Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 83: ENTITAS - DIA BUKAN PUTRAKU!


__ADS_3

"Ilmu mu iku tinggi, mbok opo kowe, mertamu nang gubukku?"


(Ilmu kamu itu tinggi, mau apa kamu, bertamu ke rumahku?)


Pertanyaan dari seorang ratu yang duduk di tahta terkesan menyindir, tapi Azam tidak keberatan sama sekali. Hari ini, semua harus berakhir dan kembali ke dunia manusia tanpa mengorbankan manusia lain lagi, "Saya ingin membawa pulang mereka. Apakah persembahan selama ini, masih kurang? Tulang-tulang yang tergantung bisa menjelaskan sebanyak apa korban dari perjanjian pohon beringin keramat."


"Iseh gagah, kudune kowe dadi ahli peramal. Romo mu iso mrene, ganteni kowe ....,"


(Masih tampan, seharusnya kamu menjadi ahli peramal. Ayahmu bisa kemari, menggantikan dirimu ....,)


Azam menahan nafasnya, bukan karena tidak bisa melawan, tetapi di dalam rumah itu ada nyawa yang harus diselamatkan. Pria itu berjalan dua langkah ke depan, membuat suara bising menggema berteriak tepat di depan telinganya. Sakit, bahkan aliran hangat terasa keluar dari gendang telinga.


Mengingat saat ini tempat yang dipijak adalah pusat dari dunia lain. Azam semakin gencar melantunkan dzikir dari dalam hati. Pria itu berusaha menelusuri seluruh sudut ruangan, tetapi yang terlihat hanya kegelapan bersemburat merah.


Tiba-tiba saja, Nyai Ratu tertawa terbahak-bahak seakan mendapatkan mainan baru. Ntah kenapa, tapi wanita dengan wajah tidak jelas itu menyepelekan ilmu yang dimiliki Azam. Melihat itu, Azam hanya terus berdo'a seraya memisahkan entitas manusia dan juga makhluk gaib.

__ADS_1


Sekilas, jika orang biasa melihat. Pasti terlihat hanya rumah kosong dengan perabotan lengkap. Akan tetapi, jika memiliki mata batin. Maka yang akan terlihat adalah para makhluk yang mondar-mandir seperti di pasar dan dengan bentuk yang pasti bisa mengeluarkan seluruh isi perut.


Aroma anyir yang menusuk seperti tempat penampungan daging potong. Azam mencoba untuk menggunakan ilmunya. Hanya saja, energi positif hanya ada pada dirinya sendiri. Terlalu sulit untuk bisa mentransfer entitas manusia agar menemukan titik terang hingga nampak sekelebat bayangan anak kecil yang berlarian di belakang tahta Nyai Ratu.


"Anak itu, dia manusia. Bagaimana bisa bergerak bebas tanpa diketahui para makhluk?" Gumam Azam seraya sekali lagi memperhatikan setiap gerakan anak kecil itu, hingga sekilas cahaya tepat mengenai pergelangan tangan dengan kain merah yang memancarkan entitas makhluk gaib.


Anak itu terlindungi karena memakai tanda pengenal sebagai makhluk gaib. Itu berarti, mereka memang ada dirumah ini, begitu juga dengan pangeran iblis. ~batin Azam menemukan titik terang, dan kini tahu apa yang harus dilakukannya.


Sementara di alam gaib sendiri. Simbah tengah saling pandang dengan seorang pria yang biasa dipanggil Romo. Pria paruh baya itu nampak terkejut dengan kehadiran wanita yang pernah hadir di masa lalunya. Tatapan mata saling beradu. Meski satu mata memancarkan kebencian dan satu lagi memancarkan penyesalan.


" ...., "


Romo mencoba untuk meraih tangan Simbah, tapi baru saja bergerak satu senti. Simbah sudah melangkah mundur. "Sampai kapan permusuhan akan terus berlangsung? Tidakkah kamu lihat, Lucifer sudah besar ....,"


"Dia bukan putraku. Raganya memang milik putraku, tapi jiwanya hanya milik iblis. Bagaimana bisa, kamu tetap berpikir. Aku akan menerima kenyataan atas pertukaran yang mengubah seluruh hidupku menjadi seperti sekarang ini?"

__ADS_1


"Lucifer ku adalah manusia dengan kepribadian yang taat agama, bahkan tidak sekalipun berani membantah perkataan kedua orang tuanya. Semua berubah, sejak kamu menyamar menjadi manusia dan memberikan pengaruh buruk. Aku berusaha sekuat jiwa dan raga untuk mengembalikan putraku ke jalan yang benar."


Simbah menunjuk wajah Romo dengan tatapan mata murka, "Kamu bukan hanya iblis, tapi juga kesalahan di alam ini. Demi membangkitkan jiwa pangeran iblis. Maka dengan liciknya mengelabui putraku untuk menjadi budak sekaligus wadah untuk jiwa putramu."


Perdebatan antara Simbah dan Romo terdengar begitu jelas di telinga seseorang yang sedari awal duduk memainkan bunga di tangan seraya bersandar di belakang tahta. Suara penuh tekanan dengan nafas yang menggebu-gebu.


Manusia dengan manusia itu pasangan ideal. Manusia dengan iblis, juga masih wajar. Jadi, kalau manusia berjiwa iblis dengan sejenisnya. Bagaimana cara memahami itu? Kenapa aku bingung sendiri. ~batinnya seraya menepuk bunga yang ada di tangannya ke wajah.


"Lucifer tetap putramu. Selama ini, dia lebih memilih tinggal di alam manusia karena berharap bisa bertemu dengan ibunya. Aku selalu mengatakan ....,"


Simbah menutup telinga, apapun yang Romo katakan hanya menjadi rasa sakit seorang ibu. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan karena semua sudah jelas. Lucifer yang ada diistana hanyalah pangeran iblis yang bangkit kembali. Sementara putranya, sudah hilang ditelan bumi sepuluh tahun yang lalu.


Penolakan Simbah, membuat Romo terdiam dan berpikir keras bagaimana caranya mengatakan fakta yang memang nyata dan bukan sebuah tipu muslihat. Namun, dia lupa. Seorang iblis hanya bisa menjadi provokator serta diliputi ilusi yang pasti menjebak.


Ketegangan dan penolakan itu, berbanding terbalik dengan Gael serta Delisa. Dimana pasangan itu, justru saling bekerja sama untuk menutup kembali liontin yang menyebabkan para makhluk mengejar mereka.

__ADS_1


"Gael, segala cara sudah dilakukan. Lihat tanganmu saja sampai terluka. Biarlah saja, seperti ini. Lebih baik, kita cari tempat amah." Delisa memberikan saran agar bisa memberikan waktu pada. Kekasihnya yang memang sudah terpental beberapa kali akibat dari mencoba menarik paksa kalung yang dikenakannya.


"Selain istana. Tidak ada tempat yang lebih aman lagi, apa kamu siap untuk melakukan pertempuran?" tanya Gael mencoba memastikan kondisi sang kekasih karena dia tahu, wanitanya terlalu banyak kehilangan energi.


__ADS_2