Kamar 126

Kamar 126
Menceritakan kejadian


__ADS_3

Aku sempat terdiam sejenak lalu berbicara, "Bagaimana dengan ceritanya pa?!" Tanyaku pada papa, karena takut nantinya papa akan membatalkan niatnya untuk menceritakan tentang masalalu nya.


Papa tampak tersenyum ke arahku sembari mengusap rambutku pelan, "Masih ada banyak waktu! Kita lanjutkan nanti saja! Sekarang kita turun dan makan malam bersama! Yang lainnya udah pada nunggu di meja makan!" Bujuk papa waktu itu.


Aku sendiri hanya bisa pasrah dan menuruti apa yang papa mau. Toh nantinya papa juga akan menceritakannya padaku. Setelah itu aku dan papa langsung menuju meja makan, untuk makan malam bersama dengan keluarga besar seperti biasanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka pun akhirnya berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Seperti biasa mereka makan dengan khidmat tanpa ada yang bersuara di sana. Hanya terdengar suara dentingan sendok saja di sana.


Setelah semua selesai makan malam, tak ingin membuat mereka merasa terus pemasaran. Mark akhirnya buka suara untuk menceritakan semuanya yang terjadi.


"Semuanya, Mark minta perhatian kalian sebentar!" Ucap Mark yang mengawali pembicaraan setelah makan malam itu.


Semua mata langsung menoleh ke arah Mark berada, "Mark, Lucas, Alfin, Victor dan Alfian! Menemukan sebuah kecurangan di salah satu perusahaan yang sudah Nathan investasikan uangnya! Ya lebih tepatnya bukan kecurangan, tapi sebuah kekejaman dalam-" Mark menghentikan ucapannya karena teringat akan kekejaman yang di lakukan oleh Ana.


Alfin yang tahu kalau kakaknya itu tak mampu untuk menceritakan semua itu, dirinya langsung berdiri dari duduknya dan mulai menceritakan semuanya dari awal.


"Museum tempat ayah Nathan menginvestasikan uang nya itu, Museum manekin!" Ucap Alfin.


"Ada apa nak? Apa ada masalah? Kalian juga sempat menelpon papa untuk mencari tahu tentang museum itu bukan?!" Tanya Ayah Nathan yang mengingat kalau anak-anaknya itu sempat menanyakan tentang museum manekin itu.


"Iya ayah benar! Museum itu adalah museum mengerikan ayah!" Kata Victor tanpa berdiri. Semua orang langsung mengernyitkan dahinya, lebih tepatnya bingung. Kenapa bisa museum itu di sebut mengerikan? Itu yang ada di pikiran mereka.


Ayah Nathan menarik nafasnya, "Katakan semuanya nak! Jangan bikin kita penasaran! Dan apa yang kalian inginkan?! Ayah pasti akan membantu kalian!" Ujar ayah Nathan sembari tersenyum ke arah mereka karena sudah sangat penasaran akan apa yang terjadi.


"Semua manekin yang ada di sana terbuat dari tubuh manusia asli ayah!!" Kata Mark dengan suara serak, tenggorokannya seperti tercekat. Sebenarnya dia mengatakan itu sangat berat baginya.


Semua orang yang ada di sana membelalakkan matanya kecuali kelima remaja itu. Mereka tak menyangka kalau ada manusia kejam bahkan melebihi seorang king mafia. Mereka semua sempat tak percaya, namun Alfin menyuruh Papa Nathan untuk memastikan semuanya. Dan ternyata benar, semua itu bukanlah omong kosong. Melainkan sebuah kenyataan yang mengatakan kalau memang benar manekin itu terbuat dari manusia.


Itu karena semua tim forensik sudah datang ke sana untuk memeriksa semuanya. Dan mereka akan melakukan otopsi untuk beberapa manekin. Saat mereka mengetahui kalau itu benar terbuat dari manekin, semua tim langsung saja mengumpulkan semua manekin pada satu ruangan untuk di periksa lebih lanjut.


Itu semua atas perintah dari Mark, dia juga menyuruh mereka untuk menyelesaikan semua pekerjaan dalam kurun waktu satu malam. Karena keesokan harinya mereka harus memakamkan seluruh jasad yang telah di awetkan dalam bentuk manekin itu.

__ADS_1


"Kalau benar begitu, apa yang harus ayah lakukan untuk membantu kalian nak?!" Tanya Ayah Nathan pada anak-anaknya itu.


Mereka sejenak saling pandang seakan meminta Alfin untuk mengatakannya pada mereka, "Kita minta meskipun ayah sudah menutup tempat itu, ayah tetaplah berinvestasi para perusahaan tuan Bram! Karena bagaimana pun perusahaan tuan Bram tak ada sangkut pautnya dengan museum manekin itu!" Jelas Alfin panjang lebar.


Ayah Nathan mengernyitkan dahinya heran, "Kenapa begitu nak? Bukankah mereka suami istri? Mereka pasti bekerja sama dalam pembuatan museum manekin itu!" Tanya Ayah Nathan yang menyangkal apa yang di katakan oleh Alfin tadi.


Alfin menggelengkan kepalanya, "Tidak ayah! Museum itu murni di buat oleh istri tuan Bram! Yaitu nyonya Ana! Mereka bahkan tidak benar-benar saling mencintainya! Lebih tepatnya tuan Bram hanya terpaksa membantunya untuk mencarikan seorang yang mau berinvestasi pada museum itu!" Lanjut Alfin menjelaskan, "Bagaimana pun mereka juga memiliki pewaris tunggal! Biarkan saja perusahaan itu berdiri! Karena Alfin yakin kalau anaknya akan bisa mengelola perusahaan itu dengan baik!" Ucap Alfin mengatakan permintaan darinya dan juga keempat saudaranya yang lain. Mereka memang sudah membicarakan hal penting itu terlebih dahulu saat di mobil menuju ke mansion.


"Baiklah kalau begitu, ayah akan lakukan sesuai apa yang kalian minta! Bahkan kalian sendiri juga bisa melakukannya, uang kalian itu juga pasti bingung kan mau di apain? Investasi lebih baik! Tapi jangan sampai salah pilih!" Kata Ayah Nathan memberi tahu dan sekaligus mengingatkan.


Setelah itu mereka juga mengatakan apa yang terjadi dari awal hingga akhir dari cerita mereka itu. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing, karena memang hari sudah mulai larut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dila saat itu masuk ke dalam kamar Mark tanpa permisi, dirinya masuk dengan wajah memelas nya, membuat Mark langsung beranjak dan mencari tahu apa yang terjadi pada Dila.


"Dila kamu kenapa? Apa kamu sakit?!" Tanya Mark khawatir, takut kalau sampai Dila sakit lagi seperti kemarin.


"Astaga Dila kamu kelihatan jelek kalau lagi manyun kayak gitu!" Kata Mark menggoda Dila supaya dia tak sedih lagi.


"Ish kakak apaan sih! Dila serius tahu?!" Kata Dila sembari mendengus kesal membuat Mark semakin gemas dengan dirinya.


Mark berpikir sejenak dan mendapatkan sebuah ide, "Oh iya, bagaimana kalau kita telepon aja mereka?!" Ucap Mark dengan idenya.


Dila menggeleng, "Tidak kak! Bahkan ponsel mereka sengaja di matikan, mereka mengirimi aku pesan dan mengatakan kalau aku tak boleh menghubungi mereka selama 2 hari! Bukankah itu tidak adil? Sebenarnya mereka lagi ngapain di sana?!" Kata Dila yang masih terlihat sedih, lalu seketika Dila membelalakkan matanya, "Apa jangan-jangan mereka bulan madu?!" Ujar Dila sambil menutup mulut menggunakan kedua tangannya.


Mark menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia sendiri nggak tahu apakah benar begitu atau Mama sama Papa sengaja tidak ingin di ganggu karena ingin mencari tahu tentang penangkal iblis terkuat itu.


"Dila, sebaiknya kita nggak usah negatif thinking deh! Kayaknya mama sama papa itu ke sana buat memastikan sesuatu yang kita nggak tahu! Bukan untuk bulan madu!" Kata Mark mencoba membuat Dila tidak berpikiran seperti itu terhadap kedua orang tuanya.


Dila mendengus, "Tapi apa kak kenapa mereka nggak ngasih tahu kita aja tentang itu? Bikin kesel aja deh!" Kata Dila yang masih mengerucutkan bibirnya.


Mark tersenyum kecil, "Dila ini sudah malam, lebih baik kamu tidur aja ya! Nggak usah mikirin mama sama papa! Aku yakin mereka pasti baik-baik saja!" Ucap Mark menenangkan adik sekaligus orang yang telah berhasil mengambil hatinya.

__ADS_1


Dila menggeleng, "Aku mau tidur di sini saja sama kak Mark!" Ucap Dila yang langsung berbaring di ranjang Mark. Mark sendiri tersenyum dan langsung beranjak dari duduknya, dia akan tidur di sofa malam ini. Namun langkah Mark terhenti ketika Dila langsung memeluknya dari belakang.


Deg,,,


Seketika jantung Mark langsung berdegup sangat kencang, dirinya ingin sekali berbalik dan memeluk Dila juga. Akan tetapi dia mengurungkan niatnya karena takut Dila malah ilfil dengannya.


"Ada apa Dil?!" Tanya Mark dengan menelan saliva nya. Tenggorokannya seketika mengering secara tiba-tiba.


"Kakak mau ke mana? Temani aku tidur! Kenapa kakak malah mau pergi?!" Tanya Dila dengan suara imutnya. Lalu seketika Dila melepaskan pelukan itu dan kini dia ada di hadapan Mark.


Menghela nafasnya, Dila menggandeng tangan Mark untuk berjalan kembali ke arah ranjang. Mark sendiri seperti di hipnotis, tak bisa menolak akan ajakan Dila. Bagaimana tidak? Lelaki mana yang tidak mau diperlakukan seperti itu? Bahkan di ajak tidur satu ranjang.


Tidak semua pria yang akan menahan gejolak h*srat ketika tidur bersama dengan orang yang dia cintai. Akan tetapi berbeda dengan Mark, dirinya sebisa mungkin menahannya dan hanya menganggap Dila sebagai adiknya saja. Dia tentu tidak ingin merusak Dila, karena dia sangat menyayangi Dila.


Kini mereka tengah berbaring di ranjang dengan menatap langit-langit kamar Mark yang lampu nya kini telah redup. Dila menoleh ke arah Mark. Dia menatap Mark dalam.


"Astaga Dila! Jangan menatapku seperti ini!! Aku ini pria normal yang bisa berbuat lebih dari sekedar tidur bersama! Tolong jangan memancing juniorku untuk bangun Dila!" Batin Mark yang bahkan mengatakan itu dengan gugup di hatinya.


"Kak, apa kakak merasakan hal yang sama sepertiku?!" Tanya Dila dengan polosnya.


"Maksud kamu apa Dil? Kakak tidak tahu!" Tanya Mark yang tak tahu arah pembicaraan Dila.


Saat Dila hendak mengatakan sesuatu tiba-tiba terlintas bayangan Dira di matanya, "Dira!" Ucap Dila lirih.


Mark terkejut karena Dila tiba-tiba saja terdiam dan menyebutkan nama Dira tadi, "Dila ada apa? Apa ada masalah?!" Tanya Mark khawatir


"Ah tidak kak! Lupakan saja! Ayo tidur! Aku sudah sangat mengantuk!" Ucap Dila.


Mark merasa ada yang aneh dengan Dila. Dia mengira apakah Mark melakukan kesalahan padanya, kenapa tiba-tiba Dila berubah seperti itu? Bahkan pertanyaannya belum sempat terjawab, namun kenapa bisa seperti ini?


"Baiklah!" Jawab Mark yang setelahnya menyelimuti Dila. Namun siapa sangka justru Dila langsung merangkul lengan Mark bagaikan guling. Dirinya seakan tak ingin berpisah dari Mark.


"Astaga, sebenarnya apa yang terjadi padamu Dila?! " Tanya Mark di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2