
"Cepat angkat!" Perintah Mark.
Langsung saja Victor mengangkat telepon itu.
"Halo selamat pagi!" Ucap suara di balik telepon yang di yakini sebagai polisi.
Jeno menjawab, "Iya selamat pagi!"
"Apa benar ini dari tuan Victor yang kemarin mengantar, saudara Satyo ke kantor polisi?!" Ucap polisi itu di seberang telepon.
"Iya benar saya sendiri, ada apa ya pak?!" Tanya Victor setelahnya.
Polisi itu mengatakan hal yang tak terduga membuat dirinya tercengang dan tak mampu berkata-kata.
"Maaf sebelumnya, saudara Satyo kami temukan telah tewas di sel!" Kata polisi itu.
Semua yang melihat Jeno membelalakkan matanya pun langsung mendekat karena rasa penasaran mereka.
"Ada apa?!" Tanya Mark penasaran.
Karena tak mendapat jawaban dari Jeno, Lucas langsung mengambil ponsel Victor dan memencet tombol speaker pada ponsel itu.
"Kami menemukan jasad nya, dengan kondisi luka sayatan di lehernya!"
Deg,,,,
Bagaimana bisa dia bunuh diri seperti itu? Dan kenapa dia menyayat lehernya sendiri?
"Kita segara ke sana!" Ucap Lukas dengan wajah memerah menahan amarah. Dia tak terima kalau pria paruh baya itu mati begitu saja, padahal kemarin dia tidak ingin melepaskannya dengan tujuan biarkan dia mendekam di dalam sel tahanan. Tapi mendengar dia mati karena bunuh diri, membuat darah Lucas naik dan tak terima. Pria paruh baya yang tak lain adalah Satyo itu seharusnya mendapatkan balasan yang setimpal, bukan malah mati begitu saja.
Setelah itu telepon dimatikan secara sepihak oleh Lucas.
"Kenapa bisa dia bunuh diri?!" Tanya Victor yang akhirnya angkat bicara.
"Ada yang tidak beres!" Kata Alfin mencoba menerka-nerka.
Mark hanya terdiam membisu, ingin sekali rasanya dia menyelesaikan ini sampai tuntas. Tapi dia bisa apa? Dia tidak ingin membuat Mama Gisella kecewa kalau sampai beliau tahu, Mark melanggar aturannya.
Alfian yang awalnya diam pun ikut nimbrung, "Aku memimpikannya semalam! Pantas saja dia ada di sana, ternyata dia telah tiada!" Jelas Alfian dengan apa yang dia alami tadi malam.
"Maksud lo gimana?!" Tanya Alfin.
Belum sempat Alfian menjawab, Lukas sudah lebih dulu memotong ucapannya, "Nanti saja ceritanya, kita harus segera ke kantor polisi!" Kata Lucas dengan gigi yang saling gemeretak menahan amarahnya.
Mereka oun akhirnya bersiap di kamar masing-masing, membersihkan diri dari peluh mereka setelah olah raga di tempat gym.
Di sisi lain, tampak Rafi, Zaku dan Adam tengah melakukan sesi pemotretan di sebuah perusahaan. Yang tak lain milik Brian yang di kelola oleh Ayah Nathan. Karena Brian sedang malas berada di perusahaan sekarang.
"Haish, berapa sih bayar kalian?" Tanya Renald yang terlihat duduk anteng sambil menunggu para kakaknya selesai pemotretan.
"Mungkin 10 sekali potret!" Jawab Rafi enteng.
"Haish, melelahkan tapi kalian cuma di bayar segitu? Buang-buang waktu!" Ucap Renald dengan sikap tengilnya.
Adam yang baru saja di ganti oleh Zaki pun berjalan mendekat dengan tangan berkacak pinggang, mendengar adiknya mengatakan hal seperti itu tadi, "Heh! Bocah tengil! Lo tahu apa? Lagian meskipun kita nggak di bayar, uang bulanan kita tetap bertambah, lo sendiri juga nggak tau kan gimana caranya ngabisin duit? Lo juga bikin susah tahu nggak!" Kata Seok Jin kesal.
__ADS_1
"Kenapa bisa susah?" Tanya Renakd.
"Emang lo bisa ngabisin duit 1 triliun hanya dalam 1 hari hah?!" Tanya Adam yang membuat Renald garuk-garuk kepala yang tak gatal.
Menghela nafas, "Ya kalau itu sih nggak bisa! Hehe, lagian gue juga nggak tahu mau pakai duit itu untuk apa, mobil udah ratusan! Moge juga udah ribuan, mansion ada di mana-mana! Bahkan kak Lucas pun membayar semua mafioso yang jumlahnya beribu-ribu itu dengan uang yang nggak kira-kira, tapi tetep aja tuh duit! Bukannya berkurang , eh malah bertambah!!" Renald mengingat saat Lucas memberi tahunya, kalau gaji satu mafioso milik Lukas 1 bulan itu 50 juta, sedangkan jumlah mafioso milik Leon dan Lukas itu ribuan. Akan tetapi Lukas masih saja bingung untuk menghabiskan uang itu. Karena masih terus bertambah nol di rekeningnya.
Pov Alisya
Malam itu aku putuskan untuk memberitahu apa yang menjadi masalahku, pada kak Mark. Dia menasehati ku tentang apa yang harus aku lakukan. Berjuang dan merendah mungkin akan menjadi satu jalan yang terbaik untuk mendapatkan perhatian dari gebetanku itu. Tapi berlebihan juga tidak baik. Aku bahkan bingung, sampai akhirnya aku putuskan untuk berjuang secara diam-diam. Biar dia tahu kalau aku ini tidak terlalu berharap kepadanya.
Ucapan kak Mark selalu terngiang di kepalaku, bahkan aku ingat sekali dia mengatakan kalau pria dingin akan bisa mencair ketika berada pada gadis yang tepat. Aku sejenak berpikir, bukankah dulu kak Mark juga pria yang dingin? Lalu siapa yang membuat dia jadi seperti sekarang ini? Di mana sikap dinginnya yang dulu?
Apakah Dila orangnya?
Sebab aku selalu melihat kak Mark yang tersenyum penuh makna saat bersama dengan Dila. Tapi aku tak mau ikut campur dalam urusan perasaan mereka, masalah itu hanya mereka sendiri yang tahu. Aku tidak mau ikut campur. Aku hanya akan menjadi pendukung terbaik untuk apapun keputusan mereka.
Back to Mark dan yang lainnya,
Setelah selesai bersiap mereka bergegas menuju bagasi untuk memilih mobil yang akan mereka gunakan.
Sebuah mobil hitam dengan atap yang terbuka, mereka pilih. Dengan menaikinya dan memakai kaca mata hitam, mereka terlihat sangat cool di mata sebuah gadis yang melihatnya.
Mereka melesat menuju ke rumah sakit, karena polisi meminta mereka untuk ke sana, jasad Pak Satyo masih di otopsi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Terkait apa penyebab dia bunuh diri. Sesampainya di sana, mereka segera turun untuk menuju sebuah ruang otopsi. Sebenarnya mereka tidak di perbolehkan masuk ke ruang otopsi, mengingat hanya petugas otopsi saja yang boleh masuk. Namun semua dokter seakan tunduk melihat Lukas pada saat itu. Bagaimana tidak? Mereka tahu Lukas adalah putra dari Leon. pemilik dari rumah sakit yang sekarang mereka pijaki ini.
Mereka masuk ke dalam ruang otopsi. Melihat jasad pak Satyo yang telah terbujur kaku, tak bernyawa.
Mark pun memutuskan untuk mencari tahu apa kejadian yang sebelumnya terjadi saat pak Satyo meregang nyawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan memegang kaki pak Satyo, Mark di arahkan pada sebuah penglihatan. Ya, itu adalah pak Satyo yang ada di jeruji besi. Tampak wajahnya sayu dan mengatakan beberapa patah kata sambil termenung.
Lalu datanglah salah satu polisi penjaga, dengan membawakan makanan dan juga minuman. Pak Satyo tampak tak berselera dengan makanan itu. Toh kalau dia makan, dia juga tidak bisa keluar dari dalam jeruji besi itu. Dia sudah di vonis mendapat hukuman penjara seumur hidup.
Sesaat kemudian pikirannya tampak kosong, dan terlihat ada sekelebat bayangan hitam yang menghampirinya, lalu tanpa aba-aba sekelebatan hitam itu menghilang di balik tubuh pak Satyo. Seperti merasuki jiwa pak Satyo.
Lalu kemudian tiba-tiba saja pak Satyo menyeringai. Mark yang melihat itu dari dimensi yang berbeda tampak mengerutkan keningnya. Pak Satyo memakan habis makanan itu, dan mengambil gelas kaca lalu memecahkannya. Bahkan bunyi pecahan gelas kaca itu tidak bisa terdengar di telinga para polisi penjaga yang ada di sana. Setelah gelas itu pecah, tampak sisa ujung pecahan itu diambil oleh Pak Satyo dan dia gunakan untuk menyayat lehernya sendiri hingga tewas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mendapat penglihatan seperti itu, Mark kembali ke dunia nyata dan bertanya pada dokter.
"Dok, kuburkan dia dengan layak!" Kata Mark lalu setelahnya langsung keluar dari ruang otopsi, diikuti oleh para saudaranya.
"Bagaimana kak?!" Tanya Alfian setelah mereka berada di luar ruang otopsi.
"Benar dugaan gue, kalau dia itu terjerat oleh iblis! Tapi kita juga tidak bisa lakuin apa-apa!" Kata Mark yang menyayangkan tidak bisa membantu mereka.
Alfin mengernyitkan dahi bingung dengan ucapan Mark, "Memangnya apa yang akan akan terjadi? Apa jiwa mereka akan tetap bergentayangan?!" Tanya Alfin akhirnya buka suara.
"Jiwa mereka yang telah tiada dan tidak di kuburkan dengan layak, biasanya akan bergentayangan!! Namun setelah di makamkan dengan layak, mereka akan berhenti berkeliaran di dunia manusia ini!!" Jawab Mark sembari menarik nafasnya lagi, "Akan tetapi berbeda dengan yang tewas dengan menyangkut iblis, meskipun jiwanya sudah tenang setelah di makamkan, namun jiwa mereka itu terbelenggu oleh iblis! Dan tidak bisa keluar kecuali ada yang menolong mereka!" Kata Mark melanjutkan.
"Ribet amat sih!" Lukas tampak menggaruk-garuk kepalanya mulai frustasi untuk mencerna apa yang di katakan oleh Mark tadi.
"Lalu apa kita akan diam kak? Setelah mengetahui ini?!" Tanya Alfian memastikan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
__ADS_1
Mark menoleh ke arah Alfian, "Jiwa mereka sudah tidak lagi berkeliaran, mereka telah terbelenggu oleh iblis! Kita tidak bisa melakukan astral projection tanpa ijin dari mama!" Kata Mark menghela nafas kasar, "Lagi pula mereka sudah di kuburkan dengan layak, itulah yang terpenting!!" Lanjut Mark mengakhiri ucapannya.
Setelah itu mereka semua pun kembali ke mansion, di tengah perjalanan Mark mengatakan kalau dia akan melanjutkan pendidikannya. Tentu saja semua antusias mendengarnya apalagi mengetahui kalau Mark memilih untuk masuk Universitas yang sama dengan adik-adiknya itu.
"Tapi kapan lo mau masuk kak?!" Tanya Alfian terlihat paling antusias di dalam mobil itu.
"Mungkin besok!" Jawab Mark tampak ragu, namun dia sebenarnya yakin kalau besok adalah hari pertamanya masuk ke salah satu Universitas terkenal yang ada di kota, lebih tepatnya milik Ayah Nathan.
Setelah sampai di mansion, Mark langsung menemui Dila yang tengah berada di ruang bioskop. Dirinya menonton drakor kesukaannya, sambil memakan popcorn. Dia hanya sendiri di sana.
Pelan, Mark langsung duduk di belakang Dila. Gadis itu bahkan tak mengetahui keberadaan Mark di belakangnya. Sampai saat Mark mencomot satu popcorn yang ada di tangan Dila. Dia baru sadar dan menoleh ke belakang. Namun dengan cepat Mark berpindah ke samping Dila. Kerasnya volume drakor itu membuat Dila tak mendengar suara perpindahan posisi Mark.
Gadis itu celingukan menoleh ke belakang dan sebelah kirinya, tidak ada siapapun. Sampai akhirnya dia menoleh ke arah kanan dan.
Deg,,,,
Pandangan mereka beradu, bahkan hampir tak ada jarak antara wajah mereka. Hati kedua berdesir hebat, cukup lama mereka bertatapan tanpa menghiraukan lagi drakor yang sedang berlangsung. Bahkan adegan di drakor masih kalah romantis dengan kejadian yang terjadi di bioskop pribadi itu.
"Ka-kak Mark?!" Ucap Dila lirih dan gemetaran.
Spontan Mark langsung menjauhkan wajahnya dari Dila, supaya gadis itu tidak gugup lagi. Bukan hanya itu, bahkan hati Mark juga tidak bisa berbohong kalau dia juga merasakan hal yang sama. Gugup ketika di pandang oleh gadis pujaan hatinya. Apalagi dengan jarak sedekat itu.
Merasakan kecangungan terjadi di antara mereka. Akhirnya Mark memutuskan untuk membuka suara, "Apa kamu sudah makan? Bagaimana kondisi kamu?!" Tanya Mark mengalihkan semua kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dan juga Dila.
"Ak-aku baik kak, sudah mendingan! Kakak sendiri bagaimana? Bukankah besok kakak sudah mulai berkuliah?!" Tanya Dila basa basi.
"Iya kau benar Dil! Aku akan masuk ke Universitas besok! Apa kau nantinya juga akan memilih Universitas yang sama?!" Setelah menjawab, Mark langsung bertanya balik.
Dila yang awalnya menunduk, langsung menoleh ke depan sambil menonton drakor. Padahal kenyataannya dia sendiri tidak melihat drakor itu dengan seksama, "Entahlah kak, aku bahkan belum memikirkan itu, lagi pula masih lama juga kak!" Kata Dila memberi tahukan pada Mark.
Setelah itu tak ada percakapan di antara mereka, hanya ada volume suara yang bersumber dari drakor yang Dila tonton. Bahkan Dila sampai ketiduran di bahu Mark.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jauh di sisi lain, Setelah ikut menjalankan misi bersama dengan Mark tadi. Lukas dan Victor berangkat menuju ke markas, setelah mereka menunda untuk datang kemarin. Sebenarnya tidak ada masalah serius di sana. Akan tetapi itu sudah biasa Lukas lakukan untuk selalu mengunjungi markasnya, hanya sekedar mengecek keadaan.
Sampai di sana, Lukas dan Victor di kejutkan oleh para mafioso yang tengah menyeret 2 orang pria.
"Tunggu!" Suara tegas Lukas membuat mafioso miliknya itu menghentikan langkahnya dan berbalik.
"King?!" Ucap mereka menunduk, namun masih terus memegang tangan yang sepertinya di ketahui sebagai tawanan baru.
"Siapa mereka?" Tanya Lukas dengan wajah datarnya.
Mafioso itu pun menjelaskan, "Kita menemukannya hendak menyamar menjadi salah satu milik anda tuan! Tapi saat kita tanya, mereka tidak mau mengakui apa tujuan mereka itu!" Jelas mafioso milik Lukas itu.
Lukas hanya diam, dan memberi sebuah kode untuk menyuruh para mafioso nya itu, membawa tawanan ke ruang bawah tanah. Tentu saja nanti mereka akan di interogasi di sana.
Ruang bawah tanah yang ada di markas itu sangat menakutkan, bahkan siapapun di yang telah masuk ke dalam salah satu sel yang ada di sana. Sudah di pastikan mereka tidak akan bisa keluar hidup-hidup.
Beberapa saat kemudian,
Masih di tempat yang sama dengan waktu yang hanya berselang beberapa menit saja, tampak Lucas sedang berada di balkon markas bersama dengan Jeno, adiknya.
"Kak, lo yakin mau urus tuh tawanan sendiri? Masak cuma penyusup biasa aja seorang king mafia harus turun tangan?!" Tanya Victor, karena tak biasanya melihat Lukas yang akan turun tangan sendiri untuk menginterogasi para tawanan sendiri.
__ADS_1
Menghela nafas "Gue cuma mau tahu apa tujuan dia!" Jawab Lukas.
"Tapi apa itu penting? Biasanya alasannya cuma satu, yaitu merebut kekuasaan dan gelar king mafia!" Ucap Victor yang memang sudah terbiasa melihat kejadian pembantaian para manusia yang hendak merebut gelar king mafia milik Lukas.