Kamar 126

Kamar 126
Gisella pingsan


__ADS_3

Alfian seketika terjatuh karena hilang keseimbangan untuk menopang tubuhnya, akibat luka tusukan pada perutnya.


Guru itu pun tampak tersenyum smirk ke arah Alfian. Dan dirinya hendak menusuk bagian jantung Alfian.


Tiba-tiba, sosok hantu itu muncul tepat di depan guru itu.


Deg,,,


Guru itu tampak membelalakkan matanya melihat sosok hantu itu yang muncul di depannya.


"Sudah cukup kau membunuhku! Tapi tidak akan aku biarkan kau membunuh pemuda ini!" Ucap sosok itu yang muncul dengan wajah mengerikannya.



"Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu pada polisi!" Ucap hantu itu lagi.



"Tidak mungkin! Kau sudah mati! Bagaimana kau bisa muncul?" Tanya guru itu tak percaya.


"Aku bahkan bisa saja membunuhmu, tapi aku tidak akan melakukannya karena aku tidak ingin pergi ke neraka!! Tapi sekarang, mungkin saatnya kau pergi ke neraka bersama denganku! Aku rela pergi ke neraka asal kau mati di tanganku!!!" Ancam sosok itu.


"Hah? TIDAK!! jangan mendekat!" Guru itu tampak ketakutan saat melihat sosok hantu itu mendekat ke arahnya dengan memegang sebuah pisau.


"Sekarang, terimalah kematian mu!" Ucap hantu itu.


"Ja-jangan la-ku-kukan it-itu!" Ucap Renjun terbata dan mencoba menghalangi niat buruk sosok itu.


Gubrakkkk,,,


Suara pintu terdengar keras, akibat di buka paksa oleh polisi. Sosok yang tadi hendak menusuk guru itu pun langsung menghilang seketika. Sedangkan guru itu justru malah tampak kebingungan.


"Jangan bergerak!" Dengan cepat polisi itu mengarahkan pistol pada guru itu karena jelas terbukti kalau dia akan melakukan percobaan pembunuhan pada Alfian. Guru itu langsung mengangkat kedua tangannya ketika polisi telah mengarahkan pistol tepat di kepalanya.


Sosok Grace muncul kembali tepat di dekat Alfian, namun hanya Alfian dan guru itu yang mengetahui keberadaanya.


"Tang-kap di-dia pak!" Ucap Alfian dengan terbata karena menahan sakit pada perutnya. Setelah mengucapkan itu, Alfian tidak sadarkan diri.


Di saat yang bersamaan, kebetulan Bryan habis dari toilet dan melewati ruangan itu, yang sudah di penuhi oleh polisi. Karena penasaran, Bryan pun memutuskan untuk melihat lebih dekat lagi. Betapa terkejutnya Bryan saat melihat Alfian tergeletak di lantai dengan berlumuran darah.


"ALFIAN!!!" teriak Bryan sambil membelalakkan matanya.


"Alfian bangun! Pak apa yang terjadi pada adik saya?!" Tanya Bryan pada salah satu polisi yang ada di sana.


"Dia di tusuk pada bagian perutnya oleh guru itu, dan kami akan membawanya ke rumah sakit!" Polisi itu berkata dengan posisi yang hendak membopong Alfian untuk di bawa ke mobilnya menuju rumah sakit.

__ADS_1


"Cepat bawa dia ke rumah sakit pak!" Ucap Alfian dengan mata yang berkaca-kaca.


"Baik!" Jawab polisi itu yang setelahnya langsung membawa Alfian ke rumah sakit, sedangkan Bryan langsung berlari ke kelasnya untuk memberi tahu yang lainnya tentang hal itu.


Sesampainya di kelas,


Bryan yang dari tadi berlari terlihat terengah-engah, dan matanya yang memerah karena menangis.


"Bryanlo kenapa?" Tanya Dila yang melihat Bryan menangis.


"Kenapa sih lo? Kayak habis kesurupan aja sih?" Ucap Alisya.


"Bryan, lo nangis?" Tanya Dira yang langsung pada intinya.


Semuanya langsung menoleh ke arah Bryan berada, dengan tatapan penuh penasaran mereka menunggu jawaban juga penjelasan dari Bryan.


"Alfian!!!" Kata Bryan dengan nafas yang tersengal-sengal akibat berlari tadi.


"Alfian? Ada apa dengan Alfian?" Tanya Dila yang sudah penasaran akan apa yang terjadi pada Alfian.


"Dia!" Ucap Bryan.


"CEPAT KATAKAN!!!" bentak Dila yang sudah tidak sabar menunggu penjelasan dari Bryan. Dengan rasa yang sudah mulai khawatir.


Deg,,,,


"Bryan, lo jangan main-main sama ucapan lo!" Ucap Dila yang masih tak percaya.


"Gue nggak bohong!" Sergah Bryan yang langsung membuat semua percaya dan mereka langsung menuju ke rumah sakit. Sedangkan Bryan memberi tahu para adik-adiknya kelas 11 untuk mengajak mereka juga ke rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah sakit, Alfian langsung di tangani oleh beberapa dokter ahli, dan juga ada dokter V yang ikut menanganinya juga.


Semua yang menunggu di sana merasa khawatir sampai akhirnya kabar itu membuat para orang tua langsung datang ke rumah sakit. Terlihat mereka datang ke rumah sakit dengan wajah yang penuh akan kekhawatiran, terutama dengan Gisella (Mama Alfian).


"Di mana Alfian anakku? Apa yang terjadi padanya? Kenapa bisa sampai begini?" Tanya Gisella dengan panik.


"Sayang, tenangkan dirimu! Anak kita Alfian sudah di tangani dokter V di dalam!" Ucap Chan yang mencoba menenangkan istrinya yang terlihat sangat khawatir.


"Bagaimana aku bisa tenang? Anak kita terbaring lemah di dalam sana, Pa!" Ucap Gisella menangis.


"Gisella, bukan hanya kamu, aku juga khawatir terhadap anak kita! Dan kita semua juga merasa khawatir dengan anak kita! Tapi kamu jangan seperti ini!" Kata Chan sambil memeluk Gisella.


Gisella pun melepas pelukan dan mendekati anak kembarnya, yang lebih tepatnya kakak dari Alfian.

__ADS_1


"Dila, katakan sama mama! Apa yang terjadi pada adikmu?" Tanya Gisella yang mengharap penjelasan dari Dila.


"Aku tidak tahu ma, Bryan yang memberi tahu aku tadi!" Ucap Dila yang menatap kosong ke arah lantai, karena merasa khawatir akan adiknya.


Saat itu Bryan yang ada di dekat Dila pun langsung berkata, "Aku juga tidak tahu ma! Yang aku lihat saat aku masuk ke ruangan gueu itu sudah banyak polisi dan Alfian sudah tidak sadarkan diri!" Bryan menjelaskan.


Gisella langsung terduduk histeris di lantai dengan berlinangan air mata.


"Anak kita pa! Selamatkan anak kita!" Gisella menangis, khawatir akan kondisi Alfiandi dalam sana.


Chan pun langsung mendekatinya dan memeluknya untuk menenangkannya.


"Kamu harus tenang sayang, demi Alfian!" Ucap Chan. Namun seketika, Gisella pingsan dan membuat mereka bertambah khawatir pada Gisella.


"Gisella bangun!" Panggil Chan sambil menepuk pelan pipi Gisella yang pingsan.


"Mama?" Ucap Dila yang melihat mamanya pingsan.


"Suster!!" Panggil Byun.


"Ada apa tuan?"


"Cepat tangani istri saya!" Kata Chan yang melihat suster datang menghampiri mereka.


"Baik tuan, silahkan bawa nyonya ke kamar ini, kami akan memeriksanya!" Ucap suster itu mengarahkan.


Chan langsung menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam ruang yang sudah di siapkan oleh suster tadi.


Byun dan juga Leon  yang saat itu melihat adanya polisi langsung menghampiri untuk meminta penjelasan, karena para polisi itu yang membawa Alfian ke rumah sakit.


"Pak katakan sama kami, apa yang terjadi pada anak kami sampai dia mengalami hal seperti itu?" Tanya Byun yang meminta penjelasan pada para polisi.


"Kami mendapatkan laporan dari anak ini, tentang kejahatan yang sudah di lakukan oleh gurunya yang di duga melakukan pelecehan seksu*al terhadap muridnya! Dan katanya kejadian itu sudah 2 tahun yang lalu, anak ini memberi tahu kami dengan menunjukkan rekaman cctv mengenai kejadian itu!" Jelas dokter itu.


"Namun saat kami datang ke lokasi, anak itu sudah dalam keadaan tertusuk dan langsung tidak sadarkan diri! Kami juga sudah menyelidiki kalai sebelum terjadi penusukan, anak ini sempat terlibat perdebatan dengan tersangka! Sampai akhirnya tersangka berbuat nekat dan menusuk anak ini!" Jelas polisi itu lagi.


"Kurang ajar!" Ujar Leon dengan mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan marah dan juga kesal.


Leon yang hendak mencari orang itu di cegah oleh Byun.


"Lo tenang lah!! Lo nggak perlu cari dia, dia udah ada di tahanan sekarang! Untuk kali ini, biarkan polisi saja yang menanganinya!" Ujar Byun menenangkan Leon.


"Pak, tolong hukum pelaku seberat-beratnya! Kalau sampai bapak tidak memberikan hukuman yang berat! Maka kami sendiri yang juga akan menghukum pihak kepolisian juga pelaku yang sudah melakukan ini pada anak kami!" Ancam Byun pada polisi itu.


"Baik tuan, kami akan memberikan hukuman yang sangat berat untuk pelaku!" Ujar polisi itu.

__ADS_1


__ADS_2