
Suara derit pintu mulai terdengar membangkitkan detakan jantung yang berlari marathon. Dag dig dug. Begitulah suara yang mengalun dan terdengar begitu jelas, bahkan Diana reflek menggenggam bambu di tangan kanannya semakin erat. Insting melindungi diri tersentak begitu saja.
Benar saja, begitu pintu terbuka. Para makhluk berdatangan. Azam begitu sigap memukul, berputar, menendang, menepis. Pintu itu hanya sebagai pembatas. Nyatanya, para makhluk tidak bisa masuk ke kamar itu. Meski begitu, tetap saja. Pria yang sibuk menghancurkan sisa jiwa persembahan berusaha sekuat tenaga untuk menumpas semuanya.
Sementara itu, tubuh Diana mulai bereaksi aneh. Entah kenapa, tiba-tiba tubuhnya gemetaran bahkan bambu yang di tangannya ikut bergoyang-goyang. Sisa kesadaran yang dimiliki gadis itu mulai bertarung melawan sesuatu yang tidak bisa nampak. Sesuatu yang memaksa untuk merasuki jiwanya. Di saat pintu terbuka. Ternyata kabut asap yang menjadi perwujudan Ratu para makhluk menerobos masuk melalui dinding rumah.
Disela pertarungan, Azam bisa merasakan ratu para makhluk mencoba merasuki tubuh Diana yang memiliki jiwa dengan mata batin terbuka. Sementara kini, tasbih yang bisa digunakan untuk menolong masih membelenggu tubuh iblis palsu yang menyamar menjadi ibu Sulastri.
"Bertahanlah! Baca ayat kursi, percayalah .... Hiyaa." Azam sibuk membabat habis para makhluk yang terus saja bermunculan di depan pintu kamar tirai hitam. Pria itu berusaha untuk melakukan yang terbaik, tetapi sesaat lirikan matanya melihat kondisi Diana yang semakin tidak terkendali.
Melihat itu, Azam terpaksa bergerak cepat seraya menyambar pintu hingga suara bantingan menutup pintu begitu keras. Disaat bersamaan, tubuh Diana sudah terpengaruhi ratu para makhluk. Gadis itu bahkan tak segan mendorong tubuh Abil hingga menggelinding ke arah lain.
Kejadian itu, membuat Azam sigap menghentikan tubuh Abil sebelum membentur dinding. "Kau! Enyah dari tubuh gadis itu ....,"
"Khikhikhikhikhi ....,"
__ADS_1
"Khikhikhi Khikhikhi ....,"
Suara tawa yang melengking memantul cukup menyakiti gendang telinga. Azam menggendong Abil, lalu meletakkan anak itu untuk bersandar di dinding. Kini, dia harus berhadapan dengan Ratu para makhluk yang pasti akan sulit untuk diajak kompromi. Apalagi tubuh gadis itu memiliki energi dari entitas para makhluk yang selama beberapa waktu terakhir memberikan kekuatan.
Diana merangkak menghampiri Azam. Tatapan mata yang membengkak dengan tetesan darah dari mata. Sudah jelas ratu para makhluk menyiksa jiwa gadis itu dari dalam. Namun, jika dibiarkan sudah pasti. Nyawa si gadis tidak akan bisa terselamatkan.
Melihat pergerakan si makhluk, Azam bersiaga dengan lantunan ayat suci, tetapi kali ini. Suara merdu terdengar begitu jelas di kamar itu. Yah, lantunan ayat suci Al-Quran tak lagi melalui suara hati. Lihatlah bagaimana rangkakan tubuh Diana semakin tersiksa, hingga tubuh itu dengan cepat melompat menerjang Azam.
Greeb!
Akan tetapi, cengkraman itu terlalu kuat. Sementara itu, suara lantunan ayat suci Al-Quran dan tawa menyeramkan bercampur menjadi satu. Sadar atau tidak. Gerbang dimensi yang menggambarkan situasi alam gaib semakin nampak jelas. Kabut hitam mulai tersingkap.
Dimana dari kamar tirai hitam. Disisa kesadarannya, Diana melihat Simbah tengah dalam bahaya. Dimana wanita paruh baya itu mulai kehilangan kesadaran akibat lelah bertarung dengan beberapa makhluk yang melarangnya untuk membawa Bella meninggalkan istana.
Azam bisa merasakan cengkraman tangan Diana semakin melemah. Di saat itulah, tangannya sigap memegang kening si gadis, lalu berdoa khusus untuk menolong jiwa yang tersesat. Kemudian, tubuh gadis itu mulai kehilangan kesadaran. Semua itu karena kesadaran si pemilik jiwa kembali, tetapi ratu para makhluk melesat memasuki dimensi alam gaib.
__ADS_1
"Simbah!" Seru Diana di sisa kesadaran yang meninggalkan kegelapan dengan rasa takut, akhirnya Azam bisa bernafas lega.
Pria itu, melepaskan tangan Diana dari lehernya. Lalu, membawa si gadis untuk bersandar di sebelah Abil. Setelah memastikan semua aman, Azam mulai melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
Sebuah kantong merah yang selama beberapa waktu menjadi penghuni saku celana. Akhirnya dikeluarkan, pria itu membuat lingkaran pembatas untuk melindungi Diana dan Abil. Setelah melakukan tugasnya. Barulah Azam beranjak dari tempatnya, kemudian berjalan menghampiri pintu dimensi.
Sejenak tatapan matanya, mengamati situasi yang ada di alam gaib. "Ya Allah, sungguh mulia ciptaanmu. Alangkah naifnya hamba yang masih terus berkeluh kesah akan nikmat yang Engkau berikan. Permudahlah jalan yang Engkau ridhoi. Hamba berserah diri pada Mu. Bismillahirrahmanirrahim."
Azam melangkahkan kaki melewati pembatas dimensi. Di saat langkah kakinya berpindah tempat, di saat itulah sisa lapisan dimensi menghilang dari kamar tirai hitam. Semua menjadi terpisah. Dimana Diana dan Abil sudah kembali ke dimensi manusia dengan rumah kosong tanpa para makhluk.
Maka, kini dua orang telah terselamatkan. Meskipun untuk itu, Azam harus mengorbankan diri menjadi pengganti persembahan. Akan tetapi, bukan itu yang menjadi pikiran si pria yang rela menjadi umpan. Yah, apapun yang terjadi. Pria itu tahu benar bagaimana cara menghadapinya.
Sementara Azam harus menarik nafas dalam, karena begitu langkahnya menginjakkan tanah alam gaib. Para makhluk yang menjadi penghuni rumah perjanjian sudah menghadangnya seperti kawanan begal. Akan tetapi, iman yang dia punya menjadi keyakinan. Jika Yang Maha Esa akan menjadi pelindung ketika hati dan pikirannya pasrah lillahi Ta'ala.
"Bismillahirrahmanirrahim, majulah!"
__ADS_1