
"Aku harus menemuinya, yah, hanya orang itu yang bisa membantuku. Sudah waktunya aku bertindak dan semoga ini jalan yang Allah tunjukkan."
Tanpa menunda waktu. Pria itu mengemas barang-barang yang dianggap penting saja, lalu berjalan meninggalkan kamar. Langkah kakinya menuju sebuah ruangan, dimana ruangan itu biasa digunakan sang ayah untuk menghabiskan waktu di pagi hari. Suara lantunan Alquran menggema begitu merdu menenangkan hati. Sebelum masuk, ia melepaskan sepatu serta meletakkan tas ransel ke sisi kiri pintu.
"Assalamu'alaikum, Abi." sapa Azam mengucapkan salam, membuat seorang pria berjubah putih melirik sebentar , lalu kembali melanjutkan bacaannya.
Abi menyudahi rutinitasnya sejenak karena sang putra terlihat begitu serius, "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kamu kenapa, Zam?"
"Azam mau pamit, lagi. Kali ini, InsyaAllah perjalanan yang terakhir," kata Azam berpamitan kepada ayahnya.
Sesi meminta izin agar apa yang akan dilakukannya nanti berjalan lancar. Bagi Azam restu dari Abi adalah yang utama. Sebagai putra tunggal dari pemilik pondok pesantren ternama. Kehidupannya dibekali ilmu agama dan juga pendidikan yang cukup. Apalagi rumah yang ia tempati bersebelahan dengan pondok pesantren Ibnu Abbas.
__ADS_1
Abi memberikan izin, tapi dengan catatan putranya harus kembali dengan selamat tidak kekurangan suatu apapun. Kehidupan pondok pesantren masih menjadi tujuan sang putra. Tanggung jawab yang harus ia turunkan, lalu setelah itu. Barulah dirinya akan melakukan perjalanan ke tanah suci untuk kelima kali dengan tenang.
Akhirnya, Azam bisa memulai perjalanan dengan mengantongi restu dari sang Abi. Pria itu meninggalkan rumah menggunakan sepeda motor kesayangannya dan melewati rute perjalanan yang berupa hamparan sawah yang membentang. Di dalam hati selalu melantunkan dzikir dengan kewaspadaan yang tinggi. Matahari yang bersinar tenang menambah semangatnya.
Meninggalkan alam manusia. Istana megah menyambut kedatangan Lucifer bersama Bella. Para rakyat sudah berkumpul di bawah, mereka menunggu untuk melihat seperti apa istri sang pangeran iblis. Namun, disaat gerbang cahaya terbuka. Justru yang terlihat pangeran kedua bersama seorang wanita bercadar. Aura putih biru langit menyelimuti manusia itu.
Reaksi para rakyat mengubah suasa menjadi menegangkan, tapi Pangeran kedua tidak ambil pusing. Apapun yang dia lakukan, semua itu demi kebaikan sang kekasih. Yah, sejak pengakuan tentang identitas aslinya. Maka, tidak ada lagi rasa takut di hati, meski nanti ia harus berhadapan dengan Romo. Terlebih keadaan Delisa masih lemah, jadi keselamatan wanita itu sudah menjadi tanggung jawab nya.
"Pangeran kedua!" seru seseorang yang berdiri di antara kerumunan rakyat, para makhluk memberikan jalan agar sosok itu bisa berjalan mendekati Pangeran Kedua.
Kunti merah itu tanpa berpikir panjang. Justru langsung menunjukkan wujud aslinya, tapi Delisa sama sekali tidak takut dan memilih melangkah maju seraya merengkuh lengan Gael. Sontak saja, pangeran kedua menoleh dengan senyuman manis menatap sang kekasih. Ini yang ia tunggu, dukungan dari pujaan hatinya. Kini, tidak ada lagi keraguan untuk melakukan yang terbaik.
__ADS_1
"Hay, apa kamu calon istri kekasihku?" Delisa bertanya tanpa melepaskan cadar nya, bahkan wanita itu tak segan mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
Siapa sangka ada manusia yang berani dengan kunti seperti dirinya. Saat ini, bahkan ia sudah menjadi ratu kunti dan manusia yang menjadi kekasih calon suaminya. Justru berani menatap dan bersikap sok manis. Apa wanita itu sudah tidak waras? Yah, inilah isi pikiran Arum. Tanpa kunti itu sadari, Delisa bisa membaca isi pikirannya dan tersenyum di balik cadar.
Bukannya takut, Delisa justru mengeratkan tangan di lengan Gael seraya membalas tatapan mata sang kekasih dengan penuh cinta, "Sayang, bisa kita pergi dari sini. Rakyat tidak menyukai kehadiranku, dan aku tidak mau mereka melukaimu. Maaf, bukan maksudku untuk berbicara yang bukan-bukan. Sungguh, aku senang bisa bersamamu."
"Jangan pikirkan soal apapun, Aku hanya mau kamu tenang dan selalu tersenyum," Gael mengusap kepala Delisa, lalu membenamkan kecupan singkat ke kening wanitanya. "Rakyat ku tercinta. Hari ini, aku Pangeran kedua mengumumkan bahwa wanita yang berdiri di sampingku adalah kekasih dan calon istri ku. Suka, atau tidak suka. Dialah yang memiliki kendali hatiku."
Pernyataan itu, membuat rakyat saling berbisik, sedangkan Arum langsung menghilang tanpa memberikan reaksi. Meski begitu, Delisa mulai merasa tidak aman. Ntah kenapa, hatinya merasa jika calon istri Gael bukanlah kunti seperti pada umumnya. Ada sesuatu yang tersembunyi dan berselimut kegelapan. Kilatan merah darah dengan tatapan tajam seperti api membara. Hanya ada satu penjelasan, tapi untuk memahami semua itu, ia harus melakukan ritual.
Tanpa Delisa sadari, tubuhnya menghilang bersama Gael dari hadapan rakyat. Lalu kembali muncul di sebuah kamar dengan aroma menenangkan. Semua pikiran yang membelenggu perlahan terurai menjadi hembusan nafas teratur. Usapan lembut di pipi mengembalikan kesadarannya. Tatapan mata sang kekasih begitu dalam hanya mampu dibalas dengan senyuman manis.
__ADS_1
"Sayang, apa yang kamu pikirkan? Kenapa aku merasa, ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari ku."
Pertanyaan itu menjadi rasa penasaran, tapi Delisa memilih untuk diam saat ini. Ada yang tidak bisa dijelaskan, "Terkadang, diam lebih baik. Gael, aku ingin melakukan ritual. Apakah ada tempat yang aman? Kamu, pasti paham maksudku."