
Huhh,,, aku jadi rindu pada kedua sahabatku yang ada di desa loka itu. Kenapa aku tak pernah berpikir untuk menghubunginya dan membelikannya ponsel baru menggunakan kartu yang di berikan mama Gisella waktu itu.
Aku bahkan hanya sekali menggunakan kartu itu, entah kenapa mama Gisella malah memarahiku karena tidak bisa menghabiskan banyak uang, itu aneh bukan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sekolah tempat anak-anak bersekolah terlihat Dila sedang sibuk berkutat mengerjakan tugas, padahal yang lainnya dengan santai malah tak mengerjakan tugas itu.
"Dil, lo nggak capek apa nulis segitu banyaj?!" Tanya Axel yang kini duduk bersebelahan dengan Dila.
"Jangan ganggu gue dulu Axel, nanti yang ada guru negur kita kalau kita malah ngobrol!" Jawab Dila tanpa menoleh ke arah Axel.
Axel lalu meletakkan kepalanya di meja dengan menjadikan tangannya sebagai bantal. Axel menatap Dila yang sedang fokus mengerjakan tugas. Entah kenapa hati Axel seperti berdesir melihat wajah Dila yang anggun itu. Apakah itu rasa suka pada Dila? Atau hanya rasa pelampiasan karena dia merindukan Dira, memang sejatinya anak kembar itu membuat Axel malah tak bisa berpikir jernih.
Semenjak Axel tak lagi menjadi pendiam, dirinya tidak tahu apa yang sedang terjadi dengannya, kepalanya seakan hanya bisa memikirkan Dila saja. Bahkan Axel seperti ingin marah jika melihat Dila bersama dengan Mark.
"Akankah ini yang namanya cemburu?" Hati Axel bergumam, sambil matanya masih terus fokus pada Dila.
Dila sebenarnya juga tahu kalau Axel sedari tadi hanya memandangnya saja. Bahkan tanpa berkedip, namun itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Dila. Lagi pula Dila juga merasa nyaman saja di tatap oleh Axel dengan cara seperi itu.
"Huhhh, selesai juga!" Dila menghela nafasnya karena sudah selesai mengerjakan soal yang di berikan oleh guru. Lalu menata bukunya di atas meja, sekilas melihat Axel yang masih setia memandangi wajah Dila.
Dila tersenyum menggoda ke arah Axel. Lalu segera mungkin memposisikan dirinya dengan kepala yang di letakkan di atas meja dengan memandang ke arah Axel.
"Hmm, katakan! Kenapa kau dari tadi hanya memandang wajah gue terus?" Tanya Dila menggoda Axel dengan senyum manisnya.
"Karena kamu cantik hehe!" Axel terkekeh, dirinya sudah berulang kali mengatakan kalau Dila itu cantik. Tapi Dila menanggapinya mungkin tidak dengan hati namun dengan pikiran.
Dila menyentuh pipi Axel dengan satu tangan, mereka masih di posisi yang sama "Hey apa kau baru tahu kalau gue ini cantik?! Perasaan gue udah dari dulu cantik begini!" Ucap Dila dengan tingkat kepedean nya.
Axel menyentuh tangan Dila yang di pakai untuk memegang pipi Mark, "Nanti keluar yuk, lo yang nentuin tempatnya!" Kata Axel menawarkan pada Dila.
"Apa? Lo ngajak gue keluar? Padahal di mansion aja ada berbagai banyak tempat yang bisa kita kunjungi!" Kata Dila yang tak merasa terganggu sama sekali, ketika tangannya di pegang oleh Axel.
"Pacaran terus, dasar bucin!!!" Teriak Brian membuat Dila dan Axel tersentak dan menatap ke arah Brian berada.
"Apa sih lo ganggu aja!" Kata Axel yang merasa terusik dengan teriakan dari Brian tadi.
Kedekatan Axel dan Dila bahkan sudah seperti sepasang kekasih. Padahal mereka hanya sebatas saudara dan belum benar-benar tau apa arti cinta. Semua mereka jalani sesuai jalan yang di berikan tuhan. Biarkan semua mengalir apa adanya seperti air yang tenang, namun menghanyutkan keduanya dalam perasaan bahagia.
"Gini nih, saking fokusnya bicara sampai-sampai nggak dengar apa yang di omongin sama guru,!" Kata Alisya menimpali.
Dila mengerutkan kening bingung, Dirinya baru menyadari kalau sudah tidak ada guru. Dan di sana bahkan hanya ada para saudaranya yang lain. "Loh tuh guru kemana?!" Tanya Dila sambil menoleh ke tempat guru di depan kelas.
"Telat, Dil! Guru udah keluar beberapa menit yang lalu!! Lo sih nggak perhatiin guru!" Ucap Alisya sambil menghela nafas pasrah dengan tingkah saudaranya itu.
__ADS_1
"Kurang kerjaan banget perhatiin guru, mending Dila perhatiin gue aja! Ya kan, Dil!" Ucap Axel dengan tingkat kepedean nya. Dila hanya tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh Axel barusan.
"Hadeh, emang susah kalau ngomong sama orang yang tingkat kepedean nya sampai di ubun-ubun, dasar bucin!!" Ucap Jeno jengah.
Setelah itu Dila hanya terkekeh mendengat ucapan dari para saudaranya, yang terdengar jengah melihat dirinya dan Axel yang sudah seperti pasangan kekasih, dengan tingkat kebucinan akut.
Kemudian mereka pun menuju ke kantin. Karena ternyata kelas sepi itu sebab mereka semua tengah istirahat dan memilih pergi ke kantin. Mereka juga langsung menuju kantin untuk sekedar makan dan mengobrol di sana.
Semua mata mengarah pada Victor, Brian, Alisya terutama dengan Axel dan Dila. Yang terlihat seperti perangko yang nempel terus. Axel yang bersikap posesif terhadap Dila juga tak merasa jengah sama sekali. Malah Dila menganggapnya itu hal yang wajar. Bagi Dila melihat Axel bisa ceria lagi itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri di hatinya.
Sesampainya di kantin, mereka juga bertemu dengan adik-adik bungsu mereka yang tengah menikmati makan di kantin.
"Axel, lo mau pesan apa? Biar gue yang pesenin!" Kata Dila menawarkan pada Axel yang kini tampak duduk di kursi bersama yang lain.
"Samain aja kayak lo, oh iya kalau butuh bantuan teriak aja!" Jawab Axel memperingatkan.
"Iya baiklah!" Jawab Dila, lalu kemudian Dila berjalan ke arah penjual di kantin untuk memesan. Dila tidak sendiri, ada Alisya dan Jessica juga di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi Alfian , dirinya terlihat sedang fokus menatap layar ponselnya, dia terlihat sedang berkutat dengan ponsel miliknya itu.
"Lo lagi chatingan sama siapa sih? Serius amat?!" Tanya Rafi penasaran dengan siapa Alfian chatingan.
Rafi tentu tidak mau ikut-ikutan kalau sudah bersangkutan dengan makhluk tak kasat mata.
"Gimana kak? Udah dapat informasi tentang rumah yang di jual itu?!" Isi pesan pertama Rafi yang dia kirimkan pada Mark.
Di seberang sana, Mark yang membuka ponsel hanya menjawabnya dengan "Iya, gue udah tahu! Tapi masih banyak juga yang harus kita cari tahu!" Jawaban Mark yang sudah tidak di jawab lagi dengan Alfian.
Alfian memilih diam dan memakan cemilan yang tadi sempat dia beli. Sambil berpikir, kenapa bisa ada sosok di rumah itu dengan tatapan yang memilukan. Padahal yang Alfian tahu sosok itu harusnya mendekat dan meminta tolong langsung pada Alfian bukan?
Ah iya, Alfian kan memakai kalung yang di berikan oleh Gisella. Mana bisa dia di dekati makhluk tak kasat mata yang hanya berkedok hantu biasa? Kecuali iblis, pasti sudah menyakiti Alfian sejak beberapa hari yang lalu. Karena kalung itu pasti tidak ada apa-apanya untuk iblis.
"Gila ya, kita jajan sebanyak ini tapi cuma habis 500 ribu doang!!" Kata Renald yang kagum dengan apa yang dia beli.
"Dasar aneh, bersyukurlah kita bisa jajan dengan uang yang tak ada habisnya! Kita juga harus melihat ke bawah juga, masih banyak murid yang memilih nggak jajan cuma buat di tabung!" Kata Dila yang baru saja datang dengan membawa makanannya dan juga milik Axel.
"Nah bener tuh apa kata Dila!" Axel langsung saja membela Dila.
Renald langsung memutar bola matanya, merasa jengah akan apa yang para saudara-saudaranya itu ucapkan. "Baiklah kalau begitu!" Renald tampak bangkit dari duduknya.
Dia berdehem seperti ingin mengambil ancang-ancang untuk berteriak, "SEMUANYA YANG ADA DI KANTIN INI SILAHKAN AMBIL MAKANAN SESUKA HATI KALIAN, GUE YANG BAYAR!!!" Benar saja Renald berteriak mengatakan hal itu membuat semua saudaranya terbengong menatapnya tak percaya.
"Lo gila ya?!" Ucap Tania.
__ADS_1
"Lah, kenapa? Ini tuh namanya berbagi, sekaligus beramal juga!" Jawab Renald dengan polos, orang kaya mah bebas.
Dila terlihat memijat keningnya merasa frustasi dengan tingkah anak bungsu dari ayah Nathan dan bunda Nadia itu. Karena memang Renald lah yang bersikap santai terhadap uang, bahkan dia pernah menghilangkan blackcard nya. Dan dia seperti tidak merasa bersalah sama sekali. Sampai akhirnya ayah Suho memberikannya yang baru.
Singkat cerita mereka semua kini sudah pulang dari sekolah, tampaknya Axel akan mengajak Dila pergi berdua saja.
Di kamar Axel, seperti biasa Dila langsung masuk begitu saja tanpa permisi. Padahal saat itu Axel baru saja akan mengganti pakaiannya.
"Axel!" Panggil Dila yang membuat Axel langsung menoleh ke sumber suara. Padahal dirinya saat itu hendak membuka pakaiannya di dekat ranjang.
"Eh, Dila!" Axel menoleh ke arah Dila sambil membenarkan baju seragamnya lagi.
"Lo kalau mau ganti baju ya ganti aja!" Kata Dila dengan polosnya, tanpa rasa bersalah menyuruh Axel mengganti pakaiannya.
"Haish, kalau gue ganti di depan lo, nanti yang ada lo malah terpesona sama tubuh gue lagi!" Axel terkekeh membayangkan kalau Dila melihat tubuh yang di perutnya terdapat roti sobek itu.
"Ya nggak akan bisa tergoda lah iman gue, kan gue udah kebal!" Kata Dila membalas ucapan Axel.
"Hah? Emang udah pernah lihat?!" Tanya Axel dengan rasa penasarannya pada Dila.
"Pernah dong!" Jawab Dila polos.
Axel langsung membulatkan matanya mendengar apa yang di katakan oleh Dila tadi. Lalu dirinya langsung memegang kedua pundak Dila dengan perasaan yang khawatir.
"Apa? Kamu pernah melihatnya? Siapa yang kamu lihat? Apa dia-" Ucap Axel terpotong.
"Papa gue sendiri!" Jawab Dila dengan santainya. Membuat Axel bisa bernafas dengan lega. Karena dia mengira mata Dila sudah ternodai oleh pria lain.
"Gue kira siapa, tapi btw kenapa lo bisa lihat papa Chan dalam keadaan telanjang dada? Kapan waktunya?!" Tanya Axel yang mencecar Dila dengan berbagai pertanyaan, yang membuat kepala Axel serasa penuh dan sesak.
"Apaan sih Axel! Gue lihat papa telanjang dada itu pas masih umur 7 tahunan! Itu aja karena gue yang main nyelonong masuk gitu aja ke kamar papa!" Kata Dila menjelaskan kronologinya.
"Syukurlah! Ya udah kalau gitu lo keluar dulu atau gue yang ganti baju di ruang ganti?!" Tanya Axel meminta saran. Bahkan Dila malah langsung tiduran di ranjang Axel tanpa menjawab pertanyaan yang Axel berikan tadi.
Axel mendengus karena pertanyaannya tak di jawab oleh Dila. Axel menggeleng heran melihat tingkah Dila. "Dila,,,Dila?!" Gumam Axel lirih. Lalu akhirnya dia memutuskan untuk mengganti pakaiannya di ruang ganti, meskipun memiliki ruang ganti. Namun karena Axel orangnya nggak mau ribet, jadi dia lebih suka langsung melepas seragamnya di dekat Ranjang.
Tanpa mereka berdua sadari, ternyata sedari tadi ada yang sengaja menguping pembicaraan mereka. Hal itu membuat hatinya merasa di bakar oleh api cemburu, melihat Axel dan Dila yang begitu akrab. Bahkan sudah seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara.
Ya, siapa lagi kalau bukan Mark? Tentu saja dia cemburu. Mark bahkan menyukai Dila sejak pertama kali bertemu dengannya di desa Loka dulu. Dia pikir Dila itu adalah gadis yang sangat periang dan penuh keceriaan dan tak takut akan hal apapun. Membuat Mark semakin penasaran di buatnya. Hati Mark juga berdesir setiap kali dirinya melihat senyum indah terukir di bibir Dila.
Saat tadi dirinya tak sengaja akan mengunjungi kamar Alfian, Mark tak sengaja melihat Dila. Sebenarnya Mark ingin menyapa Dila dari kejauhan, akan tetapi Dila sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar Axel. Yang langsung membuat hati Mark seperti terbakar melihatnya. Apalagi mendengar pembicaraan mereka yang ada di dalam kamar itu. Bertambah lagi rasa cemburunya. Tentu Mark tak bisa marah, karena dia tidak berhak melarang Dika untuk dekat dengan siapa saja.
"Ngelihat lo sama Axel kayak gini, entah kenapa hati gue sakit, Dil! Gue nggak tahu apa yang lo rasain ke gue?! Tapi yang gue tahu gue sayang sama lo!" Batin Mark dengan wajah memelas nya menatap Dila dari balik pintu kamar Axel yang kebetulan saat itu terbuka sedikit.
"Kak Mark!" Seseorang memanggil Mark sembari menepuk bahu Mark dari belakang, membuat dia tersentak sekaligus tertegun dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1