
"Mark, lihatlah bintang itu!" Ucap Dila sambil menunjuk satu bintang yang bersinar terang di langit malam itu.
"Haish, mendung gini mana ada bintang sih, Dil?!" Kata Mark yang matanya masih mengarah pada kerlap kerlip lampu yang menerangi negara Jepang itu.
"Ish, buktinya itu ada satu!!" Dila lalu menyuruh Mark untuk melihat satu bintang itu. Dan benar saja Mark juga melihatnya.
"Gimana? Ada kan?!" Tanya Dila pada Mark dan hanya di jawab anggukan dan senyuman saja oleh Mark.
Tanpa mereka sadari ada Axel yang melihat mereka berdua. Axel yang tidak tahu kalau mereka ada di rooftop pun, akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama dengan mereka. Axel tampak melipat kedua tangannya di dada, lalu kemudian berjalan mendekat ke arah mereka berada.
"Dila!" Ucap Axel yang membuat Dila dan Mark terperanjat kaget mendengar suaranya.
"Eh, Axel lo di sini?!" Tanya Dila setelah mendapati Axel di belakangnya. Axel hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Lo ke sini sendiri?!" Tanya Mark mencoba menyapa Axel yang memang belum akrab dengan dirinya. Namun sayangnya Mark bersikap acuh pada Mark. Bahkan hanya meliriknya saja dan tak menjawab ucapannya.
Melihat kecanggungan terjadi di antara mereka bertiga, akhirnya Dila mengalihkan pembicaraan.
Dila menarik tangan Axel dan kini Axel berada tepat di sisi kiri Dila, sedangkan Mark berada di sisi kanan Dila.
"Axel, Lihatlah bintang itu!" Ucap Dila sambil menunjuk satu bintang untuk memperlihatkannya pada Axel.
Axel melihat satu bintang yang ada di langit, entah kenapa di atas langit yang mendung itu. Ada satu kerlip bintang yang muncul, membuat Dila, Mark dan Axel bahkan terheran dengan keberadaan bintang itu.
Perhatian mereka bertiga kini hanya tertuju pada bintang itu. Entah kenapa mulut mereka seakan bungkam dan tak ada interaksi apapun di antara mereka di sana. Dengan mata yang masih fokus pada bintang di langit gelap itu, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya, kilatan cahaya dari bintang itu tampak jatuh dati tempat asalnya. Bintang itu jatuh dari tempatnya membuat mereka bertiga takjub dengan pemandangan itu.
__ADS_1
"Astaga, lihatlah kenapa bisa kebetulan seperti ini? Bintang itu jatuh!" Suara Dila membuyarkan Mark dan Axel yang tampak larut dalam lamunan mereka masing-masing.
Mark pun yang melihatnya berkata, "Katanya kalau ada bintang jatuh, permintaan kita akan terkabul!" Kata Mark dengan masih menatap bintang jatuh itu.
"Benarkah?!" Dila menatap Mark dengan mata yang berbinar seakan tak percaya dengan tahayul itu, "Kalau begitu kita harus membuat permintaan!!" Pinta Dila lalu menutup matanya untuk memohon. Begitu juga dengan Mark dan Axel yang mengikuti Dila untuk meminta satu permohonan.
Pov Dila
"Gue harap Dira baik-baik aja di sana, begitu juga dengan kakak tertua gue!! Semoga seluruh keluarga gue selalu bahagia sampai ajal menjemput, dan aku ingin segera bertemu pangeranku!" Batin Dila dengan permohonan yang di buatnya.
Pov Mark
"Semoga keluarga ini selalu bahagia di mana pun mereka berada, dan semoga wanita yang gue cintai saat ini, bisa sepenuhnya gue miliki kelak!" Batin Mark dengan permintaannya.
"Semoga Dira baik-baik saja di sana, dan gue bisa menemukan pengganti yang seperti dirinya di masa yang akan datang!" Batin Axel.
Singkat cerita, setelah membuat permohonan yang entah itu akan berhasil atau tidak. Dila mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam mansion untuk beristirahat.
Keesokan harinya, mereka semua menuju ke pantai yang diinginkan oleh Dila. Mereka semua cukup bersenang-senang di sana. Bahkan Ayah Nathan sudah membeli pantai itu, dan kini telah menjadi pantai pribadi milik keluarga besarnya itu.
Terlihat para anak-anak ada yang main dipinggiran pantai, ada juga yang malah memilih berendam di kolam air hangat yang ada di dekat pantai itu.
Jessica adik dari Axel yang melihat Alfim duduk sendiri sambil memandang pantai. Akhirnya memutuskan untuk mendekat ke arah Alfin
"Kak Alfin udah punya pacar ya?!" Tanya Jessica tiba-tiba yang membuyarkan lamunan Alfin. Alfin langsung menoleh ke arah Jessica yang perlahan duduk di samping Alfian.
__ADS_1
"Kamu datang-datang kok nanya gitu,!" Ucap Alfin lalu menghela nafas, "Iya kamu bisa menebaknya sendiri apa kakak udah punya apa belum! Apa menurut kamu, kalau semisal kakak melamarnya dia akan mau sama kakak?!" Tanya Alfin pada Jessica, yang jelas-jelas umurnya beda dari Alfin.
"Haish, kakak gimana sih, mana ada wanita yang mau nolak lo sih kak, secara kak Alfim itu tampan, wanita mana yang nggak terpanah sama ketampanan kakak?!" Ujar Jessica yang malah memuji Alfin akan ketampanannya.
"Astaga, apa kau baru saja memuji kakakmu ini?!" Tanya Alfin terkekeh mendengar pujian dari Jessica yang di rasa imut di dengar.
"Ish, Jessica nggak bohong kok kak, nih lihat!" Ucap Jessica sambil mengeluarkan kaca cermin kecil dari sakunya dan mengarahkannya pada Alfin. Lalu menunjukkan wajah Alfin dari pantulan kaca cermin itu, "Gimana, gue nggak bohong kan kak?!" Ujar Jessica dengan polosnya sambil terkekeh sendiri melihat Alfin yang tersenyum ke arahnya.
"Haish, lo ini ya, pinter banget kalau menggoda kakakmu ini!!" Alfin mengacak-acak rambut Jessica.
Jessica memanyunkan bibirnya lalu berkata, "Ish kak kan jadi berantakan!" Ucapnya sambil merapikan rambutnya yang di acak-acak oleh Alfin, "Tapi bener deh kak, lebih cepat kan lebih baik, keburu nanti di ambil sama orang malah kakak yang nyesel lagi!!" Kata Jessica yang seakan kini malah jadi lebih dewasa di bandingkan dengan Alfin.
Mendengar itu, Alfin terdiam lalu membatin,"Benar apa yang di katakan sama Jessica, lebih cepat lebih baik, dan secepatnya gue bakal bawa Saviana bertemu dengan seluruh keluarga besar gue!" Batin Alfin.
Mereka semua terlihat bersenang-senang di pantai itu. Senyum indah merekah di wajah mereka, menghilangkan sejenak kesedihan mereka di masalalu. Liburan mereka yang ada di Jepang kali ini membuat mereka benar-benar melupakan kesedihan mereka yang telah berlarut-larut.
Sampai tak terasa waktu mereka di Jepang itu sudah lebih dari 5 hari. Nathan menyarankan agar mereka semua harus segera kembali ke mansion utama. Karena mereka juga masih memiliki tanggung jawab bersekolah, dan juga kuliah. Bagaimana pun pendidikan itu sangat penting dan harus di utamakan.
Mereka bersiap menuju mansion utama setelah mengunjungi makam Tao, Tio dan adik perempuannya yang ada di mansion Jepang itu. Pesawat mereka lepas landas dan terbang menuju ke negara mereka.
Sesampainya di mansion utama, tampa beristirahat Alfin segera menemui pujaan hatinya di tempat biasa. Entah bagaimana caranya seakan memiliki ikatan batin yang sangat kuat, Alfin sudah tau kalau Saviana pasti sekarang sedang menunggu dirinya.
"Alfin, kamu mau ke mana nak? Istirahat dulu!" Ucap Alfin yang melihat Alfin hendak mengendarai mobilnya.
"Alfin mau ketemu sama pacar Alfin bentar ma!" Kata Alfin yang terlihat terburu-buru
__ADS_1