
"Mbah, kedatangan saya kemari mau....," Ucap wanita itu tetapi dihentikan sang wanita bercadar dengan isyarat jari di depan bibir.
"Mrenea, lenggah," kata wanita bercadar yang biasa dipanggil simbah omah abang.
Wanita paruh baya itu menurut untuk duduk di depan si empu rumah. Sejak terakhir kali dirinya datang berkunjung. Baru kali ini ia memasuki rumah pintu merah. Dulu disaat masih berumur dua belas tahun. Pernah sekali dibawa ke tempat simbah omah abang oleng sang ibu. Setidaknya ingatan itu yang membuat langkah kaki menemukan titik terang mendapatkan harapan baru.
"Ndu, kamu kesini cuma mau tanya kunci kotak peti yang kamu bawa itu 'kan?" tanya wanita bercadar dengan menunjuk tas cangklek yang tersampir di bahu Sulastri.
Sulastri mengangguk, lalu bergegas membuka resleting tas. Kemudian mengambil kotak peti yang memiliki ukiran sulur akar dengan daun helai yang tersebar. Jika diperhatikan, maka setiap sulur hanya mengitari lubang kunci peti. Benar ia datang hanya untuk menanyakan keberadaan kunci peti itu karena yang ada di dalam ingatan. Empu omah abang adalah guru spiritual sang ibu dulu.
Kotak peti diletakkan ke atas meja. Lalu beralih ke tangan wanita bercadar yang meneliti keasliannya. Jaman sekarang hal mistis pun bisa ditiru hanya untuk menipu banyak orang. Yah, tentu saja orang-orang yang mau saja di bodohi. Sebut saja barang kw. Bukan hanya perhiasan yang bisa jadi imitasi, kotak antik seperti yang di bawa Sulastri pun bisa di sebar luaskan.
"Kotak Putri Kejawi. Ndu, kunci kotak iki mung siji." Wanita bercadar mengulurkan tangan kanannya menggenggam sepotong daun sirih utuh dengan rapalan mantra.
__ADS_1
Tiba-tiba saja hembusan angin datang menerpa, menggoyangkan tirai kesana kemari. Lilin-lilin menyala tanpa ada yang menyalakan. Lampu kelap kelip seakan terjadi korsleting listrik. Sayup-sayup terdengar suara. Suara bisikan yang berlomba mengatakan sesuatu memasuki gendang telinga, membuat Sulastri gemetar gelisah dengan tatapan mata waspada.
"Mbah!" panggil Sulastri berharap semua hal mistis yang tengah berdemo di rumah itu segera berhenti.
"Ssst! Ojo ngganggu," kata wanita bercadar kembali melanjutkan rapalan mantranya.
Rapalan mantra yang terdengar seperti gumaman. Disambut makhluk gaib dengan mengganggu Sulastri yang diam di tempat dengan wajah memucat serta keringat dingin. Bisikan halus dengan aroma anyir, dupa, bunga. Benar-benar membangkitkan bulu kuduk. Jangankan berkedip. Sekedar ingin bernafas tenang pun tak bisa di lakukan hingga wanita bercadar melepaskan genggaman tangan secara perlahan.
"Ndu, iki peti mu," Wanita bercadar menggeser kotak peti kembali ke Sulastri, "Kotak Putri Kejawi. Kunci kotak iki ono nang omahmu. Mbah mung iso mbantu mbukak segel, kowe dewe sek kudu nggoleki kuncine."
("Nak, ini kotak mu," Wanita bercadar menggeser kotak peti kembali ke Sulastri, "Kunci kotak ini ada di rumahmu. Nenek hanya bisa membantu membuka segel, kamu harus menemukan kuncinya sendiri."
"Mbah, bagaimana dengan pangeran....,"
__ADS_1
Wanita bercadar menghela nafas berat. Arah pembicaraan Sulastri sudah keluar jalur. Bagaimana pun sebagai penolong, ia tak bisa mengabaikan kesulitan orang. Tanpa kata, selembar kain putih ia ambil dari kotak penyimpanan. Lalu menuliskan sesuatu sebelum akhirnya dilipat menjadi buntelan kecil seperti permen.
"Simpen iki, ngesuk nek wes titi mangsane. InsyaAllah ono sek mbantu keluargamu. Lek ndang mulih, Nduk. Ojo metu kes omah mu," Wanita bercadar memberikan peringatan dengan tegas tanpa ada keraguan, membuat Sulastri mengangguk paham.
(Simpan ini, besok di saat tiba waktunya. InsyaAllah akan ada yang membantu keluargamu. Jangan keluar dari rumahmu.)
Pertemuan Sulastri dengan simbah omah abang berakhir dengan baik. Langkah wanita itu semakin tegap. Setelah mendapatkan secercah harapan baru. Ada bayangan masa depan sang putri akan baik-baik saja. Sementara itu, kepergian tamunya, membuat wanita bercadar melepaskan penutup wajahnya. Wajah cantik tanpa ada keriput sedikitpun.
Bukan hanya cadar yang ia lepaskan, tetapi juga pakaian hitam kebesaran yang menjadi profesinya sebagai paranormal. Langkah kakinya berjalan menuju kamar peristirahatan. Tangan menyibak tirai kelambu. Seketika sebuah ruangan bernuansa biru langit menyambutnya. Aroma bunga mawar segar benar-benar menyebarkan ketenangan. Wangi yang selalu dirindukan.
"Gael, kamu sudah datang?" tanya wanita itu merasakan sepasang tangan melingkar ke perut ramping nya.
Gael meniupkan hembusan nafasnya ke leher wanitanya, "Kenapa kamu tidak mau mendengarkan aku? Bukankah sudah ku peringatkan. Jangan mencampuri urusan pangeran iblis."
__ADS_1