
"Semua hanya mimpi bagimu, tapi tidak untukku. Satu langkah lagi, kita akan bersatu. Kamulah yang bisa mengembalikan keseimbangan alam. Selamat tidur, istri manusia ku." bisik Lucifer sembari meniupkan energinya ke kening gadis itu untuk mengembalikan kesadaran Bella ke tubuhnya.
Para mahasiswa berkumpul menjadi satu. Semua orang sudah bersiap untuk meninggalkan tempat perkemahan. Semua terjadi terlalu cepat, tidak ada seorangpun yang bisa menyangka begitu banyak kejadian aneh. Apalagi setelah yang terjadi semalam pada salah satu mahasiswi. Dimana gadis itu selalu saja pendiam sejak bangun dari pingsan.
"Eh, apa yang terjadi pada dia? Bukankah itu orangnya." tanya seorang mahasiswa dengan melirik orang yang tengah ia bicara.
Mahasiswa lain yang ada di sebelahnya ikut menoleh. Melihat siapa yang dimaksud, "Oh, iya. Itu dia orangnya yang pingsan, tapi entah kenapa pas bangun justru seperti orang linglung."
Bisik bisik para mahasiswa terhenti. Ketika para dosen mengabsen satu-persatu mahasiswa agar masuk ke bus sesuai kelas masing-masing. Begitu banyak pandangan mata terarah pada satu mahasiswa dengan wajah pucat dan tatapan mata kosong. Siapa lagi jika bukan Bella.
Gadis itu ditemukan pingsan, tapi untuk membangunkannya sangat sulit bahkan harus Pak Azam yang turun tangan. Pria yang selalu menjaga pandangan harus melupakan batasan demi keselamatan jiwa yang terbawa ke alam lain.
__ADS_1
"Assalamualaikum, sebaiknya kamu pulang bersama saya. Jangan salah sangka, ini demi kebaikanmu. Mungkin banyak mata yang akan melihatmu aneh setelah semua yang terjadi. Jadi, ayo masuk ke mobil pesananku." Azam sengaja menyewa mobil hanya untuk membuat semuanya lebih baik karena ia memang tak ingin ada sosok-sosok lain yang berusaha mendekati gadis itu.
Seorang manusia yang memiliki daya tarik makhluk gaib. Pasti gadis itu memiliki sesuatu, bahkan aromanya sudah bercampur dengan makhluk lain yang tidak seharusnya. Apapun itu, dirinya hanya ingin melindungi meskipun itu hanya sejengkal seperti saat ini.
Bella seperti anak kecil yang penurut. Gadis itu tidak membantah dan langsung mengikuti arahan Azam masuk ke dalam mobil taxi jazz hitam. Perkemahan akhirnya tak bisa dilanjutkan karena situasi tak memungkinkan. Semua yang terjadi tak bisa diterima logika, tapi tetap saja merasakan.
Iringan rombongan bus camping meninggalkan kawasan yang memberikan banyak pelajaran hidup. Namun, disaat mobil keluar dari perbatasan. Tiba-tiba saja Bella tersentak. Gadis itu seperti baru saja kembali sadar. Azam yang duduk di depan sibuk melantunkan dzikir di dalam hatinya, sedangkan Bella menatap kesana kemari bingung.
"Non, kita dalam perjalanan kembali ke kota." jawab Pak Sopir.
"Ke kota?" Bella mengalihkan perhatiannya ke sekeliling, ternyata hanya jalan raya, "Seharusnya aku masih ada ditempat camping 'kan?"
__ADS_1
"Tidurlah! Jangan lupa baca do'a, nanti saat sampai kampus. Aku akan bangunkan," Ujar Azam tanpa membuka matanya yang terpejam, membuat Bella berusaha mengingat apa yang sudah terjadi.
"Hentikan usahamu mengingat yang terjadi. Lupakanlah semua itu. Demi kebaikanmu sendiri," Azam memperingatkan Bella karena semakin gadis itu fokus memasuki dimensi ingatan. Maka para makhluk gaib siap menanti untuk menyesatkan.
Saat ini aura Bella sudah terbuka dan itu seperti pintu yang terbuka. Siapapun yang sanggup melewati benteng pertahanan. Maka bisa menguasai tubuh gadis itu. Kebenaran ini kemungkinan tidak diketahui banyak orang. Meskipun Azam tahu, ia tak ingin membuat anak orang khawatir. Apalagi terlihat jelas gadis itu sangat polos.
Perjalanan menjadi keheningan. Pak sopir fokus dengan menyetir. Azam masih setia melantunkan dzikir di dalam hati dan Bella kembali terlelap dalam mimpinya. Waktu berlalu begitu cepat. Apapun yang terjadi tidak bisa kembali.
Setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Begitu juga dengan kebersamaan Bella dan Azam. Hari itu menjadi pertemuan dan perpisahan. Keduanya kembali ke dalam kehidupan masing-masing.
Seminggu berlalu, sejak kejadian di bumi perkemahan. Orang-orang mulai menatap Bella tak suka, tapi gadis itu masih bersikap santai tanpa merasa terganggu. Hanya saja ia merasa kehilangan karena sudah lama tidak bertemu temannya Diana.
__ADS_1
"Diana, kamu dimana? Kenapa tidak berangkat ke kampus? Apa sebaiknya, aku tanya alamatnya saja, ya?" tanya Bella bermonolog pada dirinya sendiri.