Kamar 126

Kamar 126
Alam bawah sadar


__ADS_3

"Apa yang harus gue katakan sama Gisella?" Chan tampak sangat frustasi sambil memegang kepalanya.


"Chan, lo harus tetap tenang! Kita pasti bisa menemukan Dira!" Kata Nathan yang mencoba meyakinkan Chan.


"Bagaimana kalau kita suruh Gisella untuk melakukannya?!" Tanya Nadia.


Chan tampak mengernyitkan dahinya saat ini, sambil menatap Nadia dengan tatapan penuh pertanyaan. Meski sekarang para anak-anak memilih untuk berada di dalam kamar Dira. Mereka tentu tidak ingin kalau anak-anak sampai tahu tentang kebenaran kalau Gisella memiliki indra keenam yang terbuka. Belum lagi Gisella juga pasti tak akan mau menceritakan tentang calon anak pertamanya yang tiada karena sosok iblis jahanam.


"Apa maksud lo, gue harus nyuruh Gisella melakukan astral projection?!" Tanya Chan sambil menatap nanar ke arah Nadia, "Apa lo pikir Dira udah mati sampai lo mikir kayak gitu?!" Ucap Chan sedikit kesal.


"Gue tahu Chan! Gue cuma menyarankan kalau Gisella pasti bisa melihat apa yang terjadi saat Dira masih ada di sini!" Kata Nadia mencoba meyakinkan Chan lagi.


"Apa yang di katakan Nadia benar, Chan! Nggak ada salahnya untuk menyuruh Gisella melakukan itu!" Kata Byun yang menyetujui apa kata Nadia.


"Tapi bahkan Gisella sudah berjanji kalau dirinya tidak akan melakukan hal yang menyangkut makhluk tak kasat mata!" Ucap Chan sambil mengusap kepalanya kasar.


"Chan, lo harus bicara empat mata sama Gisella! Lo harus bisa yakinkan dia! Ini semua demi kebaikan Dira!" Ucap Byun sambil menepuk pundak Chan yang terlihat sangat putus asa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, Dila yang terlihat duduk di kursi yang sengaja dia tempatkan di dekat jendela kamar Dira. Dia termenung menatap kosong ke arah halaman, sambil terus berpikir kemana sebenarnya saudara kembarnya pergi.


Matanya sembab karena seharian ini terus menangis, karena tidak kunjung menemukan keberadaan saudara kembarnya. Bahkan matanya kini tak mampu lagi menetes, kesedihan masih menyelimuti dirinya yang memang sosok paling berani dari gadis seumurannya, namun kini terlihat lemah saat tau kalau saudara hilang.

__ADS_1


Tak hanya Dira, Axel saat ini juga tengah terpuruk karena hilangnya Dira yang tak kunjung di temukan. Axel merasa separuh nyawanya pergi, tidak bisa di pungkiri kalau sebenarnya Axel diam-diam menyimpan rasa pada Dira. Namun belum sempat mengutarakan perasaannya, kenapa Dira tiba-tiba menghilang?


Axel terus berpikir dirinya tidak berguna karena tidak bisa menjaga Dira dengan baik.


Di sana juga ada Victor, Bryandan Alisya yang duduk di tepian ranjang kamar Dira. Mereka bahkan menyesali apa yang sudah mereka lakukan pada Dira. Meskipun hanya masalah kecil yang terakhir kali yang terjadi di antara mereka, namun itu membuat rasa bersalah mereka seakan tak bisa di maafkan.


"Gue bahkan belum sempat ketemu sama Dira setelah kejadian kemarin!" Kata Alisya sambil menutup kedua matanya. Tak jauh berbeda dengan Dira, Alisya juga menangis sedari tadi saat mendapat informasi kalau Dira tidak di temukan meskipun sudah di bantu 100 mafioso.


"Dira, sebenarnya lo ada di mana?!" Batin Bryan sambil melamun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jauh di tempat yang berbeda, Gisella yang tak kunjung sadar dari pingsannya pun. Ternyata berkelana di alam bawah sadarnya sendiri.


"Mama tolong, Dira ma!" Suara samar-samar dari Dira terdengar di salam satu ruangan yang membuat Gisella langsung berlari ke arah ruangan itu. Tidak ada kunci apapun, dan dengan mudah Gisella membukanya.


Deg,,,


Saat masuk ke dalam Gisella melihat anaknya itu tengah berada di sebuah ruangan kosong dengan 2 algojo di sisi kiri dan kanan Dira. Tampak 2 algojo itu memakai jubah hitam dan juga topeng yang menutupi bagian wajah mereka, sehingga Gisella tidak bisa mengenali siapa sosok di balik jubah hitam itu.


"Mama tolong Dira!" Dira menangis sambil berteriak meminta tolong pada mamanya yang kini ada di ambang pintu.


"Dira sayang!" Wajah Memelas Gisella menatap anaknya dengan penuh kekhawatiran, lalu seketika Gisella menoleh ke arah 2 algojo itu. Mata Gisella menatapnya dengan tajam, "Kalian! Lepaskan putriku!!!" Teriak Gisella. Namun algojo itu seakan tak menggubris apa yang di katakan oleh Gisella. Lalu mengambil sebuah pedang panjang yang ada di dekatnya. Dengan perlahan salah satu algojo itu mengambil lalu menghunuskan nya pada kepala Dira.

__ADS_1


Srakkkkkk,,,


"TIDAKKKK!!!!" Teriak Gisella yang tiba-tiba terbangun dari pingsannya. Alam bawah sadarnya tadi cukup membuatnya kehabisan nafas hingga dirinya tampak seperti habis berlari maraton. Keringan dingin mengucur di tubuhnya membayangkan apa yang baru saja terjadi di alam bawah sadarnya tadi.


Semua orang yang ada di kamar Gisella tampak terkejut melihat Gisella yang tiba-tiba berteriak. Di sisi lain mereka juga merasa senang melihat Gisella yang akhirnya sadar dari pingsannya. Bukan hanya Jeni dan Lisa saja yang ada di sana, namun para anak-anak yang memang sengaja tidak diperbolehkan ke sana pun, ada di kamar Gisella.


"Gisella!!" Ujar Lisa yang khawatir melihat Gisella tiba-tiba bangun dengan nafas yang terengah-engah.


"Syukurlah kamu sudah sadar!" Jeni mengusap dadanya lalu setelahnya memberikan minum untuk Gisella.


Semua anak-anak hanya terdiam membeku melihat itu, namun mereka merasa lega karena Mama Gisella sudah sadar dari pingsannya. Mereka semua memilih diam karena tak mau membuat Gisella merasakan khawatir, yang teramat sangat.


"Dira!!Dira kamu di mana!" Gisella tiba-tiba histeris setelah meminum air putih yang di berikan oleh Jeni tadi. Gisella tersadar kalau Dira masih belum ada di dekatnya. Itu menandakan kalau dirinya belum di temukan.


"Gisella, tenangkan dirimu! Dira masih dalam tahap pencarian!," Lisa mencoba menenangkan Gisella. Namun apalah daya Lisa, seakan dirinya tak mampu menenangkan Gisella, karena bagaimana pun Gisella sudah pernah kehilangan satu calon anak. Bagaimana dia bisa tenang?


"Aku memiliki firasat buruk tentang Dira, Lis!! Aku harus ke desa Loka sekarang! Dira sangat membutuhkan aku!" Ujar Gisella dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Iya Gisella, kamu boleh ke sana! Tapi tolong dengarkan aku, kamu harus menenangkan diri kamu terlebih dulu! Anakku Lucas dan juga anakmu Alfin akan mengantar kamu ke sana!" Jeni mencoba membuat Gisella merasa lebih tenang, lalu setelahnya dirinya langsung turun dari ranjang dan bergegas mengajak Alfin dan Lucas untuk segera berangkat menuju ke desa Loka.


Mereka yang ada di mansion hanya bisa menatap kepergian mobil Lucas yang membawa Gisella menuju ke desa Loka. Mereka yang juga merasa khawatir hanya bisa berdiam diri sambil menunggu kabar dari mereka yang ada di desa Loka.


Di perjalanan menuju desa Loka, Gisella tidak henti-hentinya menangis. Alfin kini berada di jok belakang bersama dengan Gisella dan memeluk mamanya dengan hangat.

__ADS_1


__ADS_2