Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 112: Part Special II


__ADS_3

Direngkuhnya tubuh kecil yang selalu bahagia dengan kesederhanaan. Sejenak membenamkan kecupan hangat yang bersandar ke kening sang putri. "Najwa Humaira. Bunda ...,"


Baru saja ingin mengatakan kondisi Bella saat ini. Namun, Abi datang tergopoh-gopoh dengan tangan menggenggam ponselnya. Pantas saja, perbincangannya bersama sang putri tidak terganggu. Orang ponselnya saja tidak ia bawa.


"Ada apa, Bi?" tanya Azzam mencoba tetap tenang, apalagi Najwa tengah duduk di pangkuannya.


Abi menyerahkan benda pipih itu ke anaknya, "Najwa, yuk ikut kakek. Ibu Lasih lagi buat kue kesukaan Wawa, loh."


"Holeee," seru Najwa menurut beralih menyambut uluran tangan sang kakek. "Abi, Wawa permisi, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, putrinya Abi." Sahut Azzam membiarkan ayahnya mengambil alih untuk menjaga Najwa. Lalu, ia melihat layar ponsel. Ternyata dari Simbah dan panggilan masih tersambung. "Katakan, sekarang bagaimana keadaan istriku?"


Suara penjelasan dari seberang disimak dengan baik. Tidak satupun terlewatkan, lantunan dzikir terus menerus menemaninya. Apa arti kesabaran? Ketika tidak bisa ikhlas. Ada yang mengatakan. Apakah sabarmu menjadi keikhlasan?


Setelah mendengarkan selama sepuluh menit. Ia mendongak menatap awan di atas sana. Bergelombang berarak dari utara ke selatan. Helaan nafas panjang dengan istighfar. Kehidupan tak pernah lupa akan cobaan.


Kelahiran Najwa Humaira menjadi kebahagiaan yang melengkapi keluarga kecil rumah tangganya, tetapi dibalik itu. Perubahan mulai terjadi. Awalnya semua baik-baik saja hingga dia melihat tingkah aneh Bella, istrinya.


Wanita itu mulai bersikap aneh, bahkan beberapa kali melakukan hal diluar kewajaran. Setelah menelusuri, ternyata tubuh istrinya masih menyimpan sisa energi dari batu merah delima. Simbah yang bisa merasakan energi itu, mengatakan akan membantu.

__ADS_1


Namun dengan syarat, Bella akan tinggal di rumahnya. Energi itu harus dihilangkan agar tidak menjadi masalah di masa depan. Sudah hampir satu minggu, istrinya tidak tinggal di rumah. Najwa yang selalu bertanya, membuatnya bingung mau menjawab apa.


Kali ini, Simbah memberitahukan bahwa Bella harus melakukan ruqyah secara bertahap. Tentu untuk melakukan itu, maka Azzam sendirilah yang akan menjadi pemimpin ruqyah. Hanya saja, mereka harus menyiapkan tempat yang tepat agar energi batu merah delima tidak berpindah ke raga yang lain.


"Ya Allah, permudahkanlah urusan hamba-Mu ini. Ridhoilah ikhtiar yang kami lakukan. Berikanlah Najwa putri kami mendapatkan cinta kasih seorang ibu. Amiin."


Rasanya berat, untuk meluruskan sesuatu yang sudah bengkok. Namun, hasil akhir akan mengikuti jejak usahanya. Azzam beranjak dari tempatnya, ia ingin memberikan waktu untuk sang putri tercinta. Sebelum kembali meninggalkan pondok pesantren.


Para santri yang sibuk melakukan rutinitas seperti biasa, nampak mengangguk dan menebarkan senyuman salam. Langkah kaki yang terus menyusuri jalan setapak menuju sumber aroma harum yang menggoda. Apalagi jika bukan ke dapur umum.


Sayup-sayup terdengar suara Najwa yang terus bertanya ini dan itu, membuat orang-orang disekeliling anak itu kewalahan. Termasuk Abi yang sesekali menimpali celotehan sang cucu tercinta. Kedatangannya mengalihkan perhatian semua orang.


Tatapan mata tenang sang putra, tak mengubah sorot mata dukanya. Sebagai seorang ayah, dia paham benar bagaimana perasaan Azzam. Anak yang masih kecil, dan istri yang harus mendapatkan perawatan. Bukan hal mudah untuk mengendalikan emosi yang jungkir balik.


Dua hari berlalu. Hari ini, Azzam kembali meninggalkan rumahnya. Tentu setelah menitipkan Najwa Humaira pada ayahnya. Suara deru motor membelah jalanan persawahan di tengah malam buta. Pria itu membiarkan hembusan angin menyentuh mengusap kulit putih yang terbebas dari balutan benang.


Namun, perjalanan itu tak semudah seperti biasanya. Rasanya jalanan begitu panjang tiada ujung. Azzam melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Jarum pendek yang menunjuk ke arah tiga, dan jarum panjang menunjuk ke arah enam. Artinya pukul setengah empat pagi. Tetapi hawa yang dirasakan, kenapa seperti cuaca panas di siang hari?


Pasti ada yang tidak beres. Alih-alih panik, Azzam justru melantunkan syair islami yang dia ajarkan pada putrinya. Syair itu seperti ini....

__ADS_1


Di pintu rahmat-Mu aku berdiri


Mengharap rahmat serta kasih


Meski bergelimang debu dosa


Berharap kepada-Mu senantiasa


Kini kuingin kembali


Kepada-Mu wahai Rabbul Izzati


Agar tentram selalu menaungi


Untuk sisa hidupku ini


Syair yang penuh makna. Memohon perlindungan kepada Yang Maha Esa. Seiring lantunan syair, aura yang menyesatkan melepaskan dirinya. Hawa panas mulai menguap mengudara, tetapi bukan hilang begitu saja. Sayup-sayup terdengar suara bising angin dengan jeritan tak menentu.


Perjalanan yang harusnya singkat. Justru terasa begitu lama, hingga lantunan syair berganti ayat suci Al-Quran. Azzam tak membiarkan semua gangguan yang ia dapat, menjadi penghalang. Akhirnya setelah berjuang, dari kejauhan nampak deretan bambu kuning yang menjadi pagar sebuah rumah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sampai juga."


__ADS_2