Kamar 126

Kamar 126
Menjenguk Dira


__ADS_3

"Eh, Bunda! Ini tadi kita lagi pada jengukin Dira!" Jawab Bryan dengan kepolosannya.


"Oh begitu rupanya!" Jawab Nadia sambil mengangguk paham.


"Dira, mama gak pernah melarang kamu untuk makan es krim!! Tapi tolong makanlah es krim sewajarnya saja! kalau kamu sakit seperti ini bukan hanya mama, tapi semua orang juga ikut merasa khawatir!" ucap Gisella yang berbicara dan menjelaskan pada anaknya itu.


Dira hanya bisa menunduk dan menjawab perkataan mamanya dengan anggukan, Karena dirinya memang merasa sangat bersalah sebab dirinya sudah membuat semua orang khawatir padanya.


Semua orang yang ada di sana merasa sedang menonton sebuah drama antara anak dan juga mamanya. Mereka hanya bisa menyimak percakapan antara mereka berdua ,begitu juga dengan Nadia yang masih berada di sana.


"Kalian semua juga jangan terlalu berlebihan terhadap makanan yang bisa membuat kalian sakit! dan jangan lupa untuk saling jaga satu sama!" Gisella memperingatkan semuanya supaya mereka saling menjaga satu sama lain, apalagi tentang masalah kesehatan.


"lya, apa yang Mama kalian katakan itu benar! Kalian harus menjaga satu sama lain!" kata Nadia yang membenarkan ucapan Gisella tadi.


"Siap Bunda!" jawab mereka semua serempak.


Namun setelahnya tiba-tiba saja ponsel Lucas berdering. Dirinya mendapat telepon dari salah satu mafioso miliknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam pun tiba, dan mereka pun segera menuju makan untuk makan malam bersama. Di sela-sela makan malam mereka, tiba-tiba saja Gisella menyinggung tentang liburan semester para anak-anak mereka.


"Oh iya, sebentar lagi kalian akan libur semester kan?" ucap Gisela yang menanyakan kepada seluruh anak-anak di meja makan.


"Ujian aja belum Ma!" jawab Dila sambil menyendok satu suapan nasi ke dalam mulutnya.


"Loh emangnya kalian belum ujian?" tanya Nadia yang sepertinya terkejut mengetahui mereka yang ternyata belum ujian semester.


"Belum Bunda!!!" jawab para anak-anak itu dengan kompak.


Gisella berdecak kagum karena mereka menjawabnya dengan kompak "Haish, kompaknya! apa jangan-jangan kalau kalian bohong juga kompak kayak gini?" kata Gisela yang mendadak menyinggung tentang berbohong.


"Eh ya enggak lah ma! pokoknya zaki nggak pernah ikut-ikutan kalau masalah bohong!" kata Zaki yang langsung menyahut ucapan Gisella tadi.

__ADS_1


"Pintarnya anak papi!" Ucap Alfin yang tersenyum bangga pada anak pertamanya itu. Zaki adalah anak pertama dari Alfin dan juga Lisa.


"Hah? Bukannya kemarin kakak habis bohong ya?" Ucap Alysa dengan kepolosannya.


Zaki menghela nafas lalu bergumam "Haish, dasar adik enggak bisa diajak kompromi!"


Tiba-tiba saja sebuah tangan menarik telinga Zaki "Nah ayo kamu bohong apa? cepat bilang sama Mami?" ucap Lisa sembari menjewer telinga anak pertamanya itu.


"Eh, Lis! Jangan kasar gitu dong sama Zaki!" Jeni perlahan melepas tangan desa yang tadi di tempat digunakan untuk menjawab zaki.


"Mom sakit!" Zaki merengek kepada Jeni, dan memeluk lengan Jeni sambil memanyunkan bibirnya.


"Astaga dia bukan kakak gue!" ucap Rafi yang memutar bola mata malasnya melihat kakak kandungnya merengek seperti itu.


"Ck, Anak siapa sih itu!" kata Alfin yang berkacak pinggang.


"Ya anak lo lah!" jawab Leon memberitahu.


"Tapi lihatlah dia! Kalau dia dimarahi oleh Lisa pasti larinya ke Jeni!" Alfin menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas melihat tingkah laku anaknya.


"Haish, kalau kamu terusin debatnya, aku nggak akan kasih kamu jatah!" Ancam Jeni secara tiba-tiba.


"Jatah apa ma?" Tanya Tania yang terlihat masih sangat polos.


"Nah, kan kamu gitu sih! Jawab aja sana!" Kata Leon yang menghela nafas karena anaknya bertanya pada Mommy nya seperti itu.


"Maksud mommy jatah makan kelinci sayang!"


"Memangnya kita punya kelinci?" Jawab Tania masih dengan polosnya.


"Punya sayang, tapi kelinci itu datangnya cuma pas malem aja!'' jelas Jeni lagi pada anak bungsunya.


"Gaib?" sahut Renald dengan wajah tanpa dosa dan kepolosannya yang tak kalah dari Tania.

__ADS_1


"Pffffff,,, sukurin lo Jen!" Chan terkekeh karena melihat anak Jeni yang terus bertanya seperti itu.


Jenie malah semakin dibuat bingung harus menjawab pertanyaan anak-anak bungsu itu bagaimana. Dia sampai menggaruk kepalanya karena merasa frustasi.


"Sudah anak-anak cepat habiskan makan kalian dan Jangan lupa belajar !" ucap Gisella yang seolah menjadi penolong untuk Jeni.


Lalu mereka serempak menjawab apa yang tadi dikatakan oleh Gisella, lalu mereka segera menghabiskan makan malam mereka dan pergi belajar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di malam yang dingin itu tepat setelah mereka makan malam terlihat Gisella sedang duduk di balkon kamarnya sembari menatap bintang-bintang yang ada di langit. yang seakan mengatakan kan bahwa suasana malam itu terasa sangat memilukan dan mengingatkan Gisella pada masa lalunya.


Chan yang melihat itu berjalan menghampiri istrinya.


Flashback on,,,


Jauh sebelum Gisella dan juga pasangan-pasangan lain yang memiliki keturunan. Lebih tepatnya setelah Chan dan juga Gisella kehilangan calon anak mereka.


"Sayang, aku ingin meminta satu hal padamu!" ucap Chan yang ingin membicarakan hal serius pada Gisella.


"Tunggu Chan! kau tak perlu mengatakan apapun! biarkan aku yang mengatakannya!" ucap Gisella yang salah mengerti apa yang akan dikatakan oleh suaminya itu, "mulai saat ini aku tidak akan lagi berhubungan dengan makhluk tak kasat mata! aku juga tidak ingin kau di masa depan nanti, anak-anakku kelak merasakan hal yang sama sepertiku!" Gisella melanjutkan ucapannya.


Mendengar ucapan Gisella itu ,Chan merasa senang tersenyum kearah Gisella.


"Syukurlah kalau kamu sudah mengerti!" kata Chan sambil memeluk hangat istrinya. Begitu juga dengan Gisella yang membalas pelukan hangat suaminya.


Flashback off,,,


sebenarnya Gisella sudah tahu kalau anaknya, Alfian. Dirinya memiliki keistimewaan yang sama seperti Gisella yaitu dapat melihat makhluk tak kasat mata. Akan tetapi awalnya ternyata Gisella tidak mengetahui, kalau sebenarnya anak pertamanya, Alfin. Juga sebenarnya memiliki keistimewaan yang sama seperti Alfian. Akan tetapi indra keenam milik Alfin hanya setengah terbuka dan tidak sepenuhnya terbuka seperti adiknya, Alfian.


Begitu juga dengan Alfin sendiri, yang memang tidak tahu kalau dirinya bisa melihat makhluk tak kasat mata. Bahkan Alfin tidak percaya akan adanya makhluk tak kasat mata.


Hal itu membuat kekhawatiran berkurang, karena yang dia tahu anak-anaknya tidak terlalu peduli dengan adanya makhluk tak kasat mata. Namun Gisella masih terus mengawasi Alfian supaya dirinya tidak usah dengan makhluk tak kasat mata.

__ADS_1


Dan itulah kenapa Alfian memilih diam diam ketika dirinya ingin membantu makhluk tak kasat mata. Itu semua karena mama Gisella melarangnya.


__ADS_2