
Lucifer berbalik, lalu menduduki tahta kerajaan dengan ekspresi wajah tegas. Tatapan mata merah tanpa senyuman yang menenangkan. Satu kedipan mata menurunkan sulur terakhir. Dimana tersangka yang meminta pengampunan, kini berdiri di depannya.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Lucifer.
Makhluk gaib dengan wujud manusia telinga kelelawar duduk bersimpuh memohon ampunan. Tubuhnya gemetar hebat, tetapi mulut masih enggan mengatakan kebenaran. Lucifer mencoba bersikap baik demi meringkus pelaku utama. Sayangnya hanya ada keheningan selama beberapa saat.
Rakyat yang melihat semuanya tak bisa berkomentar. Bukan karena tidak ingin mengatakan sesuatu. Namun, saat ini seluruh penghuni aula sudah dalam pengaruh kekuatan sang pangeran iblis. Tidak seorangpun bisa mengucapkan satu kata kecuali atas izin sang pemilik tahta.
"Rupanya pengampunan tidak berguna untuk makhluk seperti mu. Aku tanya sekali lagi, siapa yang menyuruhmu?" Lucifer bertanya dengan menatap makhluk di bawah kakinya.
Gelengan kepala makhluk itu, membuat Lucifer tersenyum penuh arti. Satu jentikan jari melepaskan sulur hitam yang mengikat tawanannya. Rakyat terkejut dengan tindakan sang pangeran. Bagaimana bisa mengampuni tawanan tanpa memberikan hukuman yang pantas.
__ADS_1
"Lari!" titah Pangeran Iblis.
Satu perintah jelas. Seperti genderang perang. Tawanan terakhir tanpa berpikir lagi berlari menuruni tangga karena kekuatan yang ia miliki lenyap ntah kemana. Disaat langkah kakinya mencapai kerumunan rakyat. Satu perintah kembali menggema memenuhi aula kerajaan.
Lucifer mengedipkan mata kirinya, "Hukuman makhluk telinga panjang adalah amukan rakyatku. SERANG!"
Rakyat begitu bahagia ketika pangeran iblis tidak memberikan ampunan, tetapi justru menggandakan hukuman tawanan terakhir. Suara riuh, erangan dan juga teriakan bercampur menjadi satu. Ada kuku panjang yang mencabik punggung makhluk telinga panjang. Ada yang memotong telinga kelelawar itu berulang kali. Ada pula yang sengaja mengeluarkan api seperti bermain tusuk sate.
Penyiksaan rakyat tak kalah sadisnya dengan hukuman dari pangeran iblis. Romo yang melihat itu dengan senang hati menikmati pertunjukan. Sementara Lucifer memilih memejamkan mata. Kini mata keduanya harus menelusuri seluruh wilayah kerajaan untuk mencari penyebab dari keonaran yang menyulut kemarahan sang ayah.
Jika kamu yang melakukan semua ini, aku sendiri yang akan membumihanguskan bangsamu.~batin Lucifer seketika membuka matanya kembali.
__ADS_1
"Apa kamu menemukan pelakunya?" tanya Romo menatap anaknya.
Lucifer menggelengkan kepalanya. Sebelum memberikan hukuman, ia ingin memeriksa semuanya sekali lagi. Wajah merah padam Romo masih menyisakan rona merah dengan netra hitam kelam.
"Romo, tenanglah. Siapapun yang bermain dengan keluarga kita. Aku berjanji akan memberikan hukuman yang setimpal," kata Lucifer mencoba memberikan kepastian.
Helaan nafas panjang terdengar dari Romo. Pria paruh baya itu sudah lelah menangani berita yang dalam hitungan detik menyebar seperti kobaran api. Berita dimana menyatakan, jika putra mahkota akan memakan istri manusianya. Setelah bulan purnama ketiga. Berita yang membuat rakyat bahagia, tetapi tidak dengan seorang ayah.
"Romo, rakyat hanya mendengarkan tanpa tahu kebenarannya. Sebentar lagi bulan purnama ketiga. Bukankah, kita sudah menunggu setelah sekian purnama? Gadis dengan rasi bintang bulan merah hanya terlahir sekali selama seratus tahun," Lucifer meyakinkan agar ayahnya mau bersabar sebentar lagi.
"Tidak bisa seperti itu, Lucifer. Syarat dari kelahiranmu harus terpenuhi. Bagaimana kamu membawa istri manusiamu ke alam kita? Bukan dengan paksaan, tetapi gadis itu harus datang atas kemauannya sendiri...," kata Romo terhenti karena merasakan aura lain mendekati ruangan aula.
__ADS_1
Pintu aula terbuka dengan sesosok bayangan hitam terbang melesat menghampiri tahta. Lalu, bayangan itu bersimpuh memberikan hormat pada Romo dan Pangeran Iblis. Lucifer menyambut tamu tak di undang dengan senyuman tulus serta merentangkan kedua tangannya. Sontak bayangan hitam berdiri, dan menghamburkan diri memeluk tubuh sang pangeran.
"Apa kabarmu, adikku tersayang?" tanya Lucifer menyambut kedatangan adiknya dengan ketulusan.