Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 85: MAKHLUK TANGAN PANJANG


__ADS_3

"Rapalan mantra perjanjian. Itu berarti, pemujaan bukan di lantai atas. Melainkan di kamar ini, persembahan selalu terjadi di tempat ini. Jika demikian, jiwa gadis itu ada di dibawah ranjang."


Seperti pesan Abi, Azam mulai membaca Ayat kursi. Pria itu terus melantunkan do'a. Selama beberapa menit, akhirnya do'a ke seratus dapat diselesaikan. Kemudian, langkah Azam berjalan menghampiri ranjang, lalu memegang ranjang itu dengan kedua tangannya.


Awalnya tidak ada apapun, hingga tiba-tiba sebuah tangan hitam menjalar mencoba meraihnya. Meski tangan itu semakin mendekat, tetap tidak menggoyahkan iman Azam. Pria itu mengangkat ranjang, lalu melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ternyata di bawah ranjang tersaji persembahan.


Dimana persembahan itu bukan hanya bunga, tetapi juga darah dan juga tulang belulang yang masih segar. Sudah pasti, keluarga yang menempati rumah itu. Tidak tahu, jika rumah mereka di huni orang lain yang memiliki ilmu cukup tinggi. Azam menghentakkan ranjang hingga terjungkal.


Tatapan matanya terus mencari jiwa milik gadis yang menjadi istri Pangeran iblis. Di saat sibuk mengamati sekitar wadah persembahan, tiba-tiba saja ada yang membuka pintu. Anak kecil dengan pita merah di tangan datang membawa sebuah kendi tanah liat berwarna hitam.


"Kakak, siapa?" Abil bertanya tanpa rasa takut, membuat perhatian Azam teralihkan ke arah kendi.


"De, bagaimana kamu bisa disini? Apa kamu tahu, rumah ini ....,"


Abil mengangguk, "Ini rumah ku, Ka. Aku tahu, jika leluhur kami melakukan pemujaan iblis. Sebaiknya kakak pergi dari sini.Tempat ini tidak aman, Ka."


Jawaban Abil langsung membuat Azam paham. Anak kecil itu adalah penghuni dari rumah ini, tetapi rumah yang ditempati oleh manusia. Bukan rumah para makhluk. Itu berarti, orang yang harus diselamatkan olehnya adalah anak itu.

__ADS_1


"Aku akan pergi dengan mu, sekarang katakan. Apa isi kendi itu? Siapa yang bersamamu? Kakak tahu, kamu tidak mungkin sendiri." ujar Azam tanpa basa basi, tetapi Abil memilih diam secara melirik ke sana kemari.


Anak itu terlihat takut dan menahan nafasnya selama beberapa saat hingga dari arah luar kamar terdengar erangan mengerikan. Azam mencoba untuk memahami situasi yang terjadi, tetapi ada yang mengganjal hati dan pikirannya. Ntah apa, tapi ada yang salah.


"Ka, awas di belakang." celetuk Abil, membuat Azam memutar tubuhnya. Disaat bersamaan ada tangan panjang yang keluar dari tembok. Tangan itu berusaha untuk mencapainya. Namun, dengan cekatan Azam menampiknya seraya melantunkan doa.


Pertarungan itu menjadi semakin sengit. Baik Azam ataupun si makhluk. Ke-duanya tidak mau mengalah, sedangkan Abil masih terpaku di tempat dengan memperhatikan cara Azam melawan makhluk tangan panjang. Lantunan doa yang menggema di kamar sang ibu. Perlahan menggugurkan ilusi yang ada. Tiba-tiba, sebuah cahaya menerobos keluar dari bawah wadah persembahan.


Cahaya itu berwarna putih seperti awan di atas langit. Abil tersenyum, akhirnya apa yang dicarinya ditemukan. Langkahnya berjalan menghampiri persembahan. Namun, tangan panjang yang melihat itu, justru langsung mengubah haluan.


Azam yang memahami pergerakan si makhluk bergegas menyelamatkan Abil dengan berlari menyambar anak itu, membuat kendi yang dipegang terlempar mengenai makhluk tangan panjang. Suara jatuh dengan pecahnya kendi terdengar secara bersamaan.


Buuug!


Rasa sakit akibat terbentur dinding, tak membuat Azam mengeluh. Pria itu memastikan kondisi Abil baik-baik saja, "Dengarkan aku. Jangan lakukan apapun dan terus berdoa. Tetaplah di dekatku. Apa kamu paham, De?"


Abil mengangguk. Setelah memastikan anak itu menurut, barulah Azam bangun menyingkap lengan kokonya. Kini, dia tidak bisa bertindak sebagai seorang ulama, tetapi harus menjadi seorang pria dengan ilmu kanuragan yang selama ini dipelajarinya. Apalagi makhluk tangan panjang semakin memanjangkan jarinya yang hitam kelam.

__ADS_1


Pertarungan itu, membuat suara gaduh di dalam kamar. Sedangkan di lantai atas. Diana merasa cemas menanti Abil yang tidak kunjung kembali. Padahal kendi yang dibawa adik Bella adalah barang terakhir yang harus dipindahkan ke lantai bawah.


Sebenarnya, ini tidak mudah. Sebab tugas itu, seharusnya dilakukan orang dewasa. Hanya saja, tidak mungkin dirinya yang keluar karena di dalam kamar tirai hitam, harus ada yang dia jaga. Yaitu tetap mengawasi semua yang terjadi di alam gaib.


Rumah yang nampak sebagai rumah perjanjian bagi Azam. Nyatanya menjadi rumah biasa di mata Diana. Semua itu karena keduanya masuk dengan cara berbeda. Dimana Azam meninggalkan raga, sedangkan Diana memasuki rumah masih bersama raganya sendiri.


"Ayolah, Abil. Kakak khawatir, apa sebaiknya aku keluar saja?" Diana bingung akan apa yang harus dilakukannya, apalagi dari yang dilihatnya. Di alam gaib hanya bisa menampilkan kabut hitam dengan kilatan putih yang sesekali disertai kobaran api.


Sepuluh menit telah berlalu, tapi masih tidak ada tanda-tanda dari Abil. Bukankah sebelum keluar, dia sudah mengatakan untuk memberi kode. Jika sesuatu terjadi pada adik sahabatnya itu, tetapi kenapa tidak ada sinyal yang diterimanya. Apakah mungkin pintu kamar menjadi penghalang?


Diana berjalan mondar-mandir seraya menggigit kuku jari telunjuk tangan kanannya. Ekspresi khawatir semakin bertambah, "Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Abil. Ini tugasku, tanggung jawabku. Sudahlah, lebih baik aku keluar."


...🍀🔥🔥🌚🌚🌚🌚🔥🔥🌚🌚🌚🌚🔥🔥🍀...


*Night readers, Happy Reading ya, btw bcz kmrn ada yg minta update. Jadi, othoor update double buat hari ini, stay tuned. Jangan lupa jejak kalian juga, ya.


Semoga semua sehat, tetap semangat dan terus menyebarkan kebahagiaan 💕🥰

__ADS_1


One again, thanks so much for all support. 🙏💕*


...----------------...


__ADS_2