
"Apa kabarmu, adikku tersayang?" tanya Lucifer menyambut kedatangan adiknya dengan ketulusan.
Bayangan itu berubah menjadi sosok manusia tak kalah tampan dari Lucifer. Senyuman tulus tersungging menambah kadar ketampanan pangeran kedua. Dia adalah Gael kekasih dari Delisa Anastasya sang peramal. Lucifer dengan senang hati melepaskan pelukan, lalu menatap wajah sang sudah lama tidak ia temui.
"Aku baik, Pangeran. Bagaimana kabarmu sendiri?" tanya balik Gael tak mengurangi rasa hormatnya.
Romo menepuk bahu kedua putranya. Sisa rasa rindu masih menghuni kenangan di dalam memori masa lalu. Setelah sekian lama. Akhirnya keluarga bisa berkumpul bersama. Pelukan kembali terjadi selama beberapa saat, hingga tatapan mata ketiga pria itu saling memandang satu sama lain.
"Romo mengirimkan pesan agar aku kembali, tapi kenapa pangeran juga di istana?" tanya Gael penasaran.
Pertanyaan pangeran kedua, membuat emosi Romo kembali hadir. Matanya kembali berkobar, melihat itu Lucifer mengeluarkan aura perlindungan agar menetralisir dampak dari kemarahan sang ayah. Begitu juga dengan Gael yang terkejut akan sikap ayahnya yang marah tanpa sebab.
"Satu makhluk membuat sebuah berita tentang masa depanku, dan Romo tidak terima akan hal itu. Sudahlah, aku akan mencari pelakunya. Sekarang katakan, pesan apa yang membawa adikku kembali ke istana?" Lucifer menjelaskan dengan diakhiri pertanyaan pengalihan topik pembicaraan.
__ADS_1
Sementara yang ditanya melirik ke arah Romo. Tanpa izin dari sang ayah, ia tidak bisa mengatakan isi pesan yang menjadi alasannya pulang ke rumah.
Romo menghela nafas, lalu mengambil tangan kanan Gael, dan juga tangan kanan Lucifer yang di tangkup kan menjadi satu. Tatapan mata serius, dengan bibir terkunci rapat. Disaat ia ingin mengatakan apa yang menjadi isi pesannya. Tiba-tiba pintu aula kembali terbuka. Langkah kaki gemulai berjalan memasuki aula mengalihkan perhatian ketiga pria yang berdiri di depan singgasana.
"Salam hormat, Yang Mulia Romo, Pangeran mahkota, dan Pangeran kedua," ucap wanita berparas cantik dengan bibir merah merona.
"Arum, apa keperluanmu datang ke istana?" tanya Lucifer yang tidak suka atas kehadiran wanita satu itu.
"Lucifer, Romo menjodohkan Arum dengan adikmu pangeran kedua," kata Romo dengan berat hati.
Satu kebenaran yang Romo sampaikan. Sontak saja Lucifer menarik tangannya, lalu memegang bahu Gael. Tatapan mata menuntut jawaban, sedangkan yang ditatap justru menundukkan kepala pasrah. Itu artinya apapun yang terjadi hanya Romo seorang yang bertanggung jawab.
"Apa alasan Romo, menjodohkan adikku dengan kunti satu itu?!" Lucifer bertanya dengan tatapan mata masih bertahan melihat perubahan ekspresi sang adik.
__ADS_1
Jelas sekali adiknya tidak bahagia dengan perjodohan itu, lalu untuk apa dipaksakan? Jika dirinya bisa hidup di dunia manusia. Kenapa Gael harus ditahan di istana? Tugas seorang kakak adalah memastikan kebahagiaan sang adik. Meskipun ia harus menentang keputusan Romo. Maka pasti akan dilakukan tanpa berpikir dua kali.
Kabut hitam kemerahan yang keluar dari tubuh Lucifer menjelaskan segalanya. Sudah pasti amarah pangeran pertama tengah tersulut dan itu karena dirinya. Tak ingin menyakiti hati sang kakak dan juga ayahnya. Gael mendongak, lalu memberikan senyuman terbaiknya.
"Ka, aku setuju atas perjodohan yang Romo tetapkan," kata Gael selembut mungkin seraya menahan sesak didada.
Sorot mata sendu tak bisa dipungkiri. Ada penyesalan di hati setelah mengucapkan kalimat barusan. Bayangan wajah sang kekasih menari di pelupuk mata. Semakin lama, bayangan itu menyiksa batinnya.
"Romo, Gael permisi," pamit pangeran kedua langsung menghilang menjadi kabut bayangan hitam.
(Wuih gantengan si Gael 🤣🏃♀️kabur ah)
__ADS_1