Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 34: MENJAGA PANDANGAN


__ADS_3

"Pak Ahmad, tolong bantu saya bagikan air putih ke anak-anak yang kesurupan. Saya permisi." Ucap Azam bergegas menghampiri tempat Bella berada.


Gadis yang mulai kehilangan kesadaran. Matanya semakin meredup dengan gumaman bibir tanpa suara.


"Bismillahirrahmanirrahim....,"


Satu jam kemudian. Tenda-tenda sudah didirikan. Camping kali ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Para dosen sudah sepakat akan mempersingkat waktu kemah menjadi dua malam tiga hari. Padahal seharusnya satu minggu full. Terlihat para mahasiswa sibuk saling membantu satu sama lain. Jangan berharap ada canda tawa karena semua wajah ditekuk.


"Pak, apa tidak sebaiknya kita cancel saja....,"


Pak Ahmad menatap dosen cantik yang berbicara padanya. "Gak bisa begitu, Bu. Dana yang dikeluarkan pasti mubazir. Semua sudah dipersiapkan, dan ada Mas Azam juga....,"


Suara langkah kaki berjalan semakin mendekat. Jarak yang hanya beberapa langkah, membuat pria itu mendengar dengan jelas ucapan Pak Ahmad.


"Sesungguhnya kita hanya boleh berharap, dan berlindung kepada Allah SWT. Jangan berharap pada sesama manusia, Pak Ahmad. Kita semua ini sama, hanya manusia biasa." Azam melewati Pak Ahmad dengan menenteng kayu ranting, sedangkan kedua dosen yang mendengar ucapan Azam saling pandang dengan tatapan mata malu.


Pria yang kini sibuk menata ranting untuk dijadikan pembakaran nanti malam benar-benar menyita perhatian semua mahasiswi. Beberapa diam-diam memotret, ada yang menatap terus menerus, ada juga yang salah tingkah. Seakan Azam akan memilih calon istri saja. Padahal ia hanya tengah membantu acara camping agar berjalan lancar.


Sosok itu masih enggan pergi. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mungkin, ini ada kaitannya dengan hari kebangkitan pangeran iblis?~batin Azam.


Area camping memang sudah ia pagari dengan ilmunya, tetapi makhluk yang masuk ke dalam tubuh salah satu mahasiswa dan hampir saja berhasil merenggut nyawa mahasiswa lain. Sudah pasti permasalahannya tidak sesederhana yang terlihat. Apalagi tatapan mata penuh kebencian dan amarah. Tunggu dulu, kenapa seperti tidak asing dengan makhluk gaib tadi?


"Assalamu'alaikum, Pak....,"


Tanpa menoleh ke belakang Azam membalas salam, "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Pak, saya mau memberikan ini sebagai ucapan terimakasih." Ucap dari belakang dengan mengulurkan tangan yang menggenggam sebuah apel merah.


Suara lembut manis masih tak mampu mengalihkan masalah yang tengah ia pikirkan. Namun, tak ingin mengurangi rasa hormatnya. Azam berdiri, lalu berbalik. Tetapi tatapan mata menunduk ke bawah. Tentu saja karena dari sejak berbalik ia melihat blazer biru tua yang menutupi celana jeans mahasiswi itu.

__ADS_1


"Ini untuk Anda, Pak? Maaf saya tidak tahu nama bapak." Ucap mahasiswa itu ikut menundukkan pandangan mata.


Azam mengulurkan tangan untuk menerima apel dari gadis di depannya. Keduanya terlihat canggung, tanpa saling menatap. Apel berpindah tangan.


"Terima kasih, tapi kenapa memberiku apel?" tanya Azam tak paham.


Kerjapan mata tak percaya Bella, lalu mendongakkan wajahnya. "Maaf, Pak. Anda saja tidak mau melihat saya. Bagaimana Anda akan mengerti maksud saya memberikan apel itu?"


"Astaghfirullah....,"


"Saya bukan setan. Permisi." Bella menghentakkan kaki berlalu dari hadapan Azam yang masih saja menundukkan pandangan, "Awas saja Diana. Sudah ku tolak, tetap saja memintaku untuk menemui dosen itu. Lagian, aku baru kali ini lihat dia. Apa dia sungguh dosen?"


Langkah kaki berjalan cepat kembali menghampiri tenda paling ujung. Dimana itu menjadi tenda kelompok satu yang beranggotakan empat orang. Disanalah ketiga rekannya menunggu setelah mengompori untuk mengucapkan terimakasih karena diselamatkan seorang dosen tampan. Dari kejauhan Diana menahan tawa. Hingga Bella berdiri di depannya dengan wajah kusut.


"Kamu kenapa, Bel?" tanya Diana santai.


"Bella! Dipanggil wajib jawab, loh." celetuk Diana menggoda temannya.


Lirikan mata sekilas, membuat Diana meringkuk, dan pelan menggelengkan kepala. "Jangan ngambek. Aku gak mau kejadian....,"


"Hus! Kalian ini mau mulai mancing, ya?" Susi nimbrung hanya untuk mengingatkan agar tidak membicarakan soal kesurupan yang baru saja terjadi, "Bella, diminum itu air putihnya dari Pak Azam. Jangan sampai gak, loh."


"Oh iya, hampir lupa soal itu, sini!" Diana mengulurkan tangan kanannya agar Susi memberikan gelas yang memang berdiam diri di sebelah Susi.


Segelas air putih dengan tutup merah diserahkan Susi, lalu dioper hingga berhenti di tangan Bella.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?"


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩ👉Ilmu Pengetahuan👈ΩΩΩ...


...*Menjaga Pandangan Dalam Islam...


‘Cuci mata’ merupakan istilah yang sangat familiar di masyarakat kita, terlebih di kalangan generasi muda, yang merupakan tren untuk menghibur diri, melepaskan beban pikiran dari segala bentuk persoalan kehidupan yang melanda, bahkan tidak jarang menjadi ajang untuk mencari jodoh bagi para bujangan. Tempat-tempat hiburan, pusat perbelanjaan, taman-taman kota, nampaknya menjadi tujuan orang-orang untuk menjalankan ‘tradisi’ tersebut, terutama di akhir pekan ataupun ketika liburan.


Secara psikologis, memang cuci mata ini dapat menyenangkan pikiran, menghibur hati yang galau, dan menyegarkan pandangan. Begitu banyak yang dapat dilihat dan dinikmati secara gratis, dari sarana dan fasilitas yang tersedia, hingga keramaian orang-orang yang lalu-lalang, laki-laki dan perempuan, anak-anak, remaja hingga dewasa, semuanya membaur menjadi satu tanpa mempedulikan penampilan satu dengan lainnya antara lawan jenis, apakah sesuai dengan etika agama ataukah tidak.


Tradisi ‘cuci mata’ inilah yang kemudian secara normatif, justru membuat pandangan mata menjadi tidak terkontrol, liar, bahkan memunculkan pikiran-pikiran negatif terhadap orang lain, yang seringkali juga menjadi pemicu munculnya tindakan-tindakan kriminal, asusila, dan yang melanggar norma-norma agama. Karena itulah, dalam Islam, ‘menjaga pandangan’, terutama terhadap lawan jenis, menjadi aturan agama yang sangat penting untuk diperhatikan dan diaplikasikan dalam kehidupan keseharian.


👉Perintah Menjaga Pandangan👈


Dalam ajaran Islam, perintah menjaga pandangan yang dimaksud adalah menundukkan pandangan (ghadhdhul bashar), yang diiringi dengan perintah memelihara kem@luan (hifzhul farj), sebagaimana yang termaktub dalam Q.S. al-Nur, ayat 30-31, yang artinya:


Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kem@luannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat (30). Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kem@luannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (31).


Menurut Yusuf al-Qardhawi dalam kitabnya al-Halal wal Haram, menyatakan bahwa dalam dua ayat ini ada beberapa hal. Dua di antaranya berlaku untuk laki-laki dan perempuan, yaitu menundukkan pandangan dan menjaga kem@luan, sedangkan yang lain khusus untuk perempuan. Kalau diperhatikan, dua ayat tersebut memerintahkan untuk menundukkan sebagian pandangan dengan menggunakan huruf mim, tetapi dalam hal menjaga kem@luan, Allah SWT. tidak menggunakannya, misalnya wa yahfazhu min furujihim [dan menjaga sebagian kem@luan], seperti halnya ‘menundukkan pandangan’ yang Allah SWT. masih memberi kelonggaran walaupun sedikit, guna mengurangi kesulitan dan melindungi kemaslahatan.


Lebih lanjut menurut al-Qardhawi, bahwa yang dimaksud dengan ‘menundukkan pandangan’ bukanlah berarti memejamkan mata dan menundukkan kepala ke tanah, karena merupakan hal yang sangat sulit bahkan tidak mungkin dilakukan. Hal ini sama dengan menundukkan suara seperti yang disebut dalam Q.S. Luqman, ayat 19, yaitu waghdhudh min shawtik [dan tundukkanlah sebagian suaramu]. Di sini tidak berarti kita harus membungkam mulut sehingga tidak dapat lagi berbicara. Dengan demikian, yang dimaksud dengan ‘menundukkan pandangan’ adalah menjaga pandangan, tidak dilepaskan/diarahkan begitu saja tanpa kendali [dengan syahwat], sehingga dapat memicu pelakunya, laki-laki atau perempuan untuk berpikiran dan bertindak asusila.


Hal yang senada juga diungkapkan oleh Ibnu ‘Abbas RA. yang menafsirkan bahwa yang dimaksud ghadhdhul bashar dalam kedua ayat tadi adalah menjaga pandangan [hifzhul ‘ayn] dari hal-hal yang diharamkan. Dalam hal ini, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, juga menambahkan bahwa pandangan mata hanya diarahkan kepada hal-hal yang diperbolehkan agama. Maka jikalau seseorang tidak sengaja melihat kepada sesuatu yang haram, hendaklah ia segera berpaling darinya, seperti hadis yang diriwayatkan Muslim dalam kitab Shahih-nya yang bersumber dari Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali RA., bahwa ketika beliau bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. tentang melihat kepada perempuan yang bukan muhrim [al-faj’ah], maka beliau menyuruhnya untuk memalingkan pandangan [dari perempuan] itu.


Lebih konkrit, al-Qardhawi menegaskan bahwa pandangan yang terjaga, adalah apabila memandang kepada lawan jenis, tidak mengamati secara intens keelokannya dan tidak lama menoleh kepadanya, serta tidak melekatkan pandangannya kepada sesuatu yang dilihatnya itu. Terkait dengan hal ini, disebutkan riwayat Ahmad dalam Musnad-nya yang bersumber dari Abu Hurairah RA. dijelaskan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Setiap keturunan Adam ada bagian yang dianggap sebagai zina; kedua mata dianggap berzina, dan zinanya adalah melihat [kepada yang haram]; kedua tangan dianggap berzina, dan zinanya adalah menyentuh [kepada yang haram]; kedua kaki dianggap berzina, dan zinanya adalah berjalan [ke tempat yang haram]; mulut dianggap berzina dianggap berzina, dan zinanya adalah mencium [kepada yang haram], sementara hati berkeinginan dan berkhayal [melakukan zina itu] dan kem@luan pun membenarkannya atau mengingkarinya”.


Dari hadis ini dapat terlihat jelas bahwa beberapa bagian dari manusia, seperti mata, tangan, kaki, dan mulut, dapat dianggap berzina -dalam arti konotatif- apabila dilakukan dengan syahwat, yang ditandai dengan keinginan dan khayalan dalam hati untuk berzina, sedangkan kem@luannya pun ‘bereaksi’ untuk membenarkan keinginan berzina itu atau mengingkarinya. Hal ini mengindikasikan bahwa pandangan yang bersyahwat bukan saja membahayakan kemurnian budi pekerti, bahkan akan merusak kestabilan berpikir dan ketentraman hati. Karena itulah agama Islam menegaskan bahwa yang pertama kali dijaga adalah pandangan, sebelum menjaga kem@luannya karena semua yang terjadi itu bermula dari pandangan mata, laksana api besar bermula dari lilitan kecil. Pada awalnya dimulai dari pandangan, kemudian terlintas dalam pikiran, lalu menjadi langkah, dan selanjutnya terjadi dosa ataupun kesalahan. Maka dari itu, dikatakan bahwa barang siapa yang mampu menjaga pandangan, pikiran, ucapan, dan tindakan, berarti dia telah menjaga agamanya.


Dari uraian ini, dapat diketahui bahwa ‘menjaga pandangan’ merupakan sesuatu yang sangat diperhatikan dan ditekankan dalam Islam, karena pandangan inilah yang menjadi pemicu utama munculnya tindakan-tindakan asusila dan kriminalitas di masyarakat. Oleh karena itu, ‘cuci mata’ nampaknya menjadi hal yang sebaiknya perlu dihindari oleh kita sebagai muslim, karena dapat mengarah kepada hal-hal yang negatif.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...

__ADS_1


__ADS_2