Kamar 126

Kamar 126
Penyesalan Axel


__ADS_3

Mafioso itu mengangkat tubuh Dira dan meletakkannya di karpet merah yang kebetulan ada di sana. Entah mungkin karpet itu sempat di gunakan oleh seseorang saat berada di sana.


"Tidak mungkin!!! Dia bukan Dira!!! Ini pasti bukan Dira!!!" Dila yang melihatnya langsung berteriak sekaligus menangis histeris. Dirinya tidak menyangka kalau kembarannya akan mengalami takdir yang seburuk ini. Bunda Nadia langsung meraih tubuh Dila yang sedang histeris itu untuk menenangkannya. Walaupun hatinya sendiri sebenarnya hancur melihat kondisi Dira yang sangat mengenaskan.


Dan saat itulah ,Alex memilih masuk ke dalam rumah tua itu. Untuk memberi tahu Chan kalau Dira sudah di temukan. Akan tetapi Alex sengaja tidak memberi tahu Chan kalau Dira di temukan dalam kondisi tidak bernyawa. Biarlah Gisella dan Chan melihatnya sendiri. Mana mungkin dia tega mengatakan hal buruk itu.


Mereka semua yang ada di sana menangis dan tak mampu membendung air matanya, melibat jasad Dira. Dila yang langsung terduduk lemas di dekat jasad saudara kembarnya itu, langsung berusaha membangunkannya. Namun itu pasti tidak akan berhasil, Dira sudah tenang di alam sana.


"Dira bangun! Aku belum sempat tidur satu kamar dengan kamu lagi!" Ucap Dila mengingat Dira yang ingin tidur bersama dengannya karena takut, "Bangun, Dir! Aku janji akan selalu tidur satu kamar sama kamu! Bangunlah Dira! Aku percaya kamu takut, aku percaya!!" Dila tak henti-hentinya menangis sambil terus menggoyang-goyangkan tubuh Dira yang sudah tak bernyawa.


Axel menjadi orang ke 3 yang sangat terpukul akan kepergian Dira yang sangat mengenaskan. Dirinya yang awalnya hanya mengira kalau Dira itu tidak benar-benar ketakutan. Kini dia menyesal karena tak bisa menjaganya, dan menyesal karena sempat tak percaya dengan Dira. Bahkan membuatnya sampai mengunci diri di kamar. Meskipun Dira sudah memaafkannya dan begitu pula sebaliknya. Tapi tentu saja Axel menjadi orang yang sangat menyesal akan hal ini. Menatap jasad orang yang dia cintai, terbujur kaku dan dengan kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa menit kemudian Chan sampai dengan menggendong Gisella yang masih saja menangis. Entah apa yang membuatnya menangis, Chan masih bingung.


"Alex, di mana Dira?" Tanya Chan yang tidak melihat adanya Dira di sana.


Sontak Gisella langsung turun dan berlari ke jasad Dira.


"Dira sayang, ini mama nak! Bangun sayang, ayo kita pulang!" Seakan sudah mendapatkan penerawangan seperti itu, Gisella tak peduli lagi walaupun kepala Dira tak menyatu lagi dengan tubuhnya. Gisella juga masih tidak percaya kalau itu akan terjadi pada anaknya yang penakut ini.

__ADS_1


"Bangun, Dira! Seharusnya mama membawa kamu pulang bersama mama kemarin! Mungkin ini tidak akan terjadi padamu nak!" Gisella menangis histeris, dia juga sangat menyesal karena kemarin tidak membawa Dira pulang bersama dengannya.


Chan yang awalnya terpaku melihat anaknya tak bernyawa lagi, apalagi menatap tubuh anaknya yang tak menyatu dengan kepalanya. Dia tertegun sambil menelan saliva nya dengan sulit. Matanya memerah dan mulai kabur karena genangan air mata di dalam kelopak membuat matanya semakin perih.


Brukk,,,


Chan langsung terduduk lemas menatap anaknya sudah tewas dengan kondisi yang mengenaskan. Dia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Chan memang merasa kehilangan, tapi dia berusaha menahannya demi Gisella, istrinya.


Nathan menepuk pelan pundak Chan dan berusaha menenangkan Chan, "Chan lo harus kuat, lo nggak boleh tunjukin kelemahan lo di depan anak sama istri lo! Mereka butuh lo Chan!".


Seluruh tangisan pecah di hutan belantara itu. Hutan yang awalnya hanya hening saja dan tak ada penghuninya. Kini terdengar suara tangisan histeris dari kerabat Dira. Tragisnya kepergian Dira membuat semua orang tidak terima dengan apa yang menimpa anak tak berdosa itu.


Sudah banyak anak kecil yang bahkan di jadikan tumbal oleh mereka. Itulah sebabnya banyak sosok anak kecil yang berkeliaran di vila itu dan bahkan Dira bisa melihatnya sendiri.


Sewaktu Dira dan para saudaranya datang ke vila itu. Ternyata bi Tina dan bi Sara masih membutuhkan 3 tumbal lagi. Mereka berniat menjadikan anak-anak yang menginap itu tumbal untuk iblis kegelapan. Akan tetapi saat ritual penumbalan tiba, tepatnya saat pukul 12 siang. Ternyata bi Sara dan bi Tina tidak bisa memenuhi persyaratan yang harus menumbalkan 3 anak sekaligus pada malam itu. Sampai akhirnya iblis kegelapan yang mereka anut pun murka, mereka terbunuh dengan kekuatannya sendiri lalu menjadi pelengkap tumbal pada hari itu.


Sebelum menjadi penutup tumbal itu, mereka sempat memenggal kepala Dira dan meletakkan darah di atas dupa yang berada di rumah tua itu. Itulah sebabnya kenapa Gisella bisa langsung tahu apa yang terjadi pada Dira saat menyentuh darah milik anaknya sendiri. Tak ayal juga penglihatan Gisella saat bermimpi 2 algojo dan juga penglihatan 2 orang di kamar Dira sebelumnya. Ternyata kini mereka tahu kalau bi Tina dan bi Sara lah pelakunya.


Malam hari pun tiba dan Chan pun memutuskan untuk menggendong Gisella yang pingsan karena melihat Dira. Jasad Dira harus segera di bawa ke kediaman mereka malam itu juga. Mereka akan memakamkannya di keesokan hari.


"Chan, mafioso kita sudah menemukan jalan ke vila tanpa melewati lorong itu!" Kata Nathan memberi tahu Chan dan yang lainnya.

__ADS_1


Pov Alfin


Sebagai anak pertama dari Chan dan juga Gisella, Alfin harus berusaha tegar di hadapan adik-adiknya nanti. Dia mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.


"Gue tahu ini berat banget buat lo! Lo harus kuat! Gue juga merasakan apa yang lo rasakan Alfin!" Kata Lucas sambil menepuk pundak Alfin untuk menenangkan.


"Thank's Lucas!" Ucapnya sambil menarik nafas lalu menghelanya dengan panjang.


"Chan, kita harus segera membawa Dira pulang!" Kata Byun menyarankan. Dan di angguki oleh Chan.


Sedangkan di disi Axel, dirinya yang merasa paling bersalah masih tidak berani mengatakan apapun di depan Dira yang masih tak bernyawa.


"Dira, maafin gue karena nggak bisa jagain lo! Gue bahkan belum sempat buat ngungkapin perasaan gue ke lo ,Dir!! Tapi kenapa lo pergi secepat ini Dira! Kalau gue boleh memilih, lebih baik gue di tinggal nikah sama lo, dari pada ditinggal pergi untuk selama-lamanya sama lo!" Batin Axel yang masih terpaku. Sampai terdengar suara yang memanggil namanya.


"Axel!" Panggil mama Sindy yang melihat anaknya diam terpaku dengan segala linangan air mata.


"Mama!" Axel langsung berhambur memeluk mamanya.


"Mama tahu ini berat buat kamu, Nak! Ikhlaskan Dira ya sayang, biarkan dia tenang di alam sana!" Kata Sindy menenangkan Axel.


Axel hanya mengangguk dan tak mampu mengucapkan kata untuk menyetujui ucapan mamanya. Bagaimana bisa dirinya mampu mengikhlaskan kepergian Dira yang bahkan secepat itu dan sesadis itu.

__ADS_1


__ADS_2