
"Cepat keluar sebelum dia dan tempat ini lenyap!!" Perintah peri.
Gisella dan Chan mengangguk lalu berlari ke arah portal untuk kembali ke dunia mereka dengan selamat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Axel dan Mark yang telah lebih dulu kembali pun membuat mereka bernafas lega, karena Axel telah kembali dengan kondisi yang sama seperti Dila sebelumnya.
Kini mereka menunggu kesadaran dari Chan, Gisella dan juga Alfian yang tengah menjaga portal astral projection.
Hingga akhirnya setelah menunggu lebih dari setengah jam Gisella dan Chan membuka matanya perlahan, beserta Alfian juga.
Hal itu sontak membuat Mark terkejut, dia takut kalau sampai yang kembali bukanlah mama Gisella dan papa Chan. Namun Mark menghela nafas lega karena melihat mama Gisella yang langsung memeluk papa Chan.
"Semuanya sudah berakhir!" Ucap mama Gisella setelah memeluk Chan dengan mata yang berkaca-kaca.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 19.00 mereka telah kembali ke mansion utama secara bersamaan. Membuat anak-anak kesal karena telah lama menunggu untuk makan malam.
Mereka membersihkan diri dulu lalu melakukan acara makan malam bersama di meja makan. Seperti biasa acara makan malam itu tidak ada yang bersuara dan semuanya hening. Hingga akhirnya acara makan malam itu selesai dan semua orang berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan semuanya pada anak-anak, tentang apa yang telah terjadi.
Semua anak-anak mendengarnya dengan khidmat mengenai itu semua.
Chan kini telah menyadari kalau yang dia temui di alam lain tadi bukanlah Dira, melainkan sosok peri tadi yang menyamar menjadi anaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dila dan Mark tengah duduk di tepi kolam renang dengan memasukkan kakinya pada kolam.
__ADS_1
"Kak, maafkan aku!" Ucap Dila lirih sambil menunduk.
Mark menoleh ke arah Dila, "Ini bukan salah kamu! Semuanya karena kamu tidak tahu dan dipengaruhi oleh iblis itu! Jangan sedih lagi oke, semuanya sudah berakhir!" Kata Mark dengan tersenyum membuat Dila yang mendengar itu mendongak dan menatap Mark yang sedang tersenyum ke arahnya. Dan tentu saja Dila juga jadi ikutan tersenyum melihat itu.
"Terima kasih kak!" kata Dila.
Axel yang melihat mereka berdua dari kejauhan pun ,perlahan berjalan menuju mereka dan duduk di samping sisi Dila yang lain. Tentunya Mark biasa saja melihat itu, dia tidak ingin terlalu menunjukkan rasa kecemburuannya pada Mark. Karena Mark kini tahu kalau Axel memang belum bisa melupakan Dira, itu sebabnya dia juga ikut terpengaruh dengan iblis itu. Mark sudah mewajari apa yang telah Dila dan Axel lakukan.
"Maafkan gue kak!" Kata Axel, yang membuat Mark mengernyitkan dahinya, "Gue juga minta maaf sama lo Dila! Maaf karena gue udah di buta kan oleh cinta sampai gue berpikiran kalau lo itu Dira!!" Ucap Axel menyadari kesalahannya. Namun itu tak membuat Dila membencinya, dirinya memaklumi itu karena wajahnya yang sangat mirip dengan Dira.
Dila lalu merangkul pundak Axel dan Mark, "Sudah, kita ini saudara! Aku sudah menganggap kamu sebagai saudara kandungku sendiri!" Ucap Dila pada Axel, "Dan aku sudah menganggap kakak, sebagai pacar aku!" Ucap Dila menatap ke arah Mark.
Deg,,,
"Kalian udah jadian?!😳😳" Ucap Axel terkejut.
"Syutttt!! Jangan keras-keras Axel, nanti kalau mama dengar gue bisa di marahin, lo kan tahu kalau kita bentar lagi ada ujian kelulusan! Mama nggak ngebolehin gue buat pacaran!😫" Ucap Dila yang membuat Mark dan Axel terkekeh.
"Jangan kayak gitu dong, nanti cantiknya ilang!" Goda Mark pada Dila yang membuat Dila tersipu malu.
"Haish, dasar bucin! Gue bilangin mama Gisella baru tahu rasa kalian!" Ucap Axel mengancam.
"Ish, apaan sih main ngancam lagi!!" Ucap Dila sambil mencipratkan air pada Axel . Axel langsung berdiri dan Dila mengejarnya.
"Nggak kena wle!!" Goda Axel dan Dila terus mengejarnya. Mark yang melihat itu tersenyum, dirinya lega karena sekarang tak lagi ada saingan cintanya.
Tanpa mereka sadar Gisella yang melihat dari kejauhan tersenyum melihat anak-anaknya yang tengah tersenyum bahagia itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Malam itu juga Windy diangkat anak oleh keluarga itu, sama seperti Mark dulu. Alfin senang karena bisa setiap hari melihat dan menjaga Windy dari dekat. Itu di lakukan karena Nadia yang mendengar cerita kelam Windy menjadi tersentuh dan tak tega melihat Windy yang sekarang hidup sebatang kara.
Saat tengah berada di ruang keluarga, Windy duduk bersama Alfin, ada Zaki juga di sana. Zaki jadi tersenyum canggung pada Windy karena pernah membuat cerita hoax pada Alfin dulu dengan mengatakan kalau Windy pernah mengejar Zaki dulu. Namun itu semua ternyata hanya bercanda saja dan Windy tidak marah karena itu. Alfin sendiri hanya menjitak kepala Zaki karena sudah membohongi dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Gisella dan Chan akan melakukan kegiatan mereka dan tentunya akan di bantu oleh keluarga yang lain juga. Anak-anak sudah berangkat ke kampus dan juga sekolah. Para orang tua membantu Gisella untuk menanam bambu kuning itu di segala penjuru mansion.
Setelah selesai, Gisella membacakan beberapa mantra. Hari itu tanpa di duga mereka kedatangan kakek dan nenek yang tak lain adalah kedua orang tua Gisella. Paman Felix juga datang di saat yang bersamaan, karena Gisella memintanya supaya membersihkan jiwa Dila dan Axel.
Sebenarnya paman Felix tidak mau kalau harus keluar dari pendopo nya, namun setelah mengetahui kejadian yang di alami oleh Gisella, paman Felix akhirnya mau pergi ke mansion utama bersama dengan bi Inem.
Ritual itu di lakukan pada sore hari setelah Axel dan Dila pulang dari sekolah. Hanya butuh waktu 1 jam saja dari masing-masing orang hingga ritual itu selesai. Paman Felix langsung pamit pulang di keesokan harinya setelah hari itu karena dia memang berjanji hanya 1 hari saja berada di sana. Paman Felix tak mau meninggalkan pendopo nya terlalu lama. Baginya meninggalkan pendopo sama dengan meninggalkan istrinya. Maka dari itu paman Felix ingin segera kembali ke pendopo nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
1 minggu kemudian, terlihat Gisella tengah berada dibalkon dengan memandang pemandangan yang menyejukkan matanya, halaman belakang mansion yang luas dan penuh dengan tanaman bunga yang membuatnya candu untuk selalu melihatnya.
Sampai tiba-tiba sebuah tangan melingkar pada perutnya, membuat dia nyaman di buatnya. Aroma maskulin yang menyeruak masuk di hidungnya membuat dia tahu siapa itu. Ya , itu adalah Chan.
"Chan, semuanya sudah benar-benar berakhir sekarang! Aku berharap kedepannya keluarga kita akan selalu seperti ini tanpa adanya gangguan dari mereka!" Kata Gisella sambil matanya masih tetap fokus pada halaman belakang.
"Kau benar sayang! Aku juga mengharapkan hal yang sama seperti dirimu saat ini! Semoga kelak cucu-cucu kita tak akan mengalami hal buruk seperti yang pernah kita alami!" Kata Chan sembari meletakkan kepalanya di pundak Gisella.
Menarik nafas dan menghelanya dengan panjang, "Aku merasa ujian cinta kita telah berakhir Chan!" Ucap Gisella, Chan langsung membalikkan badan Gisella. Kini mereka saling berpandangan. Tangan Gisella yang melingkar di leher Chan, sedangkan tangan kiri Chan merangkul pinggang Gisella lalu tangan yang lain menyentuh pipi Gisella dengan lembut.
"Ujian cinta kita memang sudah berakhir, tapi aktivitas ranjang kita akan bertambah!" Ucap Chan tersenyum jail lalu menarik tengkuk Gisella, mencium bibir ranum itu dan melum*tnya. Mentari pagi dan langit biru menjadi saksi cinta mereka yang tak dapat terpisahkan oleh apapun kecuali maut sendiri nanti yang akan memanggil.
TAMAT
__ADS_1
Pov author : Hay guys makasih ya yang udah dukung author sampai akhir cerita ini❤️tenang aja, author udah buat cerita yang batu loh!! Jangan lupa untuk mampir ke karya author yang lainnya ya❤️Love you all❤️❤️❤️