Kamar 126

Kamar 126
Sebenarnya ada apa?


__ADS_3

Pintu kamar Mark terbuka, Mark masih tak bergeming dan hanya menatap ke arah pintu. Ada kepala yang melongok masuk dengan pintu yang hanya sedikit di buka. Ya siapa lagi kalau bukan Dila?


"Kak Mark!" Panggil Dila dengan memasukkan kepalanya melalui sela pintu.


"Dila? Ada apa?!" Tanya Mark dengan masih betah pada posisinya untuk tiduran di ranjang miliknya.


"Apa kau sibuk kak?!" Bukannya menjawab Dila justru malah balik bertanya.


"Aku rasa tidak, apa kau butuh sesuatu?!" Mark tampak duduk karena Dila tak kunjung mengatakan apa yang dia mau.


"Aku hanya butuh teman!" Dila tampak lesu mengatakannya.


"Masuklah!" Pinta Mark supaya Dila masuk saja ke dalam kamarnya. Dila lalu membuka pintu kamar Mark lebar, dan berjalan ke arah ranjang Mark. Dirinya langsung duduk di tepian ranjang Mark dengan wajah lesunya. Mark yang merasa ada yang tidak beres pun memutuskan untuk mendekati Dila.


Dengan menghela nafas, "Ada apa Dil? Apa ada masalah? Kenapa muka kamu kelihatannya lesu kayak gitu hm?!" Mark bertanya dengan nada yang lembut, mencoba menanyakan apa yang terjadi pada Dila.


Dila menarik nafasnya dalam lalu mengeluarkannya dengan kasar, "Ada apa sih sama Axel? Kenapa dia kayaknya menghindar dari aku terus? Memangnya aku salah apa sih sama dia?!" Tanya Dila tampa menatap wajah Mark. Mark yang mendengar itu bingung harus mengatakan apa, pasalnya memang Mark tidak tahu kenapa tiba-tiba Axel berubah pada Dila.


"Aku sendiri juga nggak tahu, Dil! Tapi memangnya sejak kapan Axel berubah sama kamu?!" Tanya Mark di akhir ucapannya.


"Semenjak aku sakit waktu itu, sikapnya berubah kak! Harusnya kan kalau ada masalah dia cerita ke aku, bukan malah menghindar seperti ini!" Dila teringat akan sikap Axel yang berubah, apalagi di tambah saat tadi berada di sekolah. Axel terlihat menjadi seorang yang pendiam tanpa bicara apapun pada Dila. Bahkan pandangan matanya saja tidak pernah menatap Dila pas di sekolah tadi.


Flashback on,,


Semua murid kelas 12, saat itu tepatnya di kelas yang di tempati oleh Dila dan para saudaranya. Axel yang biasanya tidak memperhatikan guru, dan hanya akan tiduran sambil menatap Dila dengan tatapan manisnya. Tadi pagi Axel memang benar-benar ,dia tidak seperti orang yang Dila kenal. Bagaimana tidak, bahkan Axel menjadi seperti pria dingin pada Dila saja.


Sebenarnya Dila ingin menanyakan langsung pada Axel, tapi karena dia berpikir mood Axel sedang buruk. Maka dirinya memutuskan untuk mengurungkan niatnya.


"Axel, lo udah selesai belum? Gue udah nih! Biasanya lo mau nyontek punya gue kan?!" Tanya Dila mencoba mencairkan suasana yang terlihat canggung di antara mereka berdua. Karena mereka saat itu memang duduk di meja yang sama.


Axel memegang bolpoin di tangan kanannya, lalu meletakkannya di atas buku. Dan setelahnya menutup buku itu, "Gue udah selesai!" Jawab Axel singkat tanpa menoleh ke arah Dila berada. Dan setelah itu dia langsung melipat tangan di meja dan mulai menaruh kepalanya itu di meja. Seperti biasanya. Namun kali ini sedikit berbeda, Axel yang biasanya melakukan itu supaya bisa menatap Dila. Akan tetapi sekarang Axel malah menatap ke arah tembok.


"Axel, lo kenapa sih? Kenapa lo tiba-tiba berubah? Apa salah gue sama lo?!" Batin Dila sambil menatap ke arah Axel yang membelakanginya.


"Gue mohon maafin gue, Dil!! Ini semua demi kebaikan lo! Gue nggak mau kalau lo sakit karena gue!! Tapi lo tenang aja, ini hanya bertahan satu bulan saja!! Gue harap lo nggak benci sama gue, Dil!!" Batin Axel memohon pada tuhan, supaya membuat Dila tidak membenci dirinya.


Flashback off,,,


"Mungkin saja itu hanya sementara, atau mungkin Axel moodnya lagi nggak baik?!" Kata Mark mencoba membuat hati Dila merasa lebih tenang.


Dila kembali menghela nafasnya, "Apa menurut kak Mark, Axel itu marah ke aku? Atau memang nggak mau temenan sama aku?!" Tanya Dila dengan mata berkaca-kaca mengingat Axel yang tiba-tiba menjauh dari dirinya.


"Kamu nggak usah mikir kayak gitu, Dil! Kamu tahu kan Axel itu sayang sama kamu! Kalau pun dia marah sama kamu, itu juga tidak akan bertahan lama! Percayalah!" Ucap Mark kembali membuat Dila supaya dirinya tidak terlalu khawatir memikirkan itu.


Dila lalu mengangguk dan tersenyum kecut ke arah Mark. Lalu kemudian dia menempelkan kepalanya pada pundak Mark. Dia ingin bersandar pada pundak kakaknya itu. Karena terasa nyaman jika untuk bersandar. Tangan Mark mencoba mengelus surai hitam milik Dila itu dengan lembur.


"Apa segitu takutnya lo kehilangan Axel? Apa kalau gue yang ilang lo juga bakal ngerasa kayak gini, Dil?!" Batin Mark sambil terus mengusap surai hitam milik Dila.


Tanpa mereka sadari, ternyata sedari tadi ada yang menguping pembicaraan mereka dari luar kamar Mark. Siapa lagi kalau bukan Axel. Dirinya tanpa sengaja melihat Dila yang hendak memasuki


kamar Mark, dan memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka.


"Sebegitu kah kau menganggap gue berubah, Dil!! Gue suka lo khawatirkan gue yang berubah ini! Tapi gue bingung Dil!! Gue nggak bisa lakuin apa-apa! Maafin gue Dil!" Ucap Axel yang sudah berkaca-kaca menahan air matanya supaya tidak terjatuh. Lalu segera dia pergi untuk menenangkan dirinya sendiri.


Pov mama Sindy


Malam itu aku memutuskan untuk pergi mengantarkan susu hangat pada anakku, Axel. Akan tetapi saat aku hendak masuk ke kamarnya, mata ku tak sengaja melihat dia yang tengah berada di depan kamar Mark. Tampaknya dia sedang menguping sesuatu. Kamar Mark yang terbuka, membuat aku samar-samar bisa mendengar adanya percakapan antara Mark dan juga Dila di dalam sana.

__ADS_1


Ku tatap wajah anakku dari jarak yang tak begitu jauh. Ku lihat mata anak pertamaku itu terlihat berkaca-kaca menahan air mata yang hendak jatuh membasahi pipinya. Namun kelihatannya dia masih bisa menahannya.


Aku sangat kasihan padanya ,larangan dari suamiku membuat anak kami mungkin menderita karena sebuah kerinduan yang tak terduga.


Aku memutuskan menaruh susu yang sempat aku bawa tadi masuk ke dalam kamar Axel. Dan aku meletakkannya di atas nakas yang letaknya tak jauh dari ranjang anak pertamaku itu.


"Semoga kamu selalu bahagia nak!" Batin mama Sindy saat keluar dari kamar Axel. Dan masih melihat Axel tak berpindah posisi sama sekali. Lalu kemudian mama Sindy memutuskan untuk kembali ke kamarnya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari pun tiba, surya pun telah kembali ke peradabannya. Dila yang tadi sudah bercerita banyak pada Mark akhirnya kembali ke kamarnya sendiri untuk membersihkan badan serta, akan mengikuti makan malam.


Di meja makan, semua tampak telah berkumpul seperti biasa dan memakan makanan mereka masing-masing. Gisella hari ini memasak khusus untuk mereka semua.


Hingga makan malam pun selesai dan Mark kembali ke kamarnya untuk mencari tahu tentang buku yang baru saja dia beli. Dia begitu bimbang ingin menanyakannya pada mama Gisella tentang isi dari buku itu.


"Gue harus temui mama Gisella sekarang!" Ucap Mark sembari menutup bukunya lalu berjalan keluar dari kamarnya ,menuju ke lantai 2 untuk menemui mama Gisella.


Saat diambang pintu, Mark di kaget kan dengan suara Alfian, "Kak lo mau ke mana malam-malam gini?!" Sapa Alfian dari belakang Mark, hingga membuat Mark sedikit terkejut dengan suara yang tiba-tiba mengejutkannya.


"Astaga, gue kira siapa! Ngagetin aja sih lo dek!!" Kata Mark sembari mengusap dadanya yang sedikit naik turun karena terkejut.


Mark menghela nafasnya lalu berkata, "Gue mau ke kamar mama nih!" Kata Mark memberi tahu Alfian.


"Lo mau ngapain ke kamar mama malam-malam begini?!" Tanya Alfian penasaran.


Mark menunjukkan buku itu pada Mark, "Gue mau tanya soal buku ini ke mama!" Jelas Mark pada Alfian.


Melihat buku itu Alfian tampak mengernyitkan alisnya, "Itu buku apaan kak?!" Tanya Mark penasaran.


"Ini buku yang gue temuin di perpustakaan, dan karena gue penasaran dan suka sama bukunya , jadi gue nggak pinjem dan memilih untuk membelinya langsung!" Jelas Mark panjang lebar.


"Woah, kayaknya kakak gue yang satu ini udah tau caranya buat ngabisin uang!" Kata Alfian dengan bangga.


Mark tersenyum, "Kenapa lo malah kelihatannya seneng banget kayak gitu? Emangnya ada yang salah?!" Tanya Mark.


Alfian menggeleng, "Tidak, sama sekali tidak ada yang salah kak! Justru gue bangga sama lo!" Ucap Alfian sembari menepuk pelan pundak Mark.


"Ya udah kalau gitu gue mau nemuin mama dulu!" Kata Mark hendak beranjak dari tempatnya berdiri.


Namun Alfian justru menghalangi langkah kaki Mark, "Eh kak, gue ikut deh, gue juga penasaran sama apa yang mau lo tanyain ke mama!" Ucap Alfin yang ingin ikut dengan Mark untuk menemui mama Gisella.


"Ya sudah ayo, keburu malam, nanti mama tidur kan nggak enak kalau gangguin!" Ajak Mark lalu setelahnya mereka berdua berjalan beriringan dengan Mark yang membawa buku itu di tangannya, menuju lantai 2, tepatnya kamar Mana Gisella dan Papa Chan.


Tok tok tok,,,


Setelah sampai di depan kamar Gisella, Mark mengetuk pintu kamar. Dan keluar lah Papa Chan dengan memakai piyama tidur.


"Loh, Alfian? Mark? Ada apa? Kenapa malam-malam datang ke sini?!" Tanya Papa Chan pada kedua putranya itu yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Mama Gisella udah tidur belum pa? Ada yang mau Mark tanyain soalnya!" Ucap Mark memberi tahu tujuannya. Belum sempat menjawab ucapan Mark tadi. Terdengar suara dari dalam kamar.


"Chan, siapa yang datang? Kenapa kau lama sekali?!" Ucap Gisella dari dalam kamarnya.


"Nah tuh mama Gisella, dia belum tidur, papa akan panggilkan untuk kalian! Lebih baik kalian tunggu aja di kamar kamu Mark, nanti mama Gisella akan papa suruh untuk ke kamar kamu!" Perintah papa Chan yang menyuruh mereka menunggu di kamar Mark.


Mark dan Alfian pun mengangguk setuju dengan apa yang di minta oleh papanya. Lalu kemudian mereka berdua berjalan menuju lift untuk kembali ke kamar Mark, sembari menunggu Gisella datang. Sedangkan di posisi Chan, dirinya langsung masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Siapa tadi?!" Tanya Gisella pada Chan yang berjalan dari arah pintu kamar.


"Tadi Mark sama Alfian, katanya sih ada yang mau mereka tanyain ke kamu!" Kata Chan memberi tahu.


Gisella mengerutkan keningnya heran, "Terus kenapa nggak langsung di suruh masuk aja? Kenapa mesti di luar?!" Tanya Gisella.


"Mereka udah aku suruh untuk nungguin kamu di kamar Mark, lagian aku juga nggak bakal masukin mereka ke sini kalau kamu masih pakai itu! Mata mereka bisa ternodai!!" Kata Chan mengatakan alasannya kenapa kedua anaknya tidak boleh masuk ke dalam kamarnya itu.


Gisella menghela nafas, "Haish, baiklah! Aku akan ganti pakaian, dan ke kamar mereka dulu! Sepertinya ini penting sampai mereka ke sini!" Kata Gisella hendak beranjak dari ranjangnya.


"Terus aku gimana?!" Tanya Chan bingung.


Gisella kembali menghela nafasnya, "Sayang, kami tunggu di sini ya! aku akan segera kembali dan melanjutkan aktivitas kita yang tertunda!" Ucap Gisella lalu mengecup pipi Chan sekilas dan langsung berganti pakaian.


Chan mendengus, "Haish!!"


Gisella yang sudah mengganti pakaiannya kini berjalan menuju kamar Mark untuk menemui kedua anaknya yang sudah menunggunya di sana.


Sesampainya di kamar Mark,,,


Ceklekk,,,


Gisella langsung membuka pintu tanpa mengetuk pintu kamar Mark terlebih dahulu.


"Mama!" Ucap Mark dan Alfian bersamaan melihat mama Gisella masuk ke dalam kamar.


Gisella tersenyum lalu berjalan menuju kedua anaknya itu yang tengah duduk di sofa yang ada di kamar Mark, "Nah sekarang katakan sama mama, apa yang ingin kalian tanyakan sama mama? Kenapa malam-malam ke kamar mama tadi?!" Tanya Gisella yang langsung mencerca pertanyaan kepada kedua anaknya itu.


Mark mengambil bukunya tadi yang sempat dia letakkan di atas meja. Sebelumnya saat Gisella belum sampai di kamar Mark. Alfian tampak penasaran dengan apa yang ingin kak Mark tanyakan pada mamanya. Sampai akhirnya Mark memberi tahu, dan menunjukkan huruf-huruf jawa atau lebih tepatnya aksara jawa yang ada di buku itu dan membuat Alfian juga bingung sendiri melihatnya. Karena pasalnya mereka tidak di ajarkan dalam bahasa jawa di sekolah.


"Ini ma!" Ucap Mark sembari menyodorkan buku yang telah terbuka pada halaman yang ingin Mark tanyakan.


"Ini? Bukankah ini aksara jawa? Ada apa memangnya?" Tanya Gisella pada Mark setelah melihat buku itu.


"Mark juga kurang tahu ma, tapi kayaknya sih memang itu aksara jawa!! Mark nggak tahu artinya jadi Mark mau tanya ke mama!" Ucap Mark memberi tahu tujuan utamanya.


"Memangnya ini buku apa? Kamu dapat dari mana?!" Tanya Gisella tanpa melihat ke arah Mark dan malah sibuk membolak-balikkan buku itu, mencari tahu dari mana buku itu berasal.


"Itu buku kuno yang Mark temukan di perpustakaan kampus ma! Sepertinya selain air suci dan air anggrek hitam, ada menangkal lainnya ma, dan itu tulisan itu sepertinya mengarah pada penangkal iblis yang ke tiga!" Kata Mark yang menerka-nerka tentang apa yang dia pikirkan.


Gisella menghela nafasnya, "Kamu sepertinya benar nak! Memang ada 3 penangkal, tapi mama tidak tahu apa yang ketiga ini, sebab di buku mama hanya tertulis 2 saja!" Jawab Gisella dengan memberi tahu Mark, "Dan sepertinya memang penangkal yang ke 3 ini sangatlah kuat, mama akan mencari tahu!" Ucap Gisella mencoba mencari tahu apa arti dari tulisan aksara jawa itu.


"Memangnya itu penting?!" Tanya Alfian dengan polosnya. Gisella menoleh ke arah anak bungsunya itu untuk memberi tahunya.


"Nak, jika kita tahu, akan lebih baik kita mencarinya untuk lebih meningkatkan kewaspadaan kita terhadap makhluk tak kasat mata yang akan mengganggu kita!!" Kata mama Gisella yang ternyata setuju dengan pemikiran Mark. Karena memang bagaimana pun Gisella telah mencari tahu tentang penangkal ketiga yang di katakan memang yang paling ampuh di bandingkan dengan air suci dan air anggrek hitam.


Namun sudah lama Gisella mencarinya, tapi tak kunjung menemukan petunjuk tentang penangkal ke 3 itu. Hingga akhirnya anak angkatnya ini menemukan apa yang dia butuhkan selama ini.


"Mark, kamu nggak usah khawatir, mama akan cari tahu ini! Kamu nggak usah terlalu memikirkan ini oke!! Kamu harus fokus pada kuliah kamu dulu, mengerti?!" Gisella menasihati anak sulungnya itu tentang apa yang harus dia lakukan. "Kamu juga Alfian, kamu harus fokus pada sekolah kamu oke!" Lanjut Gisella sembari menoleh ke arah anak bungsunya itu.


Mark dan Alfian pun mengangguk. Lalu setelahnya Gisella memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


_____***_____


Hay guys maafin author ya kemarin nggak up, sebenarnya author up kok cuma di tolak terus sama pihak MT. Jadi buat hari ini author akan up 2 eps untuk ganti yang kemarin.


Tetap terus dukung author dengan Like, Komen, beri hadiah dan Vote nya ya

__ADS_1


See you👋👋👋


__ADS_2