
Sebenarnya Windy adalah gadis dingin. Dirinya sangat pendiam, entah sebab apa. Tidak ada yang mau berteman dengan dirinya. Lalu kenapa Viola mau berteman dengannya? Tentu saja dengan uang.
Lalu kenapa bisa Windy tidak mendapatkan teman?
Itu karena dia yang di kelilingi oleh kabut hitam yang penuh dengan dendam, dari sosok Klara. Klara bahkan membuat semua teman-temannya menjauhi dirinya.
Flashback off
"Jadi apa yang anda mau? Tapi sebelumnya kalau untuk berbuat hal yang buruk aku tidak akan menolong mu! Lakukanlah sendiri!" Kata Mark memberi tahu akan penolakan yang mungkin saja terjadi. Karena Mark sejatinya ingin menolong makhluk tak kasat mata yang menang ingin kembali ke alam mereka dan hidup tenang. Bukannya malah ingin ikut membalaskan dendam seperti itu.
"Apa kau tidak ingin membantuku? Setelah kau tahu apa yang terjadi di masalalu nak?!" Ucap sosok itu dengan datar.
"Di siksa, di perkos*, di bunuh dan bahkan di jadian sebuah manekin! Apa itu masih kurang untuk menunjukkan alasan aku memiliki dendam padanya? Apa kau tidak memiliki belas kasihan padaku dan calon anakku?!" Ucap Klara dengan wajah sendunya menatap ke arah Mark.
Mark sendiri sebenarnya tidak tega, dirinya sangat marah dan ingin sekali pelaku itu mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang sudah dia perbuat. Akan tetapi, Mark tidak bisa melakukan apapun.
"Selama ini bukan aku yang sengaja mengikuti anaknya, tapi itu semata-mata aku lakukan karena arwahku yang tak di kuburkan dengan layak, ku mohon tolong aku! Aku ingin namaku di bersihkan dan memberikan pelajaran untuk Ana!" Pinta Klara dengan wajah memelas nya. Siapa yang tega jika mengetahui kebenaran yang menyakitkan tentang masalalu milik Klara itu.
"Akan aku pikirkan! Tapi sebaiknya kau jangan mendekatiku, atau kau akan merasakan sakit!" Mark memberitahu Klara untuk tidak mendekatinya. Dirinya tidak mau Klara menghilang sia-sia dan menjadi abu, hanya karena dekat dengan Mark yang memakai kalung air suci.
Setelah itu Mark bergegas menuju kantin untuk bersama para saudaranya yang masih ada di sana.
Mark menghela nafas, "Gue ada misi! Apa kalian mau ikut?!" Tanya Mark.
Zaki dan Adam yang tidak tahu pun mengernyitkan dahinya bingung, "Misi apaan kak?" Tanya Zaki penasaran dan Adam hanya diam karena sudah terwakilkan dengan ucapan dari Zaki tadi.
"Misi tentang mereka yang tak kasat mata!" Kata Mark menjawab.
"Kayaknya menarik, tapi sayangnya gue nggak bisa ikut, karena gue sama Jungkook 1 minggu ini bakal sibuk pemotretan!" Jelas Adam yang menyayangkan kalau dirinya tak bisa ikut menjalankan misi yang di katakan oleh kak Mark itu.
"Kalian bagaimana?!" Tanya Mark pada Alfin dan Lucas.
Sejenak Alfin dan Lucas saling berpandangan lalu, "Apa lagi? Jelas kita akan ikut bersama dengan lo kak!" Jawab Alfin.
"Gue juga akan ikut, untuk menjadi benteng pertahanan!" Ujar Lucas dengan sombongnya.
Adam menaikkan satu alisnya ke atas, "Emangnya lo bisa lihat hantu? Mau jadi benteng gimana?!" Tanya Adam penasaran, karena yang dia tahu Lucas tak bisa melihat mereka yang tak kasat mata.
"Buka benteng buat makhluk tak kasat mata, tapi buat bentengi dari orang-orang yang tak bertanggung jawab, dan pastinya akan ada yang sedikit berbahaya untuk keselamatan kita, jadi gue memilih buat ikut untuk menjaga saudara gue!" Jelas Lucas panjang lebar.
Adam yang mendengarnya hanya menjawabnya dengan anggukan. Dia paham dengan apa yang di jelaskan oleh Lucas tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pov Gisella
Di malam yang terasa dingin itu. Aku bersama dengan Chan baru akan merencanakan aktifitas yang akan kami lakukan malam itu. Kalian tahu bukan? Ya apa lagi yang di lakukan sepasang suami istri pada malam yang terasa dingin, dengan cuaca yang mendung mereka untuk melakukan aktivitas r*njang tentunya.
Tapi saat Chan hendak naik ke atas ranjang, kami mendengar suara ketukan pintu. Lalu aku menyuruh suamiku itu untuk mengecek dan mencari tahu siapa yang mengganggu malam kami itu.
__ADS_1
Setelah membuka pintu aku bahkan tidak tahu Chan sedang menemui siapa di depan pintu kamar kami saat itu. Aku memilih diam di kamar sambil menyalakan televisi, sembari menunggu Chan kembali.
Lalu hanya selang menit kemudian, Chan tampak kembali dari arah pintu. Aku bertanya padanya tentang siapa yang tadi datang dan mengetuk pintu kamar kami. Chan memberi tahu aku kalau kedua anakku yang telah datang tadi, Alfian dan juga Mark. Chan juga mengatakan kalau mereka ingin menemui aku.
Aku penasaran kenapa mereka ingin menemui aku di saat seperti ini?
Lalu aku meminta ijin pada suamiku, Chan. Untuk menemui kedua anakku itu terlebih dahulu, aku begitu penasaran dengan apa yang menjadi tujuan mereka sampai mau datang ke kamar kami.
Ku lihat wajah Chan memelas karena aku akan meninggalkannya sebentar, "Chan jangan seperti itu! Aku hanya akan menemui anak kita! Kau juga sudah menyuruhnya untuk menunggu bukan? Kasihan mereka pasti udah nungguin aku!" Kataku mencoba membujuk Chan yang mulutnya mengerucut karena kesal.
Chan menghela nafasnya, "Baiklah, segeralah kembali, aku akan menunggu kamu!" Ucap Chan lalu mencium keningku. Dan setelahnya aku langsung mengganti pakaian untuk segera pergi ke kamar anak-anakku, karena aku tidak mungkin ke kamar mereka dengan menggunakan pakaian menggodaku.
Aku berjalan menuju ke kamar Mark, karena Chan telah memberi tahu aku, kalau Alfian juga sudah berada di sana menungguku bersama dengan Mark.
Setelah masuk ke dalam kamar anak sulungku itu, aku segera menanyakan apa yang akan mereka tanyakan padaku sampai-sampai mereka datang ke kamarku dan Chan.
Anakku Mark mulai mengatakan dan menceritakan tentang buku kuno yang di temukan di perpustakaan kampus. Dia menanyakan perihal penangkal iblis yang paling ampuh. Bahkan aku sendiri sebenarnya dulu sudah pernah mencarinya. Akan tetapi aku tidak menemukan sebuah informasi tentang apa yang menjadi penangkal iblis yang terkuat. Bahkan buku turun temurun milikku itu pun tak mengatakan tentang penangkal ke tiga. Hanya saja buku turun temurun ku kala itu memberi tahukan kalau ada 3 penangkal iblis, yaitu air suci, bunga anggrek hitam dan yang terakhir tak di katakan tentang itu. Entah kenapa buku itu kosong. Tak ada tulisannya di halaman selanjutnya yang membuatku penasaran.
Akan tetapi setelah Mark memberi tahuku petunjuk tentang penangkal iblis yang aku cari-cari itu. Aku merasa lega karena akhirnya aku akan mengetahuinya. Namun sayangnya aku harus menerjemahkan tulisan aksara jawa itu. Aku bahkan tak mengerti mengenai aksara jawa. Tapi aku yakin pasti penangkal itu ada di daerah jawa. Bukan apa-apa, aku memang percaya kalau daerah jawa memang terkenal akan kentalnya dengan hal berbau mistis.
Hari itu saat anak-anak sekolah dan pergi ke kampus, aku memutuskan untuk mencari tahu terjemahan akan aksara jawa itu. Satu persatu aku telah menerjemahkannya. Dan aku sudah tahu apa jawabannya. Aku merasa lega telah mengetahui tentang itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, Dila dan Axel masih tampak terdiam sedikit canggung. Namun mereka masih mencoba membiasakan diri setelah Axel menghindar dari Dila beberapa hari ini.
"Syuttttt!" Mengarahkan jari telunjuknya ke bibir Axel , "Jangan katakan apa-apa lagi, gue udah bahagia lihat lo bisa deket lagi kayak gini ke gue!" Ucap Dila yang tak ingin mendengar Axel mengucapkan kata penyesalan seperti itu.
"Dila, apa gue boleh tanya sesuatu sama lo?!" Ucap Axel membuka suara.
Dila menyandarkan kepalanya pada pundak Axel , "Katakan saja Axel !" Pinta Dila.
"Dila, apa lo benar-benar sangat sakit saat pergi sama gue? Gue merasa sangat bersalah apalagi, gue sendiri tahu kalau lo nggak pernah sakit dari kecil, Dil! Tapi kenapa setelah lo keluar sama gue lo malah sakit?" Menarik nafas di sela ucapannya, "Gue bahkan sempat berpikir, apakah hanya dengan saling mencium pipi, lo bisa sakit!" Ucap Axel yang malah terlihat polos di depan Dila.
Tanpa menjawab ucapan dari Axel tadi, seketika Dila yang menyandarkan kepalanya tadi langsung beralih memandang instens wajah Axel.
"Gue sakit bukan karena itu Axel! Mungkin karena udara malam itu begitu dingin, dan tanpa sengaja gue sakit! Lagi pula bukankah hal yang wajar kalau setiap manusia mengalami demam?!" Tanya Dila mencoba membuat Axel berhenti menyalahkan dirinya terus menerus, tentang apa yang terjadi pada Dila.
Axel terdiam mendengar ucapan Dila lagi. Jarak antara mereka sangatlah dekat. Axel menatap mata Dila dengan lekat begitu pula sebaliknya dengan Dila. Lalu entah dorongan dari mana mereka saling mendekatkan wajahnya dan perlahan Dila menutup matanya. Seakan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Axel juga ikut menutup matanya. Mulut mereka yang hanya berjarak beberapa cm saja itu membuat keduanya terlonjak kaget saat mendengar suara langkah kaki menuju ke UKS.
Kedua gelagapan, dan salah tingkah sendiri di buatnya. Hati mereka berdegup bahkan belum sempat berciuman pun keduanya sudah merasakan gejolak yang sangat menuntut untuk di tuntaskan.
Selang beberapa detik kemudian,
Ceklekk,,,
Pintu UKS terbuka, dan menampilkan Alisya, Victor dan Bryan yang datang menghampiri keduanya yang tengah berada di UKS itu.
"Kalian?!" Ucap Dila saat melihat para saudaranya itu masuk ke dalam UKS.
__ADS_1
"Dil, lo udah baikan? Gimana kepala lo? Apa perlu panggil dokter?!" Tanya Jaemin khawatir.
Dila tersenyum ,"Gue nggak apa-apa kok! Sungguh! Gue baik-baik aja! Kalian nggak usah khawatir! Lagian gue udah di jaga sama Axel tadi!" Ucap Dila memberi tahu.
"Iya nih lo terlalu berlebihan tahu nggak, lagian cuma kena bola basket bukan kena peluru! Jadi nggak perlu pakai acara dokter segala!" Ucap Victor menatap Bryan sedikit geram.
"Ya siapa tahu Dila mengalami amnesia habis hilang ketimpuk sama bola basket tadi?!" Ucap Bryan yang malah memulai perdebatan di antara keduanya yang tak ada yang mau mengalah.
Dila menghela nafasnya jengah, "Udah-udah, lo pada nyumpahin gue buat amnesia sama tertembak peluru gitu!" Dila tampak geram menatap keduanya yang malah berdebat itu. Membuat kepalanya pusing lagi karena melihat tingkah kedua saudara kembarnya itu yang sering sekali berdebat, hanya karena masalah sepele.
Singkat cerita mereka semua para anak-anak pulang ke mansion besar. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Kedatangan para anak-anak yang di kampus sudah lebih dulu pulang. Karena memang jam kuliah tidak selama saat di sekolah, apalagi sekolah mengadakan kelas tambahan yang membuat mereka pulang sedikit sore.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mark hari itu tampak mendatangi kamar adik bungsunya untuk mengajaknya menjalankan misi baru. Yaitu unrui menolong arwah Klara yang jasadnya masih menjadi pajangan di sebuah museum pameran milik Ana.
Ceklekk,,,
Mark masuk tanpa permisi, dan Alfian sudah tahu kedatangan kakaknya itu karena saat itu Alfian habis membersihkan dirinya.
"Kak? Ada apaan?!" Tanya Alfian yang melihat Mark langsung menyalakan televisi di kamar itu sambil menunggu Alfian memakai kaos. Memang Alfian telanjang dada setelah keluar dari kamar mandi dan akan mengenakan kaos sehari-hari seperti biasa.
Mark tak menoleh, dirinya langsung mengatakan tujuannya datang ke kamar adik bungsunya itu, "Gue ada misi, tapi gue sendiri belum tahu gimana cara ngelajuinnya! Gue butuh ide!" Ucap Mark.
"Memangnya ada apa? Apa hantu yang lo temui ada masalah besar sampai lo nggak bisa mikirin gimana cara ngatasinya kak?!" Tanya Alfian penasaran, karena setahu dirinya. Kakaknya itu selalu memiliki seribu satu cara untuk menolong makhluk tak kasat mata.
Mark menarik nafas sebelum mengatakannya "Masalahnya raganya ada di sebuah museum pameran! Gimana cara kita menolongnya?!" Ucap Mark sembari tidur terlentang dan menatap langit-langit kamar Alfian kemudian dia tampak berpikir.
Berbeda dengan Alfian yang tampak bingung, dia menaikkan satu alisnya ke atas lalu bertanya, "Museum pameran? Raga? Maksud lo gimana sih kak? Gue nggak paham!" Tanya Alfian penasaran yang memang dia tak mengerti dengan kode yang di berikan oleh kakaknya itu.
"Gue ketemu sama sosok arwah bernama Klara, mungkin usianya sama seperti mama! Dia mati di bunuh dan raganya di jadikan sebuah manekin, yang di letakkan di sebuah museum pameran!" Jelas Mark singkat, padat dan jelas.
Mark membulatkan matanya setelah mendengarnya. Bagaimana tidak? Kenapa bisa ada manusia kejam seperti itu yang membuat manekin dari raga manusia sungguhan? Bukankah itu melanggar sebuah aturan. Tidak! Bukan lagi melanggar, tapi itu sudah perbuatan yang tak dapat di maafkan. Bahkan si pelaku tidak hanya akan mendapat balasan di dunia melainkan di akhirat juga.
"Apa kita ke sana saja?!" Tanya Alfian.
"Kemana?"
"Ke museum pameran itu, untuk memastikan kebenarannya, dengan begitu baru kita temui pemiliknya!" Ucap Alfian ide yang dia miliki.
"Tunggu dulu, kita tidak boleh gegabah menghadapi orang ini! Mungkin dia sangat berbahaya, kita tidak tahu seperti apa sifatnya! Hanya saja dengan menjadikan manusia sebagai manekin, bukankah itu cukup membuat siapa saja yang tahu pasti akan menyebutnya sebagai iblis dari kalangan manusia!" Ucap Mark lalu setelahnya terduduk sembari memikirkan sebuah rencana.
"Kalau gue pikir-pikir, emang nggak ada cara lain lagi selain datang ke museum dan bertanya langsung pada pemiliknya!" Ucap Mark memberi tahu.
Alfian mengernyit heran, "Tapi bukankah kalau begitu, sama saja kita menemui Ana itu? Dia nggak mungkin mengaku kak!" Jelas Alfian dengan pendapatnya.
"Kalau gitu, kita ke sana besok saja! Gue nggak mau terlalu terburu-buru!" Ucap Mark setelahnya.
Alfian mengangguk paham, "Oh iya kak, bagaimana dengan mama? Apa lo udah di kasih tahu jawabannya?!" Tanya Alfian yang mengingatkan Mark tentang sebuah buku kuno yang kini di pegang oleh mama Gisella.
__ADS_1