
Tanpa di tarik tangannya pun Nathan langsung berlari menyusul istrinya, dan tak lupa dirinya juga pamit terhadap semua teman-temannya yang masih berada di restauran itu.
"Gisella, apa yang tadi dikatakan oleh Nadia nggak usah di masukin hati ya! mungkin kamu memang benar benar,, tapi kita juga tidak bisa memaksa Nadia?!" ujar Jeni yang mencoba memberi tahu Gisella supaya dirinya tidak terlalu memikirkan ucapan Nadia tadi.
Gisella menghela nafasnya lalu berkata,,,," Mungkin akunya aja yang terlalu over dalam memikirkan hal ini?!" ucap Gisella.
"Iya, Sel!! ingatlah kalau kita ke sini untuk liburan, bukan untuk memecahkan sebuah kasus!" ujar Lisa yang sama pemikiran dengan Nadia.
"Kalau begitu aku minta maaf ya sama kalian semua, maaf karena udah bikin kalian jadi khawatir dan nggak nyaman sama ucapan ku??!" ucap Gisella yang menyesali apa yang dia katakan pada mereka tadi.
"Tapi,,,,," ucap Chan terpotong karena Gisella langsung memegang tangannya.
"Sudah, Chan! aku nggak apa-apa kok!" ujar Gisella.
Setelah makan siang di restoran itu, mereka memutuskan untuk jalan-jalan. Ke 3 pasangan itu menghabiskan waktu untuk melihat seisi Jepang.
Namun berbeda dengan Nadia dan juga Nathan yang memilih kembali ke mansion karena Nadia yang sedikit kesal pada Gisella.
Pov Nathan dan Nadia,,,
Di mansion,,,
"Sayang kamu kenapa sih?!" tanya Nathan pada Nadia.
"Aku kesal sama Gisella!" ujar Nadia yang terlihat masih kesal pada Gisella.
"Kenapa dia masih memikirkan hal seperti itu di saat kita sedang liburan sepertinya?! apa nggak ada hal lain yang lebih menyenangkan untuk di bahas?!" ujar Jiso lagi.
"Sayang, maksud Gisella nggak gitu! dia tadi cuma menyampaikan itu ke kita supaya kita lebih berhati-hati!" ujar Nathan menjelaskan pada Nadia supaya tidak terjadi kesalahpahaman diantara Gisella dan juga Nadia.
"Kau membela dia di bandingkan aku?" ujar Nadia yang malah justru terpancing emosi, karena suaminya malah membela wanita lain dibandingkan dengan dirinya.
"Haish, bukan membelanya, cuma membenarkan sayang!" ucap Nathan.
"Sini!" Ucap Nathan yang menyuruh Nadia untuk bersandar pada bahu Nathan.
Nadia pun luluh dan memutuskan untuk bersandar di bahu Nathan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pov Gisella dan Chan
"Chan, bagaimana kalau kita selidiki berdua saja? Aku takut kalau sampai Jiso marah lagi sama aku! Aku cuma pengen buktiin ke dia kalau ada yang nggak beres sama mansion nya!!" Ucap Gisella yang meminta Chan untuk membantunya menyelidiki tentang mansion itu.
"Apapun kemauan kamu, aku akan menurutinya sayang, asalkan jangan sampai kamu membahayakan diri kamu sendiri!" Ujar Chan memperingatkan Gisella.
__ADS_1
"Terima kasih, Chan!" Ucap Gisella yang kemudian memeluk hangat Chan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pov Lisa dan Alex.
"Sayang, kamu mau apa?" Tanya Alex menawarkan pada Lisa.
"Emt aku mau es krim rasa vanila!" Pinta Lisa.
"Baiklah, kamu tunggu di sini! Aku akan membelikannya untukmu!" Ucap Alex yang menyuruh Lisa untuk menunggu dirinya yang sedang membelikan es krim di sebuah toko.
Tak lama kemudian, Alex kembali dengan es krim vanila di tangannya dan memberikannya pada Lisa.
"Sayang, ini es krimnya!" Ucap Alex sembari menyodorkan es krim vanila pada Lisa.
"Makasih sayang!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pov Jeni dan Leon
Jeni dan juga Leon duduk di sebuah kursi taman dan terlihat sedang berbicara.
"Sayang, menurut kamu, apa yang dikatakan Gisella itu benar?" Tanya Jeni yang sebenarnya merasa ragu akan ucapannya sendiri.
"Jadi kita harus bantu Gisella?" Tanya Jeni.
"Begini saja, selama kita tidak di ganggu oleh mereka, kita biarkan saja Gisella menyelidikinya bersama dengan Chan! Kalau Gisella dan juga Chan membutuhkan bantuan kita, kita tinggal bantu mereka sebisa kita!" Saran Leon.
"Baiklah!" Jawab Jeni singkat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain Nadia bersama dengan Nathan berada di mansion dan sedang membuat kue.
"Aaaa!!" Teriak Nadia pelan.
"Sayang, ada apa?" Tanya Nathan khawatir.
"Lihatlah itu!" Ucap Nadia sembari menunjuk ke arah sesuatu, "Kenapa bisa ada bercak darah di sana?" Tanya Nadia yang langsung memeluk lengan Nathan.
Nathan langsung mengecek bercak tersebut untuk memastikan.
"Sayang, ini bukan bercak darah!" Ucap Nathan yang sudah memastikan kalau itu bukanlah bercak darah.
__ADS_1
"Lalu?"
"Ini hanya bercak saus tomat yang mengering!" Ujar Nathan memberi tahu istrinya.
"Tapi kenapa bisa ada di situ?" Tanya Nadia yang masih merasa sedikit takut.
"Ya mungkin ada yang menjatuhkan saus tomat di situ!" Ujar Nathan.
"Tapi siapa?" Tanya Nadia lagi.
"Haish, sudahlah! Ini bukan masalah besar!" Ujar Nathan menenangkan Nadia.
Nadia lalu melepaskan pelukannya dari lengan Nathan.
"Sudah ya sekarang kita lanjut bikin kuenya!" Ajak Nathan lagi untuk melanjutkan membuat kue.
Nadia sendiri membuat kue sebagai tanda permintaan maafnya kepada Gisella, karena ucapannya tadi saat makan siang di restauran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya ke 3 pasangan yang sedang jalan-jalan tadi pun pulang ke mansion. Sedangkan Nadia bersama dengan Nathan menyambut kedatangan mereka dengan beberapa kue yang tadi mereka buat.
"Astaga, kenapa banyak sekali kuenya?" Tanya Jeni terkejut melihat banyaknya kue di meja.
"Aku sengaja bikin ini!" Ucap Nadia.
"Memangnya diantara kita ada yang ulang tahun?" Tanya Lisa.
"Nggak ada kok, tapi aku sengaja bikin ini sebagai ucapan maaf aku sama Gisella karena ucapan ku tadi siang!" Ujar Nadia yang melihat ke arah Gisella.
Gisella tersenyum mendengar ucapan Nadia. Lalu kemudian Nadia berjalan mendekat ke arah Gisella berdiri.
"Gisella, aku minta maaf ya soal ucapan aku tadi siang! Aku sama sekali nggak bermaksud buat ngusir kamu dan juga nggak percaya sama kamu! Aku cuma mau kita menikmati liburan dengan ketenangan tanpa gangguan dari mereka makhluk tak kasat mata!" Ucap Nadia menjelaskan pada Gisella.
"Iya, Jis! Aku paham kok, udah nggak apa-apa! mungkin akunya aja yang terlalu over mikirnya! Jadi kesannya malah bikin kalian nggak nyaman!" Jawab Gisella.
"Sudah-sudah jangan bicara terus, kasihan tuh kue malah di anggurin!" Ujar Nathan menengahi pembicaraan mereka.
"Nah bener tuh kata Nathan!" Ujar Jeni yang kemudian langsung mengambil kue yang paling besar.
"Sayang, makan ini yuk!" Ajak Jeni pada suaminya.
"Jen, kamu yakin mau makan kue sebesar itu sendiri?" Tanya Lisa yang nggak percaya kalau Jeni akan menghabiskan kue itu sendiri.
"Ya nggak lah, Lis! Aku mau makan sama suami aku! Iya kan sayang?" Ucap Jeni pada suaminya. Sedangkan Leon hanya menjawab Jeni dengan anggukan dan senyuman.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya makan kue dan menghabiskan waktu bersama di malam itu.
Setelah lelah bersenang-senang, mereka pun pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.