
Gisella pun berbalik ke arah Alfian , kini posisi keduanya saling berhadapan. Namun dengan AlfianĀ yang masih menunduk seakan menyesal membuat mamanya menangis, karena sudah membuat mamanya mengingat luka lamanya.
"Itu sebabnya mama melarang kamu, nak! Mama nggak mau kalau sampai mama kehilangan anak mama lagi!" Ucap Gisella lalu setelahnya memeluk hangat anaknya itu.
"Maafkan Alfian ma, Alfian berjanji tidak akan melakukannya lagi!" Alfian pun membalas pelukan hangat Gisella.
"Syukurlah kamu mengerti nak!"
Setelah beberapa menit larut dalam pelukan, Gisella pun melepas pelukannya dan menghapus air matanya.
"Nak, mama minta kamu merahasiakan ini dari semua para saudara kamu!" Pinta Gisella sambil menangkup pipi anaknya itu.
"Tapi kenapa mama merahasiakan ini dari kami semua ma? Bukankah akan lebih baik kalau mama memberitahukan ini pada semuanya? Mereka juga berhak tahu tentang ini ma!" Kata Alfian menanyakan pada Mamanya.
"Iya mama tahu, tapi mama belum siap untuk mengatakannya pada semua saudara kamu! Menurut mama ini juga belum saatnya mama memberi tahu mereka semua, nak!" Ucapnya.
"Tapi bagaimana kalau mereka semua justru malah merasa kecewa saat mengetahui rahasia ini ma?" Tanya Alfian.
"Mama sudah memikirkan itu nak! Biarkan saja masalalu kelam ini menjadi rahasia! Lagi pula tidak sedikit nantinya yang tidak percaya dengan apa yang di alami mama di masalalu, mereka pasti juga ada yang tidak percaya akan penglihatan mama ini!" Ucap Gisella menjelaskan.
"Kalau memang itu mau mama, Alfian hanya bisa mendukung apa pun yang menjadi keputusan mama! Tapi Alfian mohon jangan terlalu lama menyembunyikan ini ma, Alfian nggak mau kalau sampai mereka semua marah pada mama karena kecewa! Alfian nggak tega ma!" Ucap Alfian.
"Iya sayang, secepatnya mama akan usahakan untuk mengatakannya!" Kata Gisella dan di balas senyuman oleh Alfian.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat mereka berdua menoleh ke arah pintu dengan rasa penasaran.
"Siapa itu?" Tanya Gisella.
"Alfian juga nggak tahu ma!" Jawab Alfian tak mengerti.
"Kalau begitu biar mama yang membukanya , dan kamu istirahat saja!" Perintah Gisella pada anak bungsunya itu.
"Iya ma!" Alfian mengangguk lalu kembali ke ranjangnya.
Setelah itu Gisella pun berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
Ceklekk,,,
Terlihat seorang pria yang menunggunya di depan pintu kamar itu.
"Chan?" Ucap Gisella setelah melihat Chan di depan pintu.
__ADS_1
"Gisella, kenapa harus mengunci pintunya?" Gerutu Chan sambil memencepkan bibirnya.
"Biar nggak ada yang dengar!" Bisik Gisella sambil terkekeh.
"Haish!" Chan menghela nafas.
"Eh, mama, papa? Kalian ngapain berdiri di depan kamar Alfian?" Tanya Dila yang tak sengaja lewat.
"Oh ,mama tadi habil ngecek kondisi adik kamu aja kok! Kamu tidur ya ini udah malam, papa sama mama mau ke kamar dulu" kata Gisella dan diangguki oleh Dila, lalu beranjak menuju kamarnya. Chan mendekati anak perempuannya itu dan mengusap pangkal rambutnya, "Selamat tidur putri papa yang cantik!" Chan pun beranjak setelah Dila tersenyum mendengar ucapan Chan tadi.
Setelah mama dan papanya berlalu, Dila pun masuk ke dalam kamar Alfian.
"Loh ,kak Dila?" Ucap Alfian yang melihat Dila masuk ke dalam kamarnya.
"Gimana kondisi lo dek?" Tanya Dila.
"Gue udah mendingan kok kak!" Jawab Alfian sambil tersenyum.
Dila pun duduk di ranjang Alfian.
"Dek, tadi mama ke sini ngapain sih, sampai pintunya di kunci segala?" Tanya Dila penasaran.
"Jadi tadi kak Dila lihat kalau mama ke sini dan mengunci pintunya? Terus apa yang harus gue omongin ke kak Dila?" Batin Alfian.
"Eh sorry kak, tadi kakak tanya apa?" Alfian sedikit berbohong pada kakaknya dengan menanyakan lagi perihal apa yang di tanyakan oleh kakaknya tadi.
"Haish, tadi tuh kakak tanya! Kenapa mama masuk ke sini dan mengunci pintunya?" Dila mengulang pertanyaannya lagi.
"Oh ya, tadi mama cuma mau bilang aja sama gue!" Jawab Alfian santai.
"Bilang apaan?" Tanya Dila penasaran.
"Ya bilang soal perihal aku udah beneran sembuh apa belum!" Kata Alfian mencoba meyakinkan kakaknya.
"Dek, kakak ini bukan anak kecil lagi ya! Jangan coba-coba bohong sama kakak!" Ancam Dila yang justru tidak percaya akan apa yang di katakan oleh Alfian tadi.
"Gue nggak bohong kok kak! Kalau kakak nggak percaya ya tanya aja sama mama langsung!" Kata Alfian yang masih menutupi kebenarannya.
"Hahhh!!! Lama-lama ngeselin juga ya lo dek!" Dila menghela nafasnya karena tak kunjung mendapat jawaban yang dia inginkan.
"Dila!" Panggil Dira dari ambang pintu kamar Alfian , sontak membuat Alfian dan Dila menoleh ke arah sumber suara.
"Astaga apaan!!" Ucap Dila yang terkejut melihat Dira memakai baju putih dan celana pendek berwarna putih juga, membuat Dila terkejut melihatnya yang berada di ambang pintu.
__ADS_1
"Pffff, apaan sih kak, masak gitu aja takut!" Alfian terkekeh melihat kakaknya yang terkejut.
"Gue tuh nggak takut, tapi cuma jaga-jaga aja!" Ucap Dila sambil mengelus dadanya.
"Jaga-jaga buat apa kak?" Tanya Alfian dengan menaikkan satu alisnya ke atas.
"Ya jaga-jaga aja, siapa tahu tadi maling!" Kata Dila dengan santainya.
"Wah, kebangetan lo ya! Pakai segala ngatain gue maling!" Ucap Dira sambil memencepkan bibirnya, juga berdecak kesal pada Dila.
"Lah, situ maling nggak?" Tanya Dila pada kembarannya itu.
"Haish, ya nggak lah!" Kata Dira dengan memutar bola mata malasnya.
"Nah, ya udah beres kan? Udah cepetan bilang lo mau apa manggil-manggil gue?" Dila mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Syukurlah kak Dira datang di waktu yang tepat, kalau gini kan gue nggak perlu bingung cari-cari alasan lagi buat jawab pertanyaan kak Dila tadi!" Batin Alfian merasa lega.
"Gue cuma mau tanya sama lo!" Ucap Dira.
"Tanya apaan?" Ucap Dila balik bertanya.
"Lo udah siapin barang-barang lo buat besok?" Tanya Dira.
"Ya jelas udah lah, Dir! Lagian nggak perlu bawa barang banyak juga! Nanti di sana tinggal beli aja!" Ucap Dila dengan santainya.
"Ish, lo lama-lama kayak Bryan ya! Yang pergi cuma bawa dompet, ponsel sama masker doang!" Ucap Dira yang menyamakan Dila dengan Bryan
"Hehehe, sekali-sekali, Dir!" Dila malah terkekeh melihat tingkahnya sendiri yang mirip dengan Bryan.
"Memangnya kak Dila sama kak Dira mau ke mana?" Tanya Alfian di sela-sela percakapan antara kedua kakak kembarnya itu.
"Oh, lo belum tahu ya?" Ucap Dila menanyakan. Dan hanya di jawab anggukan oleh Alfian.
"Gue, Dira, Bryan, Victor, Alisya sama Axel mau ngerjain makalah di desa Loka!" Jelas Dila memberi tahu Alfaian.
"Loh, ngapain jauh-jauh ke sana Kak kan di deket-deket sini juga ada desa!" tanya Alfian heran kepada kedua Kakak kembarnya.
"Haish, kita itu memang sengaja mencari desa yang jauh! Soalnya kata orang-orang sama di media, Desa itu terkenal sekali dengan keindahannya yang masih asri!! keindahan yang berada di desa Loka juga belum banyak terjamah oleh banyak orang!" Dila menjelaskan tujuan dirinya memilih untuk pergi ke desa Loka.
"Ya itu kan karena tempatnya memang horor! jadi nggak banyak orang yang mau datang ke sana! gue aja sebenarnya juga ngerasa takut buat ke sana!!" Dira malah bergidik ngeri mendengar dan menceritakan tentang Desa Loka itu pada adiknya.
"Lah, kalau takut kenapa malah ikut kak?" Tanya Alfian penasaran.
__ADS_1
"Ya mau gimana lagi? Ini juga terpaksa kali dek! demi nilai gue rela takut!" jelas Dira tentang ketakutan nya.