
Segelas air putih dengan tutup merah diserahkan Susi, lalu dioper hingga berhenti di tangan Bella.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" tanya Diana lirih.
Bella yang mendengar tak ingin menjawabnya. Jika ingin menjelaskan pasti berujung pada pertanyaan baru. Hanya helaan nafas panjang yang bisa ia lakukan, sedangkan teman satu kelompok tak bisa mengatakan apapun. Pagar ilusi yang menjadi penghalang mata manusia biasa saat Diana kesurupan menjadikan peristiwa mistis itu hanya dua orang yang tahu.
"Bel, kamu kan sadar. Bisa cerita gak? Aku masih merasa penasaran....,"
"Terkadang lebih baik kita melupakan, tanpa mengingat apa yang sudah terjadi." Bella menyela ucapan Diana, disaat bersamaan panggilan untuk seluruh mahasiswa terdengar dari sisi lain perkemahan. "Ayo kita kumpul!"
Bella berdiri, lalu mengulurkan tangannya, dan langsung disambut Diana. Susi juga ikut bangun, ketiganya berjalan bersama. Begitu juga dengan mahasiswa lain yang ikut meninggalkan tenda masing-masing. Semua orang berkumpul di tengah lapangan. Dimana ada tumpukan kayu untuk api unggun nanti malam. Pak Ahmad yang bertugas menjadi pembina camping tahun ini sudah berdiri di sisi kanan tumpukan kayu dengan menggenggam selembar kertas, dan sebuah mikrofon di tangan kiri.
"Siang anak-anak. Ayo merapat! Bapak tunggu semuanya berkumpul." Ucap Pak Ahmad menggunakan mikrofon.
Hanya hitungan detik. Para mahasiswa beserta para dosen yang mengikuti acara perkemahan sudah merapat membentuk barisan rapi sesuai kelas masing-masing. Melihat itu, Pak Ahmad tersenyum puas. Meskipun wajah tegang semua orang masih tergambar jelas.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," Pak Ahmad mengucapkan salam dengan tatapan menelusuri setiap wajah para mahasiswa.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab serempak semuanya.
"Sebelum bapak bacakan tata tertib camping kali ini, ada yang ingin bapak sampaikan pada kalian semua. Bapak harap peristiwa yang baru saja kita lalui tidak menjadi rasa takut di hati kalian. Kita disini dengan niat baik, bapak harap acara camping tahun ini berjalan dengan lancar. Mari kita buka dengan membaca basmalah bersama."
"Bismillahirrahmanirrahim. Baiklah, sekarang akan bapak lanjutkan membaca tata tertib perkemahan periode 2022. Tata tertib bumi perkemahan Fakultas....,"
Penjelasan Pak Ahmad sangat runtun tanpa meninggalkan poin-poin terkecil sekalipun. Hanya dalam lima belas menit, akhirnya semua tata tertib dan sedikit ceramah selesai. Terlihat para mahasiswa mulai lelah berdiri di siang yang cukup panas meskipun semilir angin memberikan sedikit kesegaran.
"Bapak berikan waktu untuk kalian. Apa ada pertanyaan? Apapun yang tidak kalian pahami, silahkan tanyakan, dan bapak akan menjawab pertanyaan kalian." Ucap Pak Ahmad seraya menurunkan tangannya yang menggenggam selembar kertas.
"Sepertinya semua sudah paham. Baiklah, bapak tutup saja pembukaan camping dan kita lanjutkan sesi makan siang. Anak-anak, silahkan bubar dan kunjungi tenda makan di sebelah utara. Khusus siang ini para dosen sepakat memesan makanan dari penduduk setempat. Assalamu'alaikum." Jelas pak Ahmad mempersilahkan semua mahasiswa mendapatkan asupan nutrisi.
Kepergian para mahasiswa mengakhiri acara pembukaan. Pak Ahmad memilih menatap satu persatu tenda yang berdiri dengan pola melingkar seperti benteng. Ntah kenapa ada rasa ingin menghentikan perkemahan lebih cepat. Rasa khawatir tiba-tiba saja mendera. Ada sesuatu yang mengusiknya, tapi apa, dan kenapa?
"Assalamu'alaikum, Pak. Anda kenapa?" tanya seseorang yang baru saja keluar dari tenda seraya melepaskan peci dari kepalanya.
Pak Ahmad berbalik menatap siapa yang bertanya. Pria yang memancarkan aura positif dengan tatapan mata meneduhkan, rasanya sangat damai.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Pak Azam, maaf tadi saya mengganggu sholat....,"
Azam tersenyum tipis, "InsyaAllah saya tidak terganggu, Pak Ahmad melakukan tugas dan memikirkan semua orang yang kini menjadi tanggung jawab Anda."
"Alhamdulillah, mari kita makan siang Pak Azam." ajak pak Ahmad.
Azam mengulurkan tangannya mempersilahkan pak Ahmad terlebih dahulu. "Pak Ahmad lebih dulu,"
"Saya akan berkeliling sebentar. Permisi, Pak Ahmad." Azam memberikan alasan, membuat gurat pertanyaan di wajah pak Ahmad terjawab.
Keduanya berjalan dengan arah yang berbeda, langkah Azam diiringi lantunan dzikir. Baju koko yang ia kenakan semakin menambah kadar ketampanannya. Beberapa mahasiswi yang masih antri bahkan terpesona dari kejauhan. Tanpa pria itu sadari ada tatapan mata yang terdiam mengikuti setiap langkah nya.
"Apa kubilang, Pak Azam tampan bukan? Awas jangan naksir....,"
"Setampan apapun seorang pria. Aku tidak akan berpikir untuk memiliki." Jawab Bella, membuat Diana menautkan kedua alisnya.
"Apa kamu suka sesama jenis?"
__ADS_1