Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 103: Berakhir?


__ADS_3

Sementara itu, Bella mulai bisa mengendalikan diri sendiri. Gadis yang kini merasakan tubuhnya seperti remukan roti. Rasa sakit tak bisa diabaikan, tapi ketika tidak menemukan keberadaan ibunya. Tanya itu tak lagi terbendung. Ditatapnya Abil dengan tatapan serius, "De, mana Ibu?"


Abil menunduk dengan tangan bergetar. Ingatan akan wujud asli Ibu Sulastri kembali menguasai relung memori otaknya. Bibir terasa kelu dengan mata kebingungan. Bagaimana mengatakan pada sang kakak. Jika ibu mereka sudah tidak ada lagi. Wanita yang selama ini tinggal bersama mereka adalah makhluk gaib.


Sikap tak biasa dari adiknya, membuat Bella berpikir keras. Ia tahu, saat ini Abil tengah ketakutan begitu luar biasa. Lihat saja kedua tangan yang memegang bahunya gemetaran. Ntah apa saja yang dialami oleh anak seusia itu, satu hal pasti. Jika adiknya mengalami guncangan mental.


"De, tarik nafas, trus buang nafas. Ka Bella, gak maksa, sekarang Abil tenang dulu, ya." Bella mengusap punggung tangan adiknya, sesaat dia lupa. Jika tubuhnya begitu sakit remuk redam. Ketakutan Abil sudah cukup mengalihkan perhatiannya. "Nah, gitu. Ulangi lagi sampai, Ade merasa tenang."


Abil mengikuti intruksi sang kakak agar kembali tenang. Di tengah usaha Bella untuk menjaga Abil. Azzam kembali masuk ke dalam rumah perjanjian. Pemuda itu bisa melihat kehancuran di alam lain dan juga alam manusia. Termasuk Lucifer yang mengalami luka parah dengan tubuh perlahan menjadi partikel cahaya.


Tidak ada waktu lagi. Pemuda itu memeriksa seluruh sudut ruangan untuk menemukan Diana, ia tidak melupakan gadis itu, tetapi waktu selalu meminta setiap hamba untuk memilih. Langkah kaki yang terus berlari ke sana kemari, namun tetap saja tidak menemukan keberadaan Diana.


Di tengah keseriusannya mencari Diana, tiba-tiba terdengar suara jeritan dari arah lantai atas. Sontak saja, Azzam berlari menaiki anak tangga. Untung saja, dirinya hanya jiwa bukan raga. Maka, ia bisa berlari tanpa harus kesusahan akibat luka yang ada diseluruh tubuhnya. Sementara suara jeritan itu semakin terdengar berulangkali.


Pemuda itu mendorong pintu kamar tirai hitam dan ternyata. Diana tengah di siksa makhluk gaib yang menempati wadah raga Ibu Sulastri. Ntah bagaimana, dia meluapkan jika makhluk satu itu malah berkeliaran. Seketika, Azzam teringat akan wanita bercanda yang pernah membawa si makhluk bertemu dengannya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Ya Allah. Maafkan hamba-Mu. Aku lalai melindungi hamba yang lain dari siksaan para makhluk gaib." gumam Azzam, lalu kembali melantunkan do'a. Langkahnya mendekati Ibu Sulastri yang sibuk mencakar punggung Diana. "Bismillahirrahmanirrahim."


Pemuda itu memukul si makhluk tanpa ampun dalam sekali terjang hingga terpental membentur dinding. Kemudian menyelamatkan Diana, tak ingin kembali bertarung. Azzam memilih untuk menyalurkan energinya pada gadis itu. Setidaknya akan memulihkan keadaan untuk sesaat.


Beberapa detik menyalurkan energi hingga perlahan kelopak mata Diana kembali terbuka. Melihat itu, Azzam bersyukur. Sementara di alam gaib. Simbah memapah Delisa ketika melihat gerbang cahaya terbuka begitu lebar. Wanita paruh baya itu, terus menyeret kakinya yang terasa begitu berat.


Alam gaib. Alam yang selalu di penuhi tipu muslihat dengan segala kenaifan para manusia. Simbah berjanji akan mengakhiri semuanya. Janji yang dulu ia buat hari ini menjadi nyata. Ntah apa yang akan menjadi persembahan terakhir. Alam telah memberi jawaban melalui awan hitam yang meneteskan hujan darah. Aroma anyir yang tersebar bersama hembusan angin.


Aroma kematian itu nyata. Hanya saja, Simbah tidak tahu. Demi semuanya berakhir, maka ia kehilangan salah satu cucunya. Wanita itu berpikir jika kedua cucu selamat, tetapi tidak. Ela yang menjadi tawanan para makhluk berakhir tragis. Wanita bercadar itu, kini menjadi tahanan di tempat yang tidak bisa dijangkau manusia.


Satu sisi, Simbah dan Delisa keluar dari alam gaib, sedangkan Azzam dan Pak Kyai berhasil memporak-porandakan rumah perjanjian dengan bukti robohnya rumah tingkat dua itu. Sementara Abil masih terdiam tanpa memberitahu pada Bella. Jika ibu mereka sudah tiada. Waktu terus berputar menyisakan kenangan. Kini, satu bulan berlalu dari tragedi bulan purnama ketiga.


Tatapan mata sendu terpatri pada bunga Desember yang membentuk bulatan dengan bentuk mungil manisnya. Namun, warna indah bunga itu terlihat begitu hambar. Semua yang terjadi dalam hidupnya seperti mimpi buruk yang tidak bisa dilupakan. Ingin sekali mencoba untuk berpura-pura amnesia, tapi tidak bisa. Tiba-tiba, ada tangan yang mengulurkan bunga mawar putih kearahnya.


"Warna putih. Selalu melambangkan kesucian. Bunga ini, untukmu."

__ADS_1


.


.


.


.


......🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃......


Hay reader's, Karya othoor akan segera berakhir.


Bukan karena males update, ya, tapi InsyaAllah saat Tahun Baru proyek baru.


Othoor harap, kalian stay tuned, karena berkat kalian. Aku cemungut 🥰

__ADS_1


__ADS_2