Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 55: PENJELASAN ELA - KEPUTUSAN DIANA


__ADS_3

"Sekarang, minum obatmu dan kakak akan pikirkan. Apa keputusannya, nanti kakak beritahu. Kakak tidak mau karena masalah ini, kamu menjadi tambah sakit. Jika memang, kita harus menolong Bella. Kakak akan pikirkan apa yang terbaik," Jelas Ella, lalu memberikan obat dan juga segelas air putih pada adiknya.


Keesokan harinya.


Suasana rumah Ela terlihat sangat riuh, tapi tetap tenang. Wanita bercadar itu, mengetuk pintu kamar sang adik. Ia berpikir, mungkin adiknya masih tertidur karena pengaruh obat. Apalagi, tidak biasanya gadis itu terlalu pendiam seperti hari ini. Ketukan pintu yang tidak begitu kencang, tapi tidak juga lirih.


"Diana, bangun sudah pagi!" Panggil KaCan sedikit keras agar adiknya bisa diajak sarapan bersama.


Diana yang sudah terbangun dan memang sedang asyik membaca buku. Akhirnya, meletakkan buku, lalu menghampiri pintu kamar. Saat, gadis itu membuka pintu, "KaCan, iya, aku udah bangun. Dari tadi, loh. Tumben, Ka Ella pagi-pagi udah rapi. Mau kemana, nih, Ka?"


"Boleh, Kakak masuk?" tanya KaCan meminta izin adiknya untuk masuk ke kamar. Terlihat jelas raut wajah sang kakak serius, meskipun hanya dari sorot matanya


"Tentu saja boleh. Silakan masuk, Kak."

__ADS_1


Ella masuk ke kamar sang adik, lalu duduk di tepi ranjang. Ia juga melambaikan tangan agar adiknya ikut duduk di depannya. Kakak beradik itu saling memandang. Sorot mata KaCan terlihat tengah menyiapkan diri, untuk mengatakan apa yang ingin disampaikan.


Situasi sedikit tegang, tapi seketika Diana memegang tangan kak Ela. Kemudian, mengusap telapak tangan KaCan dengan lembut, "KaCan, mau bicara apa? Kenapa seperti erat sekali."


Ela menghela nafas. Wanita itu, membuka cadarnya. Wajah sang kakak yang cantik. Akan tetapi, sangat jarang ia lihat. Hari ini terlihat, tatapan mata sendu, dan tidak ada senyuman di bibir sang kakak. Ini artinya, sang kakak telah memikirkan sesuatu, yang tidak bisa dikatakan secara langsung.


Ella belum sempat mengatakan apapun, tiba-tiba pintu kamar kembali terbuka dan sang nenek datang ikut berkumpul bersama. Ketika wanita beda usia itu terlihat saling pandang memandang, hingga pada akhirnya nenek menganggukkan kepala memberikan isyarat agar Ella berbicara terus terang.


"Kita akan pergi bersama, tapi untuk itu. Kita harus ke rumah Bella terlebih dahulu. Kali ini bukan untuk bertemu temanmu, melainkan kita harus mengambil sejumput tanah dari halaman rumah itu. Apa kamu bisa melakukan itu? Jika tidak, Kakak akan melakukannya sendiri, tapi karena kekuatan kamu yang tidak terdeteksi...,"


Ela menjeda penjelasan yang disampaikannya. Sejenak ingin memastikan. Jika Diana memahami, apa maksud dari ucapannya. Selama ini, hanya dirinya yang diberikan wasiat untuk mempelajari ilmu yang SiMbah punya, sedangkan sang adik tidak diberitahukan apapun. Tidak pula diwajibkan untuk belajar ilmu kanuragan dan juga amalan-amalan yang selama ini ia pelajari.


"Akan lebih baik, jika kamu yang mengambil tanah itu. Hanya saja, sayangnya. Kita harus melakukan itu sangat cepat dalam waktu yang sangat singkat. Jika, kita mengambil tanah itu di malam hari. Maka keesokan harinya, kita harus sudah sampai ke tempat teman kakak. Ya, seperti itu yang dikatakan teman kakak. Setelah kami melakukan obrolan panjang kali lebar di dalam telepon."

__ADS_1


Diana mencerna baik-baik. Apa yang dikatakan kakaknya dan apa yang harus ia lakukan. Sejenak berpikir, bagaimana ia akan melakukannya nanti, "Aku akan lakukan itu, tapi ini sudah pasti 'kan? Kita akan langsung membantu Bella."


"Iya, Kakak berharap seperti itu. Kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin dan sisanya tetap saja yang di Allah yang menentukan. Apa kamu mau melanjutkan semua ini atau mau menyerah dan kita, tidak ikut campur urusan keluarga Bella," Ujar sang kakak, sedikit berusaha untuk membujuk adiknya mundur, tapi Diana langsung menggelengkan kepala tanpa ragu.


"Kapan aku harus mengambil tanah dari rumah Bella?" tanya Diana serius dengan tatapan mata percaya diri.


Ella tak habis pikir dengan pemikiran adiknya, tapi ia juga tahu satu hal. Diana tidak akan pernah menerima sebuah ketidakadilan dan bentuk dari solidaritas pertemanan memang pasti akan dilakukan. Apalagi yang bisa dia lakukan sekarang? Selain memberikan dukungan pada sang adik. Selama ia masih mampu, maka apapun akan berusaha sebaik mungkin untuk dilakukannya.


"Nduk, malam ini. Kamu bisa ambil tanah dari rumah Bella, tapi satu hal yang harus kamu tahu," Nenek mengambil sesuatu dari balik punggungnya, sebuah bambu kuning, yang memang sengaja dipotong hanya sepanjang satu ruas saja, "Kamu harus memakai tangan kiri dan masukkan tanah ke bambu ini. Pastikan tanganmu harus memakai sarung tangan."


Diana mengangguk paham, akan enjelasan neneknya. Kini sudah memantapkan hati akan melakukan apapun, demi menolong Bella. Meskipun ia sadar, risiko yang akan ditanggung tidaklah sedikit dan ini pasti akan berpengaruh pada kehidupan keluarganya.


Semoga ini yang terbaik. Aku berharap dengan ini, kehidupan Bella menjadi lebih baik.~batin Diana seraya memeluk Sang Kakak sebagai ungkapan terima kasih memberikan ia jalan untuk membantu temannya.

__ADS_1


__ADS_2