
Waktu berlalu begitu cepat. Menit berganti jam. Hari berganti minggu, lalu berganti bulan. Tak terasa kini Bella memasuki kuliah minggu ketiga. Hari-hari nya masih sama, bangun pagi berpamitan pada keluarga untuk kuliah, dan pulang tepat waktu. Semua berjalan lancar, tidak ada ketegangan apalagi masalah apapun. Semua aman terkendali.
Mentari pagi bersinar di iringi kicauan burung yang bertengger di dahan pohon mangga seberang jalan depan rumah. Suara tirai yang digeser tak mempengaruhi pemilik raga yang masih saja menikmati hangatnya selimut lembut motif jerapah. Siapa lagi jika bukan Arabella. Remaja yang kini beranjak menjadi gadis cantik. Suara langkah kaki mendekati ranjang terdengar pelan.
"Nak, bangun! Ayo bantu ibu di dapur!" Ibu Sulastri menarik selimut putrinya, tapi gadis itu hanya menggeliat dan kembali menarik selimut.
"Arabella! Anak gadis tidak baik bangun kesiangan!" Seru lantang Ibu Sulastri agar putri kesayangannya bangun.
Bella membuka matanya setengah. "Lima menit lagi,"
"Mau bangun, atau ibu siram pake air?" gertak sang ibu, dan sukses membuat Bella mengubah posisi menjadi duduk.
Bella menurunkan kaki menyentuh lantai yang dingin, "Hiii, dingin. Bu, boleh tidur lagi?"
Pertanyaan Bella, membuat Ibu Sulastri menepuk keningnya sendiri. Ntah kenapa apapun yang terjadi selama hampir dua bulan terakhir ini, putrinya masih saja sama. Setiap hari minggu pasti malas bangun pagi, memang benar tidak perlu menyiapkan sarapan atau mengurus suami goib. Meskipun begitu, kehidupan mereka tetap normal.
"Pakai sandalmu! Cuci muka, dan ibu tunggu di dapur!" Ibu Sulastri tak ingin menggerutu, dan memilih meninggalkan kamar putrinya.
Ceklek!
Suara pintu tertutup, menerbitkan senyuman tipis di bibir gadis itu. "Keluarlah!"
"Rupanya istriku tahu kehadiranku. Selamat pagi, ArLu." Lucifer menampakkan diri di depan Bella dengan penampilan seperti biasanya, wujud tampan dengan pakaian modern.
Bella mengulurkan kedua tangannya yang langsung disambut hangat Lucifer. Pangeran iblis memberikan sedikit energinya agar istri manusianya tidak kedinginan. Hanya beberapa detik dengan pandangan mata saling memandang.
"Heeem, hangatnya. Sudah cukup, aku bersih-bersih dulu." Ucap Bella melepaskan tangannya dari tangan Lucifer, lalu bangun dan berjalan menuju kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian.
Bella keluar dari kamar hanya mengenakan handuk sebatas lutut. Tatapan mata gadis itu kesana kemari, "Syukurlah, Dia udah gak ada."
Tanpa menunda, Bella berganti pakaian. Setelah bersiap selama sepuluh menit akhirnya penampilan segar tanpa polesan make up menunjukkan pesona alami. Disaat senyumannya terbit, pintu kamar terbuka.
"Anak ibu cantik sekali. Apa mau keluar?" tanya Ibu Sulastri mendekati tempat Bella berdiri.
"Ibu ini, Bella kan mau bantu ibu masak. Apa ibu lupa?" tanya balik Bella.
__ADS_1
Ibu Sulastri memeluk hangat putrinya dengan tatapan syukur. Hanya sesaat, sebelum berubah menjadi tatapan bingung. Perubahan ekspresi sang ibu, membuat gadis itu melepaskan pelukan, lalu mengajak ibunya untuk duduk bersama di ranjang.
"Apa, Ibu ada masalah?" Bella menatap sang ibu dengan kedua tangannya menggenggam tangan Ibu Sulastri. "Ibu, please jangan sembunyikan apapun lagi dari ku."
Ibu Sulastri berpikir sesaat, tapi mau tidak mau akan lebih baik jika berbicara jujur. Kemungkinan tidak akan seperti yang sudah-sudah. "Nak, boleh ibu minta sesuatu?"
"Kenapa ibu buatku deg-degan? Bella ini putrinya ibu, apa sih yang gak buat ibu tersayang....,"
"Terima lamaran pria yang akan berkunjung!" Ucap Ibu Sulastri.
Bella yang mendengar permintaan sang ibu langsung melepaskan kedua tangannya. Bukan itu masalahnya, tapi rasa yang kini ada di hati sudah berubah. Bagaimanapun selama dua bulan, hubungan antara dirinya dan Lucifer membaik. Ia bangun berjalan dua langkah dengan kedua tangan saling bertautan memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Kenapa ibu ingin aku menerima lamaran orang lain?" tanya Bella pelan, tapi masih cukup terdengar jelas di dengar sang ibu.
"Nak, ibu ingin kamu hidup normal. Bebas keluar, tanpa ada rasa takut. Maafkan ibu, seharusnya sejak dulu....,"
Bella berbalik menatap Ibu Sulastri. "Bu, posisi ku saat ini sudah berbeda. Ibu tidak lupa soal....,"
"Bella harus menerima lamaran pria pilihan dari ibu! Anggap ini permintaan terakhir." Sentak Ibu Sulastri, membuat putrinya tertegun tidak percaya.
Sikap ibunya terlalu keras. Apa yang diharapkan bukan lagi sebuah permintaan, melainkan perintah. Bukankah selama ini masih disertai kasih sayang? Lalu, apa yang terjadi saat ini? Kenapa ibunya bersikeras menjodohkannya?
Kepergian ibu Sulastri menyadarkan Bella. Namun, kini pikiran dan hatinya bertarung. Satu sisi memikirkan nasib keluarganya, dan sisi lain hubungan rumah tangga nya. Gadis itu berjalan menuju jendela kamar. Dimana tirai terbuka memperlihatkan pemandangan luar yang hanya ada beberapa bunga sebagai hiasan samping rumah.
Tanpa terasa, tiga puluh menit berlalu. Hingga suara deru mesin mobil terdengar mendekati pelataran rumahnya. "Siapa yang datang?"
Tok!
Tok!
Tok!
"Ndu, cepat bersiap! Calon mu sudah datang." Ucap Ibu Sulastri dari luar kamar.
"Iya, Bu." Jawab Bella tak ingin membantah.
Baru saja ingin bersiap, aroma melati mulai menyapa. Aroma yang selama ini menjadi teman hidupnya. "....,"
__ADS_1
"Apa kamu ingin melanggar janjimu?" tanya Lucifer tanpa menunjukkan wujudnya, tetapi aroma melati yang pekat bercampur anyir.
Bella mengenali aroma kematian suami gaibnya. Sudah pasti pangeran iblis dalam keadaan murka. Apa penyebabnya, tentu karena rombongan calon suami barunya. Detak jantung terasa sesak, keringat dingin mulai menetes membasahi dahi.
Wuuuussshhhh!
Hembusan semilir angin sedingin es membangunkan bulu kuduk gadis itu. Tubuhnya tegang dengan wajah pucat pasi. Jangankan bernafas, berkedip pun ia tak mampu. Sekali lagi tubuhnya dikuasai sang suami goib.
"JANJI ADALAH JANJI! LANGGAR LAH! JIWA IBU DAN ADIKMU MILIKKU."
Suara Lucifer bergema di dalam kamar Bella, membuat gadis itu langsung terjatuh tanpa tenaga. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Semua energi seakan terhisap. Kemurkaan sang suami goib menyiksa raga dan jiwanya.
"SEKALI JANJIMU DILANGGAR. TIDAK ADA PENGAMPUNAN BAGI KALI....,"
"JANGAN! Ampuni ibuku, aku janji akan memenuhi semua perjanjian pernikahan kita. Jangan usik ibu dan adikku. Ku mohon, hiks." Bella pasrah apapun hasil akhirnya karena saat ini yang terpenting adalah keselamatan keluarga bukan masa depannya.
"PERGILAH DAN TOLAK LAMARAN!" titah Lucifer menarik semua aura kematian yang menyelimuti kamar istri manusianya.
Satu kedipan matanya mengembalikan kekuatan di dalam tubuh sang istri. "Pergilah!"
Bella bangun dengan perasaan berkecamuk. Diantara keselamatan, janji dan masa depan. Kini langkah kakinya seperti penentu. Satu keputusan akan mengubah segalanya. Ntah itu kematian atau kehidupan baru. Apapun itu, kehilangan keluarga tidak akan sebanding dengan masa depannya.
Ceklek!
Semua yang duduk di ruang tamu mengalihkan perhatian ketika suara pintu terbuka menghadirkan gadis cantik. Bahkan sangat imut, wajahnya mungil benar-benar tidak bosan untuk dipandang. Ibu Sulastri langsung menyambut sang putri, membawa gadis itu ke hadapan calon besan.
"Perkenalkan, Arabella. Bella, mereka datang untuk melamarmu. Ayo salim dulu, Ndu!" jelas ibu Sulastri dengan senyuman merekah penuh kebahagiaan.
Bella hanya melirik sekilas. Rasanya tidak tega menghancurkan kebahagiaan ibunya sendiri, tapi hanya itu jalan terbaik. "Terima kasih atas kedatangan kalian sekeluarga."
"Aku tidak bisa menerima lamaran, apalagi melanjutkan sebuah hubungan baru. Silahkan makan, dan tinggalkan rumah kami. Permisi." Ucap Bella membuat kedua tangan ibu Sulastri terkulai lemas, sedangkan tamu rombongan melongo tak percaya.
Bagaimana tidak? Blum juga memperkenalkan diri, sudah ditolak. Nama saja tidak ada yang disebut, tapi gadis yang menjadi tujuan mereka tanpa hati langsung saja mengusir. Meskipun secara halus. Tetap saja itu sebuah penghinaan.
"Apa kalian waras? Kami datang hanya untuk dipermalukan!? Jika gadisnya saja angkuh. Siapa yang mau dengannya?! Ayo, pulang!" Teriak ibu pemuda, "Lain kali, jangan asal mengirim data perjodohan. Cih! Keluarga aneh."
"PERGI!" Bella tak mau kalah dari teriakan ibu yang gagal menjadi mertuanya.
__ADS_1
Semua orang akhirnya pergi keluar dari rumah Bella. Namun, ibu Sulastri benar-benar tidak lagi memiliki sisa harapan. Penolakan putrinya, sekali lagi meruntuhkan semua mimpi yang ia rajut. Harapan untuk kebebasan masa depan gadis itu kandas.
"Ndu, duduk!"