
"Apa kubilang, Pak Azam tampan bukan? Awas jangan naksir....,"
"Setampan apapun seorang pria. Aku tidak akan berpikir untuk memiliki." Jawab Bella, membuat Diana menautkan kedua alisnya.
"Apa kamu suka sesama jenis?" tanya Diana sembari menatap temannya dengan tatapan penuh selidik.
Reaksi Diana, sontak membuat Bella menepuk bahu gadis itu dengan perasaan.
"Aku normal. Jangan berpikir macem-macem. Ayo, kita ambil makanan. Aku takut kamu oleng karena lapar." celetuk Bella bercanda.
Diana terkekeh kecil, "Yok, btw boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya saja," Jawab Bella.
Keduanya masih ikut antrian memasuki tenda makanan. Yah sebentar lagi giliran mereka, jadi langkah kaki terus berjalan ke depan secara perlahan.
"Seperti apa pria idaman mu?" tanya Diana.
Posisi keduanya sejajar dengan barisan berbeda. Sehingga Diana bisa curi pandang melihat ekspresi temannya itu, tetapi Bella masih tenang tanpa ketegangan sedikitpun.
"Bel, jawab donk." pinta Diana dengan rasa penasaran.
Bella melirik ke samping kanan dimana temannya menatap dirinya penuh harap. Tetapi giliran memasuki tenda sudah tiba. Satu kedipan mata ia berikan agar Diana bersabar.
"Ayo, masuk! Hati-hati, dan jangan rebutan. Setiap anak mendapatkan makanan yang sama." Bu dosen dengan hijab mengatur barisan mahasiswa dengan baik.
Posisi meja menjadi dua bagian dengan dua ujung tenda. Satu ujung sebagai pintu masuk, dan satu ujung sebagai pintu keluar. Belum lagi mahasiswa hanya diberikan satu piring besar, dan dosen lah yang mengisi piring mereka sesuai porsi agar adil. Hanya nasi yang boleh menambah porsi. Selain itu, semua adil. Bella dan Diana terpisah sesaat hingga keduanya bersamaan keluar dari pintu di ujung tenda.
"Mau makan di tenda?" tanya Bella.
"Ayo, jangan lupa jawab pertanyaan ku." balas Diana.
Bella tersenyum tipis. Sungguh temannya itu gigih untuk mendapatkan semua jawaban. Tiba-tiba hatinya terasa sesak mengingat rasa penasaran yang pernah ia lakukan.
Bella, ingat ini kebebasan terakhir mu. Jangan pikirkan semua masalahmu saat ini. Setelah camping berakhir, tidak ada lagi kehidupan yang bebas. ~batin Bella.
Lamunan Bella tak memperhatikan sekitarnya. Termasuk ocehan panjang kali lebar temannya, bahkan gadis itu tidak menyadari di depannya ada batu tajam siap menyambut. Langkah tak terarah dengan kesadaran melayang.
__ADS_1
Jleeb!
"Auuw....,"
Diana terkejut dengan suara Bella, lalu spontan melihat ke bawah. Ternyata gadis itu menginjak batu tajam. Wajah cemas dengan rasa khawatir, membuat otaknya buntu.
"Tolooong!" teriak Diana.
Teriakan itu sama sekali tak menarik perhatian. Semua orang sibuk dengan aktifitas masing-masing. Tetapi tidak dengan seseorang yang langsung berjalan cepat menghampiri kedua gadis itu.
Bella memejamkan mata menahan rasa ngilu di kakinya. "Diana, aku baik-baik saja. Bisa tolong pegang piring ku? Aku akan coba angkat kaki ku....,"
"Tunggu, aku akan minta bantuan....,"
"Tidak! Aku masih bisa menahan sendiri." cegah Bella, hingga seseorang merebut piringnya.
Diana menghela nafas lega melihat apa yang terjadi di depannya. Uluran piring ia terima.
"Pak, tolong bantu teman saya." pinta Diana memelas.
Anggukan kepala pria itu tak mengubah aura positif yang terus saja menenangkan hati.
Bella yang memejamkan mata hanya menganggukkan kepala.
"Aku akan bantu temanmu, bisa tolong ambilkan air bersih dan kotak obat? Saya tunggu di atas batu itu." pinta pria itu pada Diana.
"Siap, Pak. Bel, tetap tutup matamu! Jangan buka sampai kakimu diobati." Ucap Diana bergegas meninggalkan tempat Bella terluka.
Sentuhan tangan dingin mengalirkan setrum. Rasanya seperti mencelup kaki ke dalam air dingin. Sangat segar.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya dengan cepat mengangkat kaki kiri Bella.
"Auuuw," Bella merintih dengan tangan yang berusaha meraih sesuatu untuk berpegangan, tetapi tiba-tiba ada tangan yang menggenggam tangannya, "Boleh buka mata?"
"Tetap tutup matamu. Pikirkan hal-hal yang membahagiakan. Bisa juga lantunkan dzikir? Sholawat? Jika tidak bisa....,"
"Astagfirullah, Pak. InsyaAllah aku bisa, ya meskipun tidak pandai." Bella tersenyum tipis, "Eh, kenapa aku melayang?"
__ADS_1
"Coba bawakan satu sholawat, anggap sebagai imbalan atas bantuanku." Ucapnya dengan lembut seraya menggendong Bella menuju batu besar di sisi barat.
Bella berpikir sejenak. Kemudian berdehem kecil mengatur nada suaranya.
🍂Sholawat Fatih🍂
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ. وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الحَقَّ بِالحَقِّ . وَالهَادِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ . صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ
Arab latin:
Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muhammadinil Fātihi limā ughliqa, wal khātimi limā sabaqa, wan nāshiril haqqā bil haqqi, wal hādī ilā shirātin mustaqīm (ada yang baca 'shirātikal mustaqīm'). Shallallāhu ‘alayhi, wa ‘alā ālihī, wa ashhābihī haqqa qadrihī wa miqdārihil ‘azhīm.
Terjemahan:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, pembuka apa yang terkunci, penutup apa yang telah lalu, pembela yang hak dengan yang hak, dan petunjuk kepada jalan yang lurus. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya, keluarga dan para sahabatnya dengan hak derajat dan kedudukannya yang agung.
"MasyaAllah, suaramu merdu. Indah sekali menyejukkan hati. Teruslah berlatih, InsyaAllah ketentraman jiwa raga mencapai ridho Allah." puji pria itu setelah menyelesaikan membalut kaki Bella dengan potongan koko.
"Boleh buka mata?" tanya Bella merasakan kakinya lebih baik.
Pria itu bangkit, "Boleh, tapi hitung sampai lima belas. Baru buka mata."
"Kenapa seperti itu?" tanya Bella penasaran.
"Kenali aku dengan suaraku. Bukan kenali aku dengan rupaku. Assalamu'alaikum," Jawab pria itu mulai melangkahkan kaki menjauh dari Bella.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Balas Bella.
"Satu,"
"Dua,"
"Tiga,"
Hitungan Bella terus berlanjut hingga Diana yang baru saja datang menatap kesana kemari mencari sosok penolong temannya itu, tapi nihil tak ada orang selain gadis dengan mata terpejam.
"Lima belas." Ucap Bella, lalu membuka mata.
__ADS_1
"Dimana dia?" tanya Bella dengan kecewa.