Kamar 126

Kamar 126
Menemukan Dira


__ADS_3

Gubrakk,,,,


Terdengar suara dentuman pintu yang sangat keras. Pintu itu langsung saja terbuka dengan sekali hentakan kaki Chan yang mendobraknya.


Mereka cukup terkejut, begitu juga dengan Gisella. Mereka di perlihatkan sebuah rumah tua yang ada di balik lorong itu. Mereka yang langsung keluar dari lorong pun langsung di suguhkan pemandangan sebuah ruang kosong. Karena memang letak ujung pintu di lorong ini, ada di dalam sebuah ruangan yang hanya kosong saja.


Mereka juga tidak tahu letak rumah tua itu ada di mana. Mereka meyakini kalau itu adalah rumah tua, karena terlihat dari interiornya yang seperti tidak terurus.


"Cepat cari Dira di sini!!!" Perintah Gisella. Meskipun mereka tak tahu lagi harus mencarinya ke mana, dan mereka juga tak tahu diri mereka kini ada di mana. Mereka hanya bisa menurut dan terus melanjutkan pencarian.


Ada beberapa ruangan di dalam rumah tua itu. Bahkan Mark sempat menemukan bekas sesajen yang terletak di salah satu ruangan yang ada di sana.


"Kak, ada sesajen di sini!" Ucap Mark memberi tahu Gisella. Gisella yang mendengarnya pun langsung berlari menuju ke arah Mark berada. Dan benar saja, di sana ada sesajen yang begitu banyak.


Di salah satu sesajen itu terdapat sebuah kuali kecil yang di dalamnya ada dupa yang sudah di bakar, dan juga ada darah yang lumayan banyak.


Gisella tampak mengernyitkan dahinya, lalu langsung membuang kuali kecil itu yang berisi dupa dan tak sengaja tangannya menyentuh darah yang terdapat di sana.


Langsung saja, Gisella diperlihatkan kejadian sebelum adanya darah itu di sana. Penglihatan Gisella tidak pernah salah.


Di alam bawah sadarnya Gisella di perlihatkan kejadian saat anaknya, Dira. Di seret oleh 2 orang yang memakai jubah hitam dengan topeng yang menutupi wajahnya. Dira yang tak sadarkan diri itu di seret dengan brutal di bawa melalui lorong gelap yang bahkan berbau anyir itu.


"TIDAKK!!" Teriak Gisella saat tersadar dari alam bawah sadarnya. Konsentrasi Gisella terbuyar kan kala ada sosok anak kecil yang mengganggu dirinya dalam melihat apa yang terjadi sebelumnya.


Di sisi lain, Mela tampak menitihkan air matanya. Mela melihat adanya Dira di luar rumah tua itu. Dan mengusap air matanya lalu perlahan berjalan mendekati pintu untuk ke luar rumah itu. Entah apa yang membuat Mela bisa menitihkan air matanya, yang jelas dia sudah merasa sesak di dada saat mengetahui banyak arwah anak kecil yang berlarian ke sana ke mari dengan badan yang penuh dengan darah.

__ADS_1


Mela yang kini sudah berjalan mengikuti langkah Dira yang perlahan itu. Kini suasanya terlihat sangat menegangkan. Mela tak sedikitpun memanggil nama Dira, namun dia yakin sosok yang melihatnya itu adalah Dira. Lalu kenapa bisa Dira menjadi sosok? Apa dia sudah mati?


Mela bahkan yakin kalau itu sudah menjadi takdir Dira. Terlihat dia kini berada di rumah tua yang terletak di tengah hutan belantara. Bahkan dirinya sendiri yang tinggal di desa Loka tidak mengetahui adanya rumah tua tersebut.


Semua orang mengikuti Mela, kecuali Gisella dan Chan yang masih berada di dalam. Chan menenangkan Gisella yang histeris karena sempat memegang darah di dalam kuali itu.


Pov Gisella dan Chan.


"Sayang, tenanglah, ada apa?!" Tanya Chan sambil mengusap punggung Gisella. Dan berusaha menenangkannya.


"Tidak, ini tidak mungkin! Katakan kalau penerawanganku ini salah Chan!" Pinta Gisella sambil meronta pada Chan. Chan tampak bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Gisella seperti syok akan sesuatu yang baru saja dia lihat, namun tentu Chan tidak tahu apa yang di lihat Gisella barusan di dalam penglihatannya.


"Sayang ada apa?!" Tanya Chan bingung sambil memeluk Gisella yang mulai menangis.


"Chan, bawa Gisella keluar!" Tiba-tiba suara Alex mengagetkan mereka yang masih berada di dalam rumah tua itu. Sontak membuat Chan menoleh ke sumber suara.


"Ada apa?" Tanya Chan yang masih memeluk istrinya.


Alex tampak mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


"Kita sudah menemukan Dira!" Ucapnya yang mampu membuat Chan terlonjak kaget namun tidak dengan Gisella yang terlihat masih histeris.


"Apa!" Kata Chan sangat terkejut.


"Semuanya sudah ada di depan, kau harus melihat putrimu, Chan!" Kata Sehun yang wajahnya terlihat lesu dan bahkan matanya seperti mulai memerah menahan air mata yang tak mampu ia keluarkan.

__ADS_1


"Sayang, kamu dengarkan! Dira sudah di temukan! Sekarang berhentilah menangis!" Ucap Chan sambil menangkup wajah istrinya lalu mengusap air mata Gisella.


"Tidak, Chan tidak!!" Gisella seperti sudah tahu apa yang terjadi pada putrinya, bahkan sebelum dia mengecek dan memastikan kalau Dira ada di dekat rumah tua itu dan sudah di temukan.


"Lo gendong Gisella aja!" Saran Alex yang di angguki oleh Chan. Karena di rasa Gisella terlihat sangat lelah akan terus menerus dia menangis tadi. Chan langsung dengan sigap meraih tubuh ramping itu untuk di gendong menuju ke tempat yang lainnya berada. Alex mengikuti langkah merek dari belakang.


Di sisi lain, sebelum Alex  memanggil Gisella dan Chan yang masih ada di dalam rumah tua itu. Mereka semua tampak mengikuti Mela yang berjalan ke luar rumah tua itu.


Entah dari kapan mereka semua sudah mengikuti Mela yang ada di luar. Mereka tertegun dan membelalakkan matanya, melihat 2 mayat yang ada di dekat sebuah gundukan tanah. Mayat yang tak lain di yakini sebagai bi Tina dan bi Sara. Entah apa yang menyebabkan mereka tewas mengenaskan seperti itu.


Namun pandangan Mela teralih pada gundukan tanah yang ada di dekat jasad bi Tina dan bi Sara. Mela tampak menelan ludahnya dengan kasar.


"Maaf tuan, apa saya boleh meminta bantuan?!" Tanya Mela pada Leonyang ada di dekatnya.


"Bisa, katakan saja apa yang mesti di butuhkan!" Leon menawarkan.


"Saya minta tolong untuk gali gundukan tanah ini tuan!" Pinta Mela dengan nada yang sudah terdengar sedikit satu. Matanya mulai memanas, entah apa sebabnya.


Dengan menjentikkan jarinya saja, Leon menyuruh mafioso nya untuk melakukan tugas yang telah di perintahkan tadi. Mafioso yang di perintah pun tanpa ragu langsung menggali gundukan tanah itu.


Semua semua yang ada di sana menyaksikan apa yang Mela suruh. Meski belum tahu dengan apa yang ada di dalam gundukan tanah itu. Tapi hati mereka seperti terasa sangat sesak melihat gundukan tanah itu di gali.


Sampai akhirnya mata mereka terbelalak tak percaya. Mereka sebuah jasad yang tak lain adalah Dira. Dirinya di temukan terbujur di dalam gundukan tanah itu, dengan kondisi yang memang sudah tidak bernyawa lagi. Bahkan yang membuat mereka syok berat. Ketika melihat kepala Dira yang tak menyatu lagi dengan tubuhnya. Membuat siapapun yang melihatnya merasa lemah tak berdaya , seakan kakinya tak kuat lagi untuk menopang tubuh mereka. Semua ambruk dengan posisi masih melihat jasad Dira yang sudah sangat pucat.


Mafioso itu mengangkat tubuh Dira dan meletakkannya di karpet merah yang kebetulan ada di sana. Entah mungkin karpet itu sempat di gunakan oleh seseorang saat berada di sana.

__ADS_1


__ADS_2