
Nafas ngos-ngosan Ela, membuat Simbah menatap cucunya merasa bersalah karena telah meninggalkannya begitu saja. "Nduk, kamu tidak apa-apa?"
"Bambu...,"
Satu kata dari Ela, membuat Simbah berbalik. Wanita itu baru menyadari bambu berisi tanah rumah Bella. Justru sudah dikuasai si genderuwo. Mau, tidak mau ia harus melakukan sesuatu, tapi apa? Jika melepaskan kedua cucunya. Sudah pasti akan menjadi bumerang untuk keluarganya. Terlebih lagi, saat ini situasi semakin buruk. Para makhluk seakan terpanggil untuk berpesta.
"Semua sudah terjadi. Kita biarkan saja, pita ini sudah ada di tangan dan perjalan masih harus dilanjutkan. Sebaiknya, kita masuk dan meninggalkan tempat ini. Sebelum dia datang karena waktu sebentar lagi tepat duabelas malam."
Simbah tak ingin mengambil resiko yang jauh lebih besar. Setidaknya, kini satu ikatan dari perjanjian keluarga Bella sudah ada ditangannya. Waktu yang singkat, membuat pikiran tuanya harus kembali berpikir cepat. Di usia saat ini, ntah kenapa ia harus kembali ke tempat terkutuk seperti hutan larangan. Andai, jiwa Diana tidak ikut terancam. Kemungkinan besar, ia hanya akan membantu dari jauh tanpa harus turun tangan.
Ketiga wanita itu kembali ke dalam mobil, dan Ela kembali menyetir. Rasa sakit ditubuh terabaikan, tidak ada yang bisa menggantikan posisinya untuk menyetir. Terlebih, Diana masih dalam keadaan mata tertutup. Maka, semua bergantung padanya. Mobil itu melaju cukup cepat melewati jalanan hutan, menerobos rerumputan liar.
"Nek, sampai kapan mataku ditutup?" tanya Diana, jujur saja ia tak sanggup menerima gangguan yang tidak ada akhirnya.
__ADS_1
Matanya terpejam, tapi tetap melihat para makhluk. Jika hanya satu atau dua, masih bisa ditahan. Namun, kali ini seperti ia ditugaskan untuk mengabsen para makhluk gaib. Suara tawa, jeritan dan juga nyanyian berulang kali memekakkan gendang telinganya. Disisi lain, ia merasa ada yang aneh. Kenapa mata batin terbuka, tapi tidak ada yang berani mendekatinya?
Sementara disaat kemah. Justru suara lagu yang menyusup ke telinga bisa mengambil alih kesadarannya. Jika dipikirkan, tentu tidak masuk akal. Pertanyaan di dalam benaknya seperti rasa penasaran yang menumpuk. Ingin bertanya, tapi takut tidak mendapatkan jawaban sesuai harapan. Diana menghela nafas, helaan nafas yang ia jadikan penetralisir rasa didalam hati.
"Matamu akan tertutup, sampai kita menemui orang yang bisa membantu masalah kali ini. Simbah harap, cucuku kuat untuk bertahan. Pelepasan pita itu, hanya bisa dilakukan seseorang dan satu makhluk gaib. Kita berharap saja, teman simbah sudah turun gunung saat ini...,"
Penjelasan simbah didengarkan dengan baik tanpa ada yang terlewat, tapi ntah kenapa. Tiba-tiba saja, ia tidak bisa mendengarkan kelanjutannya. Apa ia menjadi tuli? Tidak! Bagaimana bisa terjadi seperti ini dalam waktu sekejap. Diana berusaha memukul kepalanya sendiri. Ia berusaha untuk melakukan tes, tapi tetap saja tidak bisa mendengarkan apapun.
Simbah tahu, apa yang terjadi pada sang cucu. Sementara Ella mulai kehilangan fokusnya menyetir karena mendengar teriakan Diana dan melirik sesaat ke belakang. Ia tahu tidak tahu, harus berkata apa lagi. Saat ini, ada satu makhluk yang menutup kedua telinga adiknya. Tatapan mata Simbah masih tenang. Ntah kenapa bisa seperti itu.
Simbah tersenyum, lalu mengangguk agar cucu pertamanya tenang. Makhluk gaib yang menutupi telinga Diana hanya berusaha membantu mereka. Semua itu terjadi karena makhluk itu merupakan teman dari Simbah. Apapun yang akan terjadi, semua sudah dipersiapkan. Rasa takut Diana tergambar jelas dari gemetaran tubuh gadis itu, dan jika tidak segera bertindak.
Bisa dipastikan, Diana akan mengalami gangguan yang jauh lebih besar. Tubuhnya yang mulai lemah, bisa saja menjadi mainan para cenayang dan pelayan Pangeran Iblis. Perjalanan berlanjut, dimana Ela harus mengabaikan hati seorang kakak dan bertindak rasional mengikuti apa yang neneknya arahkan.
__ADS_1
Satu jam berlalu, akhirnya mobil berhenti didepan sebuah gapura desa. Simbah memberikan nasehat singkat. Dimana kali ini, Ela tidak boleh melepaskan tangan Diana. Apapun yang terjadi, keduanya harus tetap bersama-sama. Wanita bercadar itu mengangguk paham, lalu ketiganya turun.
Diana yang masih tidak bisa mendengar apapun, harus menggunakan indera penciuman nya. Aroma parfum jeruk kesukaan Ela, membuat gadis itu kembali tenang. Sementara Simbah turun dengan menenteng dua bambu kuning sepanjang satu meter. Ketiga wanita itu berjalan menyusuri setapak dengan lebar satu meter.
Situasi malam menjelang dini hari, membuat mereka harus melangkah dengan hati-hati. Sunyi senyap sepanjang jalanan yang mereka lewati. Tanpa Ela sadari, di kanan kiri jalan. Dibalik semak-semak belukar yang setinggi satu meter setengah terdapat jejeran makam keramat. Tidak ada angin yang berhembus, bahkan tidak ada suara jangkrik. Sungguh situasi mencekam.
"Nek, apa rumahnya masih jauh?" tanya Ella, wanita itu tidak tega melihat keadaan Diana.
Sang adik yang kini ada disisinya, tidak berhenti gemetaran tubuhnya. Meskipun bibir diam terkunci. Tetap saja sebagai seorang kakak, ia tidak tega. Apalagi, dirinya tidak tahu apa yang dialami oleh Diana. Namun, pertanyaan itu tidak mendapat jawaban dari neneknya. Justru, wanita paruh baya yang berjalan di depan menancapkan satu bambu di sisi kiri setapak setelah semak belukar berakhir.
...----------------...
Maaf ya, reader's. Hari ini up double tapi kalau dibaca cepet habis. Tanganku masih belum kuat, jadi seadanya dulu. 😁 Happy Reading Reader's.
__ADS_1
Love you 🏃♀️
...----------------...