya untuk mengambil tas selempangnya, lalu kembali keluar dari kamar seraya menutup pintu. "Ayo, KaCan."
Melihat adiknya yang menggandeng tangan dengan tidak sabaran. Ia hanya mengikuti langkah Diana tanpa ingin mengeluh. Keduanya berjalan menuruni tangga, sesuai kesepakatan beberapa hari lalu. Hari ini akan ada pertemuan pertama dengan teman sekelas sang adik.
"Ndu, jangan lupa baca bismillah sebelum keluar dari rumah." Ucap Mbah Karti yang tiba-tiba saja nongol dari dapur membawa pisau di tangan kirinya.
"Mbah istirahat aja, nanti Ela yang beresin pekerjaan rumah setelah pulang." pinta wanita bercadar itu lembut, membuat simbah tersenyum menggelengkan kepalanya.
(Nenek masih kuat. Jangan khawatir, Nak. Sudah cepat berangkat, nanti kesiangan.)
"Pamit dulu, Mbah. Assalamu'alaikum." Ucap Diana dan Ela serempak.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Balas Mbah Karti membiarkan kedua cucunya meninggalkan rumah.
Kepergian kedua cucunya mengubah ekspresi wajah simbah. Wajah yang biasanya teduh dan tenang berganti menjadi serius dan sendu. Bibirnya komat-kamit membaca rentetan do'a. Aura yang siap menghadang di depan sana tengah ia coba hanguskan. Demi keselamatan sang cucu, maka doa tidak boleh terhenti walau sedetikpun.
Ya Allah, lindungi anak putuku loro saka setan sing nyasarake. ~ batin mbah Karti.
(Allah, lindungi kedua cucuku dari setan yang menyesatkan.)
__ADS_1
...----------------...
*1. Doa pengusir jin dan setan berikut merujuk dari kisah yang disampaikan Ibnu Mas'ud berdasarkan cerita Malaikat Jibril pada saat kedatangan sekelompok kaum jin yaitu Ifrit.
Saat itu Jibril sudah membacakan doa namun tidak membuat para jin jera, sampai akhirnya ia melantunkan ayat berikut dan kaum jin pun tersungkur.
أَعُوذُ بِوَجْهِ اللَّهِ الْكَرِيمِ، وَبِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلَا فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا. وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي الْأَرْضِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ طَوَارِقِ اللَّيْلِ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ.
A'udzu biwajhillahil karim, wabikalimatillahit-tammati lati la yujawizuhunna barrun wa fajrun, min syarri ma yanzilu minas-sama'i, wa min syarri ma ya'ruju fiha, wa min syarri ma dzara'a fil ardhi, wa min syarri ma yakhruju minha, wa min syarri fitanil laili wan nahari, wamin syarri thawariqil laili, wamin syarri kulli tharinin illa thariqan yathruqu bi khairin, ya rahman.
Artinya: "Aku berlindung dengan zat Allah yang Maha Mulia, dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, yang tidak ada orang baik dan juga orang durhaka yang melampauinya, dari keburukan yang turun dari langit dan keburukan apa pun yang naik ke langit."
"Dari keburukan apa saja yang masuk ke bumi dan keburukan apa saja yang keluar dari bumi dan keburukan fitnah-fitnah siang dan malam dari keburukan petaka-petaka malam dari keburukan setiap petaka yang datang, kecuali petaka yang datang membawa kebaikan, wahai zat yang Maha Penyayang."
Doa Pengusir Jin dan Setan dari Syekh Nawawi
Mengutip situs resmi Nahdlatul Ulama, Syekh Nawawi sebelumnya pernah menuliskan sebuah doa pengusir jin dan setan serta bisa dibaca ketika ada orang yang ingin melakukan kejahatan pada kita.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin'aniid wa dzi'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innnaka 'alaa kulli syai'in qadiir.
Artinya: "Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami."
"Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu*."
__ADS_1
...----------------...