Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 27: PERUM MUKTI - GUSAR


__ADS_3

Mobil jazz melaju meninggalkan wilayah pemukiman menuju jalan utama. Perjalanan keduanya terbilang penuh ketenangan.


"De, kamu beneran mau ke rumah temanmu itu?" tanya KaCan.


Diana yang asyik melihat sisi kirinya dimana diluar sana begitu banyak penjual kaki lima. Akhirnya menoleh ke arah sang kakak.


"Iya, KaCan. Apa kakak menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya balik Diana.


"Gak kok, De. Aku cuma mau pastikan adikku yang tomboy ini aman terkendali." KaCan memutar stir memasuki sebuah gapura yang bertuliskan perum Mukti. "Ini bener 'kan alamatnya?"


"Bener kok, KaCan. Katanya sih, rumah nomor tujuh dari gapura di sisi kiri jalan di depannya ada pohon mangga." Jelas Diana dengan jemari menunjukkan setiap rumah sambil menghitung. "Ka, kayaknya itu deh!"


Ela mengikuti arah yang ditunjuk adiknya. Dimana sebuah pohon mangga lebat terdiam berdiri kokoh di sisi pojok depan rumah. Kemudian perlahan terlihat jelas bagaimana keadaan rumah bertingkat dua yang ia tuju. Mobil sengaja dihentikan di depan rumah tanpa memasuki halamannya. Sejenak mengamati sekitar. Ada rasa tidak nyaman dan hawa panas. Meskipun waktu masih sangat pagi.


"De, apa tidak sebaiknya ketemuan di luar saja?" KaCan terlihat gusar melihat rumah dua tingkat milik teman adiknya, tetapi tidak dengan sang adik yang justru langsung keluar dari mobil. "Astaghfirullah anak ini sudah nyelonong keluar aja."

__ADS_1


Diana terlihat melambaikan tangannya dari luar agar sang kakak ikut turun.


"Bismillah." Ucap Ela membuka pintu mobil, kemudian keluar seraya menutup pintu mobilnya.


Langkahnya perlahan. Meskipun hawa panas semakin ia rasakan, tapi demi Diana. Dirinya tetap memaksakan diri memasuki halaman rumah yang berumput hijau dengan deretan pot bunga di sisi kiri depan rumah.


"Kenapa KaCan pucat?" tanya Diana mengusap pipi sang kakak. "Kakak sakit?"


Ela tersenyum tipis. "Gak, De. Yok, aku antar menemui temanmu."


"Assalamu'alaikum, Bella!" Diana berseru dengan suara sewajarnya seraya mengetuk pintu kayu di depannya. "Bella! Aku dateng nih....,"


Ceklek!


"Wa'alaikumsalam, eh kamu udah dateng. Emm ini siapa?" Jawab Bella setelah membukakan pintu dan melihat temannya bersama seorang wanita bercadar.

__ADS_1


"Ini kakakku namanya Ela Saputri, dan biasa ku panggil KaCan. Kakak Cantik." Ucap Diana memperkenalkan sang kakak. "KaCan, ini teman terbaikku Arabella, dan biasa ku panggil Bella."


Ela mengulurkan tangannya. "Panggil saja Ka Ela, makasih ya, udah mau temenan ama Diana."


"Makasih kembali KaCan, hehe." Bella meraih tangan Ela lalu menciumnya seperti seorang adik. "Ayo, masuk! Maaf rumah sedikit berantakan."


"Tunggu! Boleh aku tanya sesuatu?'' Ela menghentikan Bella dan Diana yang justru saling pandang tak paham kenapa dihentikan. "Siapa saja yang tinggal di rumahmu? Aku hanya ingin memesan cemilan."


"Ish, KaCan bikin aku penasaran aja. Bella itu hanya punya ibu dan satu adik laki-laki. Iya kan, Bel?" Jawab Diana menatap Bella.


Bella mengangguk mengiyakan pernyataan Diana. Meskipun dari raut wajah Ela, ia sedikit memahami maksud dari pertanyaan kakak temannya itu, tapi tidak mungkin mengatakan apapun diluar dari yang bisa dirinya ungkapkan.


"Kalian duluan, Aku pesan cemilan dulu." pinta Ela membuat kedua gadis itu menganggukkan kepala, lalu masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


Kepergian Bella dan Diana mengubah ekspresi wajah Ela. Dimana wanita bercadar itu memulai ritual runtunan doa keselamatan. Tanpa ia sadari, setiap alunan do'anya bukan membakar penghuni rumah. Tetapi justru memperkuat pagar goib yang menyelimuti rumah itu. Erangan yang terdengar menggema di dalam rumah. Tak seorangpun bisa mendengar kecuali mereka yang diberikan kelebihan. Namun, Ela bisa mendengar dengan jelas.

__ADS_1


"Astagafirullah, rumah ini benar-benar tidak aman untuk ditempati. Ya Allah lindungi kami semua. Ameen." gumam Ela dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk menyusul adiknya.


__ADS_2