Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 105: Lamaran Azzam


__ADS_3

Abi tersenyum, ketika melihat putranya gugup. "Nak, bacalah do'a sebelum memulai sesuatu yang baik. Niat manusia harus dimulai dengan menyebut nama Allah. Niscaya, kehidupan yang menjadi pilihan hatimu. InsyaAllah berkah."


Azam mendengarkan nasihat Abi, lalu berdoa dari dalam hati. Kemudian memejamkan mata sesaat. Sekali lagi, dia merenung. Apakah hati, pikiran serta jiwanya sudah siap untuk melakukan apa yang menjadi tujuannya? Kelopak matanya kembali terbuka dan satu wajah terpatri di pelupuk mata.


Siapa lagi, jika bukan Bella. Gadis yang menjadi janda dari pangeran iblis. Meski begitu, tetap saja dia seorang gadis di alam manusia. Namun, jika seorang pria tahu masa lalu dari Bella. Maka, banyak pria yang akan langsung menolak. Jika diminta untuk bersanding dengan gadis itu.


Beda lagi dengan Azzam. Pria satu itu, tidak pernah meragukan takdir Allah yang diciptakan ke dalam hidupnya. Setelah beberapa hari merenung dan mencoba untuk menggapai satu titik. Hati dan pikirannya hanya tertuju pada satu keputusan yaitu ia ingin menjadikan Bella sebagai pendamping hidup.



Sebagai seorang istri agar bisa menghabiskan sisa hidup mereka sebagai contoh. Azzam hanya ingin, orang-orang terbuka hatinya dan tidak menilai buruk tentang gadis yang bernasib seperti Bella. Meski, demi melindungi kakak beradik itu, pernikahan menjadi jalan terbaik.


"Assalamualaikum, saudari Arabella. Aku disini akan menyampaikan isi hati dan juga niat tulusku. Dengan menyebut nama Allah. Aku, Azzam putra dari Abi Malik Maulana ingin mempersuntingmu menjadi istri sekaligus Ibu dari calon anak-anakku. Apakah saudari bersedia untuk menerima lamaranku?"


Bukan hanya terkejut. Gadis itu juga merasa tidak pantas. Bagaimana bisa, putra seorang pemilik pondok pesantren yang telah menyelamatkan dia dan adiknya dari bahaya. Justru hari ini dengan tatapan serius serta tanpa rasa takut, tiba-tiba melamarnya di depan seluruh penghuni pondok pesantren.

__ADS_1


Ingin menolak, tetapi ia tak memiliki alasan. Jika menerima pun, ia merasa sungguh tak pantas. Rasanya seperti putri buruk rupa yang mendapatkan pangeran tampan dari kerajaan. Azzam yang mulai memahami seperti apa Bella. Pria itu tahu, jika gadis itu merasa tidak enak hati.


Namun, Azzam juga menyadari. Dimana Bella akan memikirkan lamarannya dengan serius. Meskipun akan berakhir penolakan. Apapun yang akan terjadi sudah menjadi suratan Ilahi. Jodoh tidak akan tertukar, begitu pula dengan rezeki.


"Nak Bella, jawablah. Kami tidak akan memaksamu untuk melakukan pernikahan ini tanpa persetujuan mu. Jadi, jika hatimu memang tidak menginginkan, maka tolaklah lamaran putraku. Tetapi, jika memang hatimu sanggup dan siap untuk menjadi istri Azzam. Silahkan mantapkan hati untuk menerima jodohmu."


Bella yang termenung dengan pikiran yang mungking tengah melayang. Sudah pasti gadis itu sibuk mempertimbangkan pilihan hidupnya. Abi tak ingin membuat suasana menjadi semakin tegang. Nasihatnya hanya untuk bersikap adil dan mencoba menetralkan keadaan.


Sebagai seorang ayah, dia paham bagaimana perasaan seorang wanita. Apalagi bagi wanita yang pernah merasakan pernikahan, namun pernikahan itu sendiri hanya seperti mainan. Mungkin, Bella sibuk berpikir. Apakah ia harus menikah lagi atau memilih untuk hidup sendiri.


Tatapan mata semua orang tertuju pada Bella. Mereka menatap gadis itu dengan perasaan harap-harap cemas. Apakah gadis pilihan Azzam akan menerima lamaran dari seorang putra pemilik pondok pesantren. Meski mereka baru mengenal Bella, nyatanya mereka sudah sangat akrab dan menerima kakak beradik itu sebagai keluarga.


"Ka Bella, terimalah lamaran dari Abang Azzam. Selama ini, ibu selalu ingin Kakak menikah dengan pria yang baik dan Abang tampan sangat baik. Kakak pasti selalu mendapatkan perlindungan."


Abil berusaha untuk membujuk Bella. Meskipun ia sendiri masih trauma, tetapi untuk melihat senyuman sang Kakak. Ia sanggup untuk melakukan apa saja. Sementara Bella, gadis itu masih berpikir begitu keras, membuat Azzam menundukkan pandangannya kembali karena merasa gagal.

__ADS_1


"Bella, Aku tidak akan memaksamu untuk menerima lamaranku, tapi seperti nasehat Abi. Aku akan menunggu hingga kamu menerima jawaban. Seandainya, kamu menolak. Aku tidak apa." Azzam menghela nafas panjang mencoba menetralisir perasaannya.


"Ingatlah saja. Jika hubungan, tidak hanya tentang suami istri, tetapi ada hubungan persahabatan. Ketika kamu tak mampu untuk membuka hati sebagai seorang istri, maka cobalah ikhlaskan untuk menjadi sahabatku. Namun, semua pilihan ada padamu."


Rasanya seperti hujan di musim kemarau benar-benar menyejukkan dengan aroma tanah yang khas. Bella terharu dengan semua penuturan Azam. Pria itu begitu dewasa dan jauh dewasa darinya. Memang benar yang Abil katakan. Jika Ibu masih hidup, sudah pasti akan menjodohkannya dengan pria seperti itu.


"Sebelumnya, Bella minta maaf pada kakak dan juga Abi dan untuk semua penghuni pondok pesantren. Bella hanyalah gadis yang memang tidak memiliki kedewasaan, bahkan agama pun masih belajar. Jika aku menerima lamaran Kakak. Apakah aku bisa menjadi istri seperti yang kakak harapkan? Kakak sendiri tahu, akan kekuranganku."


Semua orang mendengarkan penjelasan Bella yang secara tidak langsung memang menolak lamaran Azzam. Pria itu mencoba mengikhlaskan. Akan tetapi, Abil memeluk kakaknya, lalu membisikkan sesuatu. Entah apa yang anak itu katakan hingga Bella menatap pria di depannya penuh arti.


"Bismillahirrahmanirrahim. Saya, Arabella menerima lamaran dari Ka Azam." Tegas Bella mengejutkan semua orang, bahkan menarik garis senyum di wajah Azzam. "Sebelum hubungan dimulai. Tolong, Kakak jawab satu pertanyaan dari ku."


"Baiklah, Aku terima. Tanyakan apapun yang bisa menghilangkan keraguan di hati dan pikiranmu. Katakan, apa pertanyaanmu." Azam mempersilahkan Bella untuk segera mengungkapkan isi hati yang bisa menjadi tiket hubungan sakral keduanya.


Pria itu, tidak ingin menunda waktu, lagi. Ia ingin membuat seluruh penghuni pondok pesantren merasa bahagia karena satu persetujuan dari Bella. Namun, yang ditunggu justru memberikan isyarat pada Abil untuk melakukan yang diinginkannya.

__ADS_1



"Aku mau tanya, apakah ....,"


__ADS_2