
Ada apa, Sayang? Apa yang kamu pikirkan?' tanya Gael seraya menangkup wajah sang kekasih.
"Aku .... "
Simbah bisa merasakan kekuatan besar siap menghampiri mereka. Ntah siapa, tapi aura kegelapan jelas tersebar ke seluruh penjuru alam. Lihatlah awan yang membelah menjadi dua bagian dengan kelebatan bayangan yang terbang berpencar. Ternyata Gael juga menyadari itu, dan tanpa mengatakan apapun. Satu hentakan kaki menghadirkan perisai pelindung untuk mereka bertiga.
Sementara Delisa menjelaskan seluruh isi hatinya. Dimana dia merasa tidak pantas untuk menjadi penerus sang nenek. Tugas yang diemban menjadi tanggung jawabnya. Namun jelas terlihat sekarang ini, tidak ada yang bisa dia lakukan. Jadi, bagaimana cara menyelesaikan masalah dari keluarga Ibu Sulastri. Gael mendengarkan tanpa menyela, sedangkan Simbah tersenyum penuh arti karena dugaannya benar.
Gadis yang menjadi kekasih pangeran kedua adalah cucu dari sahabat seperjuangannya. Jika sang penerus yang menangani kasus kali ini, maka sahabatnya sudah meninggal dunia. Memang selama ini tidak memiliki komunikasi apapun karena mereka dituntut untuk menjaga jarak demi kebaikan bersama.
__ADS_1
"Nak, apa kamu memakai kalung milik nenekmu?" tanya Simbah setelah Delisa selesai berkeluh kesah, wanita itu mengangguk, lalu memperlihatkan sebuah kalung yang selama ini disembunyikan, "Buka kalung itu dengan ini,"
Simbah melepaskan ujung kain pengikat perutnya. Ternyata ada sebuah jarum emas yang sangat kecil, dan kini berpindah ke tangan Delisa. Wanita itu tidak paham, tapi tetap melakukan seperti yang diminta oleh Simbah. Ntah kenapa, hatinya merasa yakin dengan si wanita paruh baya.
Gael ikut membantu dengan memegangi kalung, sedangkan Delisa membuka gembok liontinnya. Siapa sangka, liontin itu memiliki sebuah batu permata. Simbah menghela nafas lega karena batu itu masih ditangan yang tepat. Ketika, mereka sibuk memperhatikan batu pertama berwarna ungu gelap. Perisai pangeran kedua tiba-tiba hancur tanpa ada suara.
Disaat bersamaan, kemunculan Lucifer membuat Gael langsung menarik tubuh Delisa ke belakang agar bersembunyi. Namun, ntah apa yang terjadi wanitanya justru melepaskan tangannya. Kemudian berjalan menghampiri sang kakak. Simbah tahu, itu adalah daya tarik dari sesama pemilik batu permata.
"Gael bawa pergi Delisa!" Titah Simbah mengejutkan semuanya seraya menarik tangan Delisa yang langsung diputar hingga membentur tubuh pangeran kedua, "Pergi!"
__ADS_1
Gael memeluk tubuh Delisa begitu erat karena wanita itu melakukan pemberontakan. Seperti dipengaruhi sesuatu, tapi apa? Apalagi sekarang, Simbah sibuk menaburkan abu suci ke arah sang kakak. Pasti ada yang salah, meski dilema meninggalkan wanita paruh baya itu sendirian. Dia tidak mau mengambil resiko yang lebih besar lagi. Hanya dalam satu kedipan mata memilih menghilang meninggalkan tempat itu.
Lucifer mengerang karena buruannya lepas begitu saja, sedangkan Simbah tak henti-hentinya menaburkan abu suci. Saat ini, situasi menjadi sebelas duabelas karena pangeran iblis tidak memiliki inti kekuatan. Dimana batu permata merah delima masih di dalam tubuh Bella sang istri. Kesempatan langka, tapi bukan berarti pangeran pertama tidak bisa menggunakan kekuatannya.
"Lepaskan Bella. Mungkin kamu berpikir, jika tindakanmu akan menguntungkan kedua belah pihak. Semua yang kamu yakini adalah kesalahan fatal. Bebaskan manusia itu, dan kembalikan inti jiwa istri manusiamu."
Simbah berusaha untuk melakukan negosiasi. Hal ini agar menghilangkan kesempatan untuk menghancurkan makhluk gaib yang tidak penurut. Meski dia sadar, saat ini bahaya bukan berasal dari pangeran iblis. Melainkan dari para makhluk yang mengepung mereka. Ini seperti sebuah pertukaran tempat.
Bella sibuk menikmati penjelajahan di seluruh alam gaib dengan kekuatan yang ada di dalam tubuhnya, sedangkan Lucifer harus mempertahankan diri dengan sisa kekuatannya. Simbah tahu posisi saat ini hanya bisa bekerja sama, tapi apa itu mungkin? Sementara para makhluk yang ikut tertarik karena entitas batu permata milik Delisa mulai bermunculan seperti pasar malam dadakan.
__ADS_1
Simbah melihat kantong abu suci yang tersisa setengah, dan jika mengandalkan abu suci. Sudah pasti akan berdampak tidak bisa menyelesaikan misi kali ini, ''Apa keputusanmu? Hancur karena kaummu atau bekerja sama denganku. Yah, aku tahu, kamu masih bisa membaca isi pikiranku."