Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 45: PERMINTAAN BELLA


__ADS_3

Semua dosen meninggalkan kursi masing-masing, lalu mengerubungi si mahasiswa. Tatapan tanda tanya dan cemas jelas terlihat, tapi justru menambah kegugupan anak itu.


"Leo, ada apa?" tanya Pak Lutfi sebagai wali kelas mahasiswa itu.


Nafasnya ngos-ngosan, "Pak, beberapa mahasiswa pingsan mendadak."


"APA?"


Para dosen terkejut dengan laporan Leo. Tanpa menunggu lebih jauh, Pak Ahmad dan dosen lainnya berlari menuju arah yang mahasiswa itu katakan. Sementara dosen wanita diberikan tanggung jawab untuk memberikan mahasiswa yang lain. Kesibukan kembali terjadi. Dimana para dosen berbagi tugas memeriksa semua peserta camping.


Suara riuh dari luar mengusik Bella dan Diana. Dimana kedua gadis itu tengah asik membaca novel. Tiba-tiba Bu dosen Cintya datang dan tanpa permisi membuka tenda untuk memberikan keadaan di dalamnya. Sontak saja kedua gadis itu saling pandang dengan wajah bingung.


"Bu, ada apa?" tanya Bella sopan.

__ADS_1


Bu Cintya tersenyum seraya menggelengkan kepala, lalu pergi begitu saja tanpa memberikan kejelasan. Diana yang penasaran meletakkan novelnya dan keluar menyusul sang dosen. Sementara Bella yang ingin menyusul. Seketika suara seseorang yang masuk ke dalam pikirannya. Memberikan peringatan keras agar tetap diam di tempat.


"Apapun itu, Aku akan menurut. Bantu aku terlelap karena rasanya aku ingin sekali keluar melihat apa yang terjadi," ucap Bella pada dirinya sendiri.


Ucapannya disambut semilir angin yang berhembus masuk ke tenda bersama kabut tipis yang mengaburkan pandangan. Tidak ada angin ataupun hujan, perlahan rasa kantuk menyergap. Mata terasa berat sekali, membuat Bella merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Apapun yang terjadi di luar sana. Biarkan saja.


Kukuruyuk!


Kukuruyuk!


"Pagi, Istriku," sapa pemilik wajah tampan.


Ucapan selamat pagi yang manis memberikan semangat baru. Tatapan mata saling memandang hingga rasa dingin menyentuh kulit wajahnya. Benar-benar dingin seperti es, tapi ntah kenapa rasa nyaman itu tidak bisa dipungkiri.

__ADS_1


"Suamiku, kita dimana?" tanya gadis itu menahan tangan yang tengah mengusap pipi kanannya.


"Kita ada di alam lain. Aku ingin membawamu keliling istanaku. Apa kamu bersedia, istriku?" tanya pria tampan itu, lalu mendaratkan satu kecupan kening.


Keliling istana? Siapa yang tidak mau. Kesempatan langka itu tidak boleh terlewat. Tanpa berkata, satu anggukan kepala sudah cukup menjadi jawaban. Melihat itu, sang pria tersenyum semakin manis. Keduanya bangun dari ranjang tanpa alas kaki. Untung saja lantai di bawah tak sedingin tangan pria yang kini menggenggam tangannya.


"Istananya besar sekali, tapi istana siapa ini?" tanya gadis itu dengan takjub.


Pertanyaan istrinya mencubit kenyataan yang tidak bisa bersatu khayalan. Setiap tindakannya memiliki alasan egois, "Aku akan menjawabnya nanti. Sekarang kita nikmati kebersamaan di istana yang pasti akan kamu rindukan. Setuju?"


"Setuju." jawab gadis itu.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan untuk menjelajahi istana. Banyak sekali penjaga, tapi rasanya aneh. Semua penjaga seakan tak melihat keberadaannya. Terkesan seperti patung yang diam dengan mata terbuka. Yah seperti itu, atau mungkin saja memang saja semua harus bersikap tegas dan waspada. Ntahlah mana yang benar.

__ADS_1


"Suamiku, siapa pria itu?" tanya sang gadis menunjuk ke arah sisi barat, dimana seorang pria paruh baya tengah menatap pemandangan di depan seorang diri.


__ADS_2