
"Apa kakak bisa memeluk kamu?" Tanya Byun
Velia tersenyum lalu mengangguk perlahan pada Byun. Lalu mereka berdua berpelukan untuk yang terakhir kalinya.
"Aku menyayangimu kak" ucap Velia.
"Aku juga menyayangi kamu, Vel!" Kata Byun yang masih memeluk adiknya itu.
Perlahan tubuh Velia lenyap dari pandangan dan juga pelukan Byun. Itu pertanda bahwa Byun sudah mulai mengikhlaskan kepergian Velia.
Byun tak kuasa menahan air matanya, melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya.
"Byun, buka mata kamu!" Terdengar suara Gisella dari alam nyata.
Gisella yang berada di alam nyata melihat Byun yang terus mengeluarkan air mata meskipun matanya tertutup.
Byun pun membuka matanya, dan mata Byun terlihat merah karena air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
Gisella pun menyuruh Nathan untuk meneteskan air suci itu pada Byun.
Terlihat Byun sangat sedih karena melihat adiknya untuk terakhir kalinya. Setelah itu Nathan berusaha menenangkan Byun.
"Byun, kamu tahu kan apa permintaan adik kamu?"
"Aku harus bagaimana sekarang?" Tanya Byun dengan pandangan kosong.
"Kenapa harus sahabatku sendiri yang tega melakukan itu pada adikku, Sel? Ingin rasanya aku membalaskan dendam ini, tapi Velia melarang ku!" Kata Byun lagi.
"Lo datang saja ke dia, dan bicara baik-baik dengannya!" Saran Nathan.
"Tapi dia yang bersalah dalam hal ini!" Ketus Byun.
"Iya gue tahu , tapi ini juga buat lo, supaya lo nggak terus-terusan ngerasa bersalah!" Kata Nathan.
"Yang Nathan katakan benar, sebaiknya kamu temui dia dan bicara baik-baik dengannya!" Timpal Gisella.
Setelah itu, Byun menyuruh semuanya untuk menginap di mansion nya dan juga untuk menemani Byun.
Gisella sekarang sedang berada di kamar tamu yang disediakan oleh Byun. Gisella memikirkan Chan dan melamun,,,,
"Chan, kamu sedang apa sekarang?" Tanya Gisella pada lamunannya.
Sesekali Gisella tersenyum mengingat saat dia masih satu mansion bersama dengan Chan.
"Sayangnya itu hanya sebentar!" Ucap Gisella yang setelahnya menghela nafasnya lalu berkata lagi,,,,,
__ADS_1
"Aku harus bisa mengikhlaskan Chan dengan kekasihnya, tapi sebelum itu,, aku akan memagari kamar nomor 126 sebagai tanda peduliku pada mereka berdua" ujar Gisella lagi.
Setelah itu, Gisella menelpon Chan dan bertanya padanya tentang memagari kamar itu. Sebenarnya Chan sempat ragu dan menolak untuk di pagari karena dia rasa itu tidaklah penting baginya.
Kemudian setelah Gisella menjelaskan pada Chan kalau di kamar itu ada sosok iblis yang menjaga dan juga demi keselamatan Wendy. Chan pun akhirnya menuruti apa kata Gisella dan setuju pada saran Gisella tentang memagari kamar 126 itu.
Lalu Gisella mematikan teleponnya dan memberi tahu yang lain tentang hal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Chan, tadi siapa yang telpon kamu?" Tanya Wendy.
"Oh ini tadi Gisella!" Jawab Chan.
"Kamu deket banget ya sama dia?" Tanya Wendy dengan nada cemburu.
"Kamu cemburu? Sayang, kamu nggak perlu cemburu! Tadi dia telepon aku cuma mau ngasih tahu kalau dia mau memagari kamar ini dari sosok yang sering gangguin kamu!"
Deg,,,,,
"Sungguh? Syukurlah kalau ada orang yang mau memagari kamar ini, dengan begitu kita tidak akan diganggu lagi sama mereka!" Ujar Wendy.
"Syukurlah kalau kamu setuju"
Wendy menghela nafas dan menjawab,,,,"Tentu saja aku setuju, ini demi kebaikan kita juga bukan?"
"Tapi,,,,,"
"Tapi kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Chan.
"Aku hanya tidak suka kalau kamu dekat-dekat dengan wanita lain! Aku merasa kalau wanita itu memiliki perasaan terhadapmu" Ucap Wendy.
"Itu tidak mungkin sayang, lagi pula sebentar lagi aku akan selamanya menjadi milikmu bukan?" Ungkap Chan.
Wendy senang mendengar ucapan Chan lalu mereka saling memeluk satu sama lain, lalu setelah itu,,
"Semoga saja Chan" ucap Wendy di dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi Gisella, dia sedang memikirkan tentang bagaimana cara mengalahkan iblis itu. Gisella hendak pulang untuk mencari bukunya dan melihat apakah ada cara untuk mengalahkan iblis.
"Loh, Sel kamu mau kemana?" Tanya Byun yang melihat Gisella keluar dari kamarnya.
"Aku mau pulang" jawab Gisella.
__ADS_1
"Kok pulang? Bukannya kamu setuju kalau nginep di sini?" Tanya Byun.
"Maaf ya ,Byun tapi ini penting!" Ucap Gisella.
Setelah itu Byun menawarkan diri untuk mengantar Gisella pulang ke mansion nya, dan untungnya Gisella mau di antar oleh Byun.
"Kok aku jadi nggak enak ya kalau nggak jadi nginep di mansion, Byun!" Batin Gisella yang sudah berada di perjalanan menuju mansion nya.
"Byun, aku hanya akan mengambil buku saja, setelah itu aku akan tetap menginap di mansion kamu!" Ucap Gisella yang membuat Byun tersenyum padanya.
"Jadi kamu bakal tetap menginap?" Tanya Byun memastikan, Gisella hanya mengangguk.
Tak butuh waktu lama, karena jarak rumah Byun dan juga Gisella tidak terlalu jauh, akhirnya mereka sampai di mansion Gisella.
Sesampainya di sana, Gisella mengajak Byun untuk masuk ke mansion nya dan bahkan Gisella mengajak Byun untuk masuk ke dalam ruang rahasia miliknya.
"Ini pasti ruang rahasia kamu kan?" Tanya Byun.
"Ya kalau kamu mau mikir gitu sih nggak apa-apa, aku sih menganggapnya ya ruangan biasa aja!" Kata Gisella.
Gisella pun mengambil buku miliknya dan segera duduk di kursi yang ada di ruang rahasia miliknya itu. Begitu juga dengan Byun yang juga ikut duduk di samping Gisella yang sedang membaca buku miliknya.
"Bunga anggrek hitam?" Ujar Gisella yang sedikit bingung dan juga heran.
"Maksud kamu gimana? Memangnya ada bunga kayak gitu?" Tanya Byun.
"Pasti ada! Kita harus mencarinya!" Ujar Gisella.
Gisella mencoba mencari tahu letak keberadaan bunga anggrek hitam di dalam bukunya itu.
Menurut buku itu, bunga anggrek hitam adalah bunga yang paling dibenci oleh iblis. Mereka tidak akan bisa melakukan apapun setelah terkena bunga anggrek hitam itu.
Entah iblis itu sedang menyamar menjadi manusia atau pun mereka sedang berada di sebuah tempat. Jika bunga anggrek itu ada ,iblis akan pergi dan yang menyamar akan berubah ke wujud aslinya.
Gisella pun mengetahui keberadaan bunga anggrek hitam itu. Dan ternyata bunga itu terletak di telaga merah yang tempatnya sangat jauh dari posisi Gisella sekarang ini.
"Telaga merah? Sepertinya aku pernah mendengar tentang telaga merah itu!" Ucap Byun memberi tahu Gisella.
"Kamu serius?" Kata Gisella yang sedikit tak percaya.
Byun pun memberi tahu Gisella kalau dia dulu pernah mengantarkan sahabatnya untuk ke telaga itu, namun Byun tidak tahu sahabatnya ke sana untuk melakukan apa. Ya dia bernama Kris.
"Kris? Apa dia orang yang sama yang sudah membunuh adik kamu?" Tanya Gisella.
"Iya, dia orangnya!" Ucap Byun.
__ADS_1
"Tapi untuk apa dia ke sana?" Tanya Gisella penasaran.