
Sang adik yang kini ada disisinya, tidak berhenti gemetaran tubuhnya. Meskipun bibir diam terkunci. Tetap saja sebagai seorang kakak, ia tidak tega. Apalagi, dirinya tidak tahu apa yang dialami oleh Diana. Namun, pertanyaan itu tidak mendapat jawaban dari neneknya. Justru, wanita paruh baya yang berjalan di depan menancapkan satu bambu di sisi kiri setapak setelah semak belukar berakhir.
Satu lagi bambu kedua juga ditancapkan di sisi kanan setapak. Ntah apa alasan sang nenek melakukan itu, tapi disaat bambu sudah berdiri tegak. Tiba-tiba saja, sebuah sorot lampu terlihat di depan sana. Yah, tidak salah lagi. Di depan ada sebuah rumah joglo dengan atap kerucut khas orang-orang pada zaman dulu. Apakah itu rumah teman neneknya? Jika iya, maka tidak perlu khawatir lagi.
Simbah melambaikan tangan tanpa menoleh kebelakang, membuat Ela membimbing Diana untuk berjalan kembali mengikuti nenek mereka. Disaat langkah kaki melewati garis sejajar kedua bambu kuning. Sensasi dingin menerkam tulang, benar-benar seperti memasuki kulkas sepuluh pintu. Sangat dingin, tapi ada yang aneh. Kenapa tubuh Diana tidak lagi bergetar hebat?
"Nduk! Cepatlah. Waktu kita tinggal sepuluh menit."
Ela tak bisa berpikir jernih. Semua menjadi tidak ia pahami. Awalnya, semua berjalan seperti arahan sang nenek. Hingga beberapa hal harus dilanggar dan juga menjadi kalau. Saat ini, tidak ada lagi yang ia tahu. Semua masih seperti kertas putih tanpa satu garis coretan pena. Satu hal pasti adalah simbah yang menjadi pemandu perjalanan kali ini.
Rumah joglo dengan pintu kayu jati berukiran wayang golek. Daun pintunya menyerupai kepala ular. Simbah yang sudah sampai di depan pintu masih terdiam menunggu kedua cucunya. Setelah memastikan Diana dan Ela ada dibelakangnya. Wanita paruh baya itu mengetuk dinding rumah, bukannya pintu. Ketukan pun bukan tiga kali, melainkan tujuh kali.
__ADS_1
Jika dipikirkan dengan logika, pasti itu aneh. Sejak kapan bertamu ke rumah orang mengetuk dinding rumah, kan harusnya mengetuk pintu yang pasti menimbulkan suara ketukan. Ela yang melihat setiap tindakan sang nenek, mencoba menahan diri agar tetap diam tanpa bertanya. Simbah pernah berkata, jika rumah keramat temannya itu tidak diperbolehkan menimbulkan kebisingan yang mengganggu para lelembut.
Satu, dua detik berlalu, pintu kayu perlahan terbuka. Namun, tidak ada orang yang membukakan pintu. Sorot lampu dari dalam rumah cukup begitu terang menyilaukan mata, membuat Ela harus menundukkan pandangannya. Sementara Diana, bisa melihat sesosok makhluk gaib dengan telinga terbalik, rambut keatas seperti landak, makhluk yang setengah badannya transparan.
Simbah tengah melakukan percakapan batin. Dimana ia meminta izin untuk bertemu majikan si makhluk gaib yang ada di depannya. Makhluk itu menjadi pelayan sang sahabat dan memang bertugas untuk membukakan pintu. Lalu, memberikan serangkaian pertanyaan pada para tamu yang kemungkinan besar bisa mengganggu semedi sang majikan.
Perdebatan sesaat, hingga akhirnya makhluk itu melebarkan pintu rumah. Kemudian, mempersilahkan masuk para tamunya ke dalam rumah. Simbah, menoleh ke belakang seraya mengulurkan tangan ke Diana, "Ndu, ayo! Ela, kamu tetap disini dan jangan khawatir. Wilayah ini aman, Nak. Simbah hanya bisa membawa adikmu saja."
"Berdo'a trus, Nduk. InsyaAllah, semua akan membaik. Ayo, Diana."
Kepergian Simbah bersama Diana yang memasuki rumah, dan makhluk itu langsung menutup pintu. Ela tertegun dan juga terkejut, tapi tidak bisa berkomentar apapun. Apapun yang dilakukan simbah, pasti memiliki alasan yang kuat. Terlebih ia masih ingat, sang nenek menegaskan untuk tidak bersikap gegabah apalagi menggunakan emosi. Kini, wanita bercadar itu memilih berdiri di depan rumah seraya melantunkan doa.
__ADS_1
Keheningan di luar rumah, tapi berbeda dengan keadaan di dalam rumah. Dimana, kini Diana duduk di tengah ruangan. Simbah berdiri di sudut, dan seorang pria dengan pakaian adat Jawa masih duduk bersimpuh di depan sesajen yang lengkap. Tampah besar dengan isian ingkung, bertabur kembang tujuh rupa, kemenyan, dan segelas kopi hitam pekat.
Satu tampah yang berukuran lebih kecil berisi sesajen darah ayam cemani, dupa menyala dan segelas air kembang tujuh rupa. Dua sesajen yang berbeda, membuat ruangan itu dipenuhi aroma yang menyengat. Rapalan mantra pria dengan kumis tebal itu, mulai terdengar sayup-sayup memenuhi gendang telinga. Simbah ikut merapalkan mantra, keduanya bekerja sama.
Proses pelepasan pita merah yang menutup mata Diana mulai dilakukan. Suara jeritan akan rasa sakit yang menyerang, membuat gadis itu terjatuh tak sadarkan diri. Tiba-tiba saja, tubuhnya kembali bangkit lagi. Inilah waktunya pelepasan. Disaat makhluk lain telah mengambil alih kuasa tubuh aura ungu. Kini, Simbah dan sang sahabat mulai mendekati sasaran mereka.
"Ki, iku pita tapak tilas perjanjian keluarga Wagio Supardi." kata Simbah.
Ki Wongso mengangguk paham, pria itu bisa mencium aroma sang pangeran iblis. Jelas saja, pita merah dengan tinta yang berbeda itu bisa mengatakan dari mana asal usulnya.
"Kowe sisih mburi! Aku sisih ngarep," Ki Wongso memberikan arahan, membuat Simbah berjalan ke belakang dimana ia akan menjadi penjaga cucunya dari belakang, "Siap?"
__ADS_1