
Pria itu, tidak ingin menunda waktu, lagi. Ia ingin membuat seluruh penghuni pondok pesantren merasa bahagia karena satu persetujuan dari Bella. Namun, yang ditunggu justru memberikan isyarat pada Abil untuk melakukan yang diinginkannya.
"Aku mau tanya, apakah setelah menikah. Aku masih boleh bekerja?" tanya Bella rikuh, ia sadar diri.
Jika menikah dengan Azzam. Abil tetap menjadi tanggung jawabnya dan masa depan sang adik jauh lebih penting dari kehidupannya. Apalagi tadi, pria yang melamarnya baru saja mengatakan. Jika kegiatan kuliah harus dilakukan lagi.
Setelah mendengar pertanyaan Bella yang sederhana. Azzam menghembuskan nafas lega. Jujur saja, dia sempat berpikir hal lain yang mungkin tidak sanggup dilakukannya. Ketika pernikahan belum terjadi, sungguh baik untuk menyatakan keraguan dari dalam hati.
"Bella, pernikahan itu bukan sebuah hubungan yang menjadi penjara. Ketika seorang pria siap untuk mempersunting seorang gadis. Maka, dia siap dengan tanggung jawabnya sebagai seorang imam keluarga. Aku tidak berhak untuk mengatur hidupmu, meski itu setelah kita menikah."
"Baginda Nabi Muhammad SAW, mengajarkan cinta kasih kepada seluruh umat muslim. Termasuk keluarga. Niat ku tulus untuk menjadikanmu mahram agar raga ini menjagamu sebagaimana mestinya. Menghalalkan wanita yang menjadi pilihan Allah untuk kehidupan di sisa umurku."
Azzam mencoba untuk menjelaskan secara sederhana tentang makna ikatan pernikahan, hingga Abil datang membawa sesuatu. Lalu diserahkan pada Bella. Anak itu kembali duduk, tetapi kali ini duduknya di tengah. Tepatnya di antara sang kakak dan calon kakak iparnya.
Buntelan putih kotak dibuka. Kemudian Bella menciumnya dengan khidmat, "Bella percaya takdir Yang Maha Esa. Ini adalah Al Qur'an yang bisa kami selamatkan dari rumah lama. Satu permintaan ku dan Abil. Mahar untuk pernikahan kita adalah Surah Al Ikhlas yang akan Kakak bacakan tiga kali."
"Aku terima. Di saat ijab kabul. Mahar untuk pernikahan kita bacaan tiga kali Surah Al Ikhlas." Jawab Azzam tanpa keraguan, membuat semua meng-amiinkan yang terdengar menggema di dalam rumah Allah.
Semua orang tersenyum mengucap syukur alhamdulillah. Abi bahkan langsung bersujud syukur karena Azzam akan mendapatkan istri yang sholehah. Rasa bahagia itu menyebar, membuat Azzam terharu. Tanpa sadar, butiran bening membebaskan diri dari bendungan.
Rasa syukur berkumandang bercampur dzikir di dalam hatinya. Semua yang berawal dari ketulusan, Allah mempermudahkan semuanya. Al Quran peninggalan terakhir keluarga Bella akan menjadi saksi sejarah baru. Lamaran menjadi momen mengharukan.
Kini seluruh pondok pesantren bergembira dengan kabar pernikahan yang akan diadakan tiga hari setelah proses lamaran. Selama tiga hari itu, Bella harus tetap di kamar dan tidak boleh bertemu Azzam. Hal yang sama berlaku juga untuk calon mempelai pria.
Orang bilang. Masa pingitan bagi calon pengantin akan selalu menjadi momen paling berharga. Dimana kedua mempelai terus memperbaiki diri untuk menjemput masa depan baru. Namun, disaat bersamaan akan banyak cobaan yang bisa menggoyahkan hati.
Hari pertama pingitan. Suasana pondok pesantren semakin dipenuhi dengan kesibukan. Para santri saling berbagi tugas untuk melancarkan acara pertama dari pemilik pondok pesantren, bahkan warga setempat sukarela membantu sebisa mungkin untuk ikut andil dalam acara pernikahan Azzam.
__ADS_1
Kebahagiaan terpancar dari setiap sudut pondok pesantren. Setiap hati berharap semua akan berjalan lancar, tetapi ditengah persiapan itu. Bella masih merenung akan keputusannya. Satu sisi, dia merasa tidak pantas. Meski calon imamnya akan menerima apa adanya.
Gadis itu berusaha untuk memantapkan hati di setiap sujudnya, hingga kedatangan Diana yang sengaja datang untuk memberi dukungan. Nampak jelas, wajah gadis yang biasa bersikap sesuka hati. Diana kini berhijab, tetapi tidak mengenakan cadar. Sungguh perubahan tidak bisa terelakkan.
"Assalamu'alaikum, Bella. Aku turut bahagia melihatmu akan menikah dan bisa menjadi seorang istri seorang ustadz."
Keduanya berpelukan melepaskan rindu yang membelenggu. Lalu duduk bersama di atas ranjang, "Bagaimana kabarmu? MasyaAllah, saudariku sudah menjemput hijrahnya. Aku turut bahagia untukmu, Diana."
"Alhamdulillah, semoga kamu menyusul. Kabarku baik, bagaimana perasaan mu? Apakah hati sahabat ku merasakan detakan pacuan lari marathon." goda Diana, membuat Bella menggelengkan kepala menyunggingkan senyuman manis.
"Aku tidak pantas untuk pria sebaik Ka Azzam." ucap Bella lirih bahkan hampir tertelan hembusan angin.
Diana menatap Bella dengan tatapan serius, diraihnya tangan sang sahabat. Usapan lembut yang menenangkan, "Bella, kehidupan memberikan kesempatan kedua untuk kita menjalani hidup normal. Mari sambut dengan rasa syukur."
"Terima kasih, kamu selalu menjadi sahabat sekaligus saudara terbaik. Allah begitu baik, mempertemukan kita. Semoga hubungan ini menjadi kekuatan dan kebersamaan hingga maut memisahkan. Amiin."
Wajah wanita lanjut usia itu nampak tegang dengan suara serak. Setelah menyampaikan semua yang harus diketahui oleh keluarga calon mempelai pria. Simbah pamit undur diri, lalu meninggal Abi dan Azzam di ruang tamu keluarga.
"Nak, percayalah pada Allah. Ini yang terbaik untuk kalian berdua. Mantapkan hati, dan selalu ingat. Setiap hamba-Nya akan selalu mendapatkan perlindungan. Bismillah, putraku dan yakinlah kamu bisa."
Tidak ada helaan nafas panjang. Kali ini, Azzam merasa lebih baik dan siap menghadapi rintangan terakhirnya. Sebagai calon mempelai pria yang memiliki calon mempelai wanita dengan status mantan istri pangeran iblis. Selama ini, Bella hidup dengan energi dan pengaruh Lucifer. Maka, gadis itu masih belum suci seutuhnya.
Kedatangan Simbah memberikan peringatan, bukan untuk melarang. Melainkan untuk memberikan jawaban agar dia siap menyelesaikan tanggung jawab terakhirnya. Apapun yang akan terjadi nanti. Kehidupan Bella dan Abil harus terbebas dari pengaruh makhluk gaib.
"Abi, izinkan pernikahan kami menjadi malam ini." tegas Azzam serius, Abi mengangguk karena ia tahu dan memahami bagaimana keputusan sang putra. "Do'akan Azzam untuk menyelesaikan fase terakhir memutuskan hubungan dua alam."
"Abi selalu merestui langkahmu, Nak. Berjuanglah, malam ini, setelah bada magrib. Kalian akan menikah, dan sepanjang malam akan dilakukan pengajian. Kita harus berjuang bersama-sama, Nak. Bismillah."
__ADS_1
.
.
.
Apa yang akan terjadi setelah ini?
Mungkinkah pernikahan Azzam dan Bella bisa dilangsungkan?
Peringatan apa yang Simbah katakan?
Lalu, apa maksud Azzam dengan mengatakan fase terakhir dari pemisahan dua alam?
Yuk, ikuti kelanjutannya di part-part terakhir dari Jerat Karma Suami Goib Ku.
Ingatlah, kehidupan hanya tentang misteri.
Satu usai, maka akan menjadi kisah baru.
Tetapi, setiap kisah akan saling berhubungan.
Seperti bintang dan rembulan yang bersinar di kegelapan malam.
Percayalah, jika itu takdir kita.
Maka, tak seorangpun akan merebutnya.
__ADS_1