Jerat Karma Suami Goib Ku

Jerat Karma Suami Goib Ku
Bab 48: RASA MILIK BELLA DAN DIANA - CINTA KAKAK BERADIK


__ADS_3

"Diana, kamu dimana? Kenapa tidak berangkat ke kampus? Apa sebaiknya, aku tanya alamatnya saja, ya?" tanya Bella bermonolog pada dirinya sendiri.


Sejak kejadian di bumi perkemahan. Diana sama sekali tak nampak untuk berangkat demi melakukan kegiatan belajar mengajar. Entah kemana gadis itu pergi. Sebab itulah yang menjadi alasan Bella cemas. Apapun yang terjadi sungguh ia sendiri tak tahu.


"Kalian, tahu nggak, sih. Gadis itu katanya pembawa sial, loh," tukas salah satu mahasiswa di belakang Bella.


Suara mahasiswa itu bukan lagi berbisik, tapi sengaja dikeraskan agar orang yang dibicarakan bisa mendengar.


"Oh, yang itu. Jangan begitulah. Lagian, kita sama-sama manusia, kita juga nggak tahu apa cobaannya. Setiap orang pasti memiliki masalah masing-masing. Ayolah jangan ngejudge gitu," jawab mahasiswa lain dengan suara yang jauh lebih keras agar Bella tidak merasa berkecil hati.


Bukan hanya kedua mahasiswa itu yang sibuk membicarakan tentang Bella. Masih ada bisikan-bisikan lain yang mengusik hati Bella. Namun, gadis itu tak ingin ambil pusing. Baginya semua yang sudah berlalu tidak akan bisa diputar kembali. Kini yang ada di dalam pikirannya hanya Diana. Kemana temannya itu pergi?


Kegelisahan yang dialami Bella sangatlah beralasan karena saat ini teman yang ia nantikan. Teman yang ia rindukan tengah menikmati rasa sakit. Diana tidak diperbolehkan berangkat kuliah agar bisa menjaga dirinya sendiri. Tubuh yang pernah kerasukan, membuat sang kakak dan neneknya merasa kecemasan dan khawatir luar biasa.


"KaCan, Aku ingin kuliah. Sampai kapan, aku harus di rumah seperti ini? Ayolah, izinkan aku kuliah," Diana meminta dengan memelas, tetapi kakaknya tetap saja tak menggubris justru ia mengabaikan permintaan sang adik.


"Nduk, jangan gegabah. Mbah dengan kakakmu, hanya ingin menjagamu. Jadi tetaplah tinggal di rumah selama beberapa saat. Ingat di luar sana masih banyak yang bisa merasukimu dan saat ini, kamu membutuhkan pertahanan diri karena auramu sudah terlanjur dipertaruhkan."


Simbah yang sibuk membuat racikan ramuan herbal berusaha menasehati cucu bungsunya.


"Mbah, Aku angen Bella," ucap Diana dengan raut wajah murung. Jujur saja dirinya sangat merindukan Bella, meski apapun yang telah terjadi tak sekalipun hatinya ingin membenci gadis yang kini menjadi temannya.

__ADS_1


Ela yang mendengar penjelasan sang adik perlahan mulai luluh, "Baiklah. Kakak akan usahakan agar kamu bicara dengan Bella, tapi dengan satu syarat. Kamu tetap di rumah dan untuk masalah kampus. Tenang saja karena aku sudah izinkan dengan surat izin sakit."


"Kakak, serius? Kakak, ngizinin aku ketemu lagi sama Bella?" tanya Diana dengan girang.


Ella mengangguk. Meskipun di dalam hati masih ragu apa keputusan yang ia ambil sudah benar. Jika membiarkan sang adik bertemu kembali dengan temannya. Sementara ia sendiri tahu, pengaruh dari gadis itu sangatlah besar. Adiknya sendiri tidak mampu untuk menjaga diri.


"Dek, apa kamu kenal orang selain Bella di kampus? Seseorang yang bisa dijadikan teman." Ella ingin mencoba mengalihkan perhatian sang adik dengan bahaya yang siap menjadi jalan masa depan nanti.


Pertanyaan sang kakak hanya dijawab dengan gelengan kepala ringan. Gadis itu tidak memiliki teman selain Bella karena semua teman seakan menjauh darinya. Entah apa sebabnya, mungkin karena penampilan yang memang seperti anak laki-laki atau mungkin juga karena hal lain.


Ella tak ingin semakin memperpanjang masalah atau membuat adiknya tertekan, "Baiklah, sekarang kamu istirahat. Setelah itu, kita bisa makan siang bersama dan nanti urusan Bella. Biar kakak yang atur, tapi untuk sementara ini tetap di rumah oke."


Percakapan kakak dan adik berakhir dengan baik. Sementara percakapan di dunia lain nampak sangat serius. Percakapan yang terjadi diantara para kaum pria. Wajah-wajah yang tegang dengan aura kemarahan dan seseorang masih sempat untuk menahan emosinya.


"Pangeran, ini yang terbaik. Apa kamu bisa melepaskan istri manusiamu dan menikah dengan Arum? Tidakkan. Romo sudah mengambil keputusan yang tepat dan itu tidak bisa diganggu gugat lagi. Gael harus menikah dengan Arum apapun yang terjadi!Baik kamu setuju atau tidak. Tidak akan mengubah apapun," jelas Romo tak mau kembali menjelaskan titik permasalahan pada putra pertamanya.


Lucifer menatap Gael sang adik. Dimana adiknya itu terlihat masih belum bisa menerima perjodohan itu. Tatapan mata kosong dan enggan untuk memberikan pendapat. Sebagai seorang kakak, ia tak rela membiarkan adiknya sendiri menikah dengan makhluk yang jelas-jelas selalu diselimuti kelicikan.


"Gael, apa kamu benar-benar setuju dengan pernikahan ini?" tanya Lucifer menatap adiknya.


Pangeran kedua menghela nafas dengan ingatan sang kekasih yang ada di dunia manusia dan pasti kekasihnya itu tengah sibuk membantu sesama manusia. Sementara disini ia tertahan dengan perjodohan yang memang tak diinginkan. Ingin sekali rasanya menolak. Namun, ketika mengingat kembali semua sebab dan akibat.

__ADS_1


Iya tak ingin kakaknya kembali terperangkap di dalam kerajaan. Kerajaan yang mungkin sudah sangat lama seharusnya ditinggalkan. Satu pengorbanan tidak akan menjadi masalah besar. Meski dengan sadar, cinta yang menjadi kebahagiaannya harus diakhiri.


"Aku siap menikah dengan Arum, tapi izinkan aku untuk memiliki waktu ku sendiri selama setahun ke depan." jawab Gael tanpa basa-basi.


Jawaban itu, membuat Romo menatap pangeran kedua, "Apa yang kamu maksud? Perjodohan ini akan dilakukan segera tepat di bulan purnama. Kalian akan menikah dengan saksi terbitnya bulan baru."


"Apa maksud Romo dengan purnama esok?" tanya Lucifer untuk memastikan pendengarannya baik-baik saja.


"Pernikahan Arum dan Gael akan dilakukan tepat di malam bulan purnama dan itu dilakukan demi kelangsungan semua makhluk." Jawab Romo dengan serius.


Jika pangeran kedua menikah di malam bulan purnama yang sama. Dimana ia harus melakukan ritual penyatuan bersama istri manusianya. Maka, apapun yang akan terjadi hanya akan menjadi musibah. Mungkin saja Romo lupa dengan kitab itu tapi tidak dengan dirinya.~batin Lucifer seraya menghirup udara sebanyak mungkin agar bisa tetap tenang.


"Romo, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi." putus Lucifer dengan keyakinan pasti.


Romo menatap pangeran pertama dengan tatapan tanda tanya, "Apa maksudmu, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi? Pernikahan itu pasti terjadi...,"


"Jika Romo memaksakan pernikahan itu tetap terjadi. Jangan salahkan aku. Istana ini akan rata dengan tanah." ucap Lucifer tak ingin lagi dibantah, aura kemarahannya telah menyebar seketika menjadikan awan diatas langit gelap gulita.


Situasi semakin tak terkendali, membuat Gael berjalan menghampiri sang kakak. Kemudian dengan lembut ia mengusap punggung kakaknya. Perlakuan itu perlahan mengembalikan ketenangan Lucifer. Tatapan mata keduanya saling bertemu. Meski hanya sesaat, tapi sudah cukup untuk mengetahui kebenaran yang tersembunyi di hati dan pikiran adiknya.


"Aku berjanji akan memberikan kebahagiaan mu, di atas kebahagiaan ku." Lucifer mengangkat tangannya, lalu ia letakkan ke atas kepala Gael.

__ADS_1


Gael tahu, ketika janji keluar dari bibir seorang Lucifer. Maka pasti akan terjadi, tapi ia sadar posisinya sebagai pangeran kedua. "Aku bersyukur memiliki kakak sepertimu. Izinkan aku melakukan tugas seorang anak, tapi aku berjanji. Pernikahan kami, tidak akan terjadi di bulan purnama esok."


__ADS_2